Sumber: JPNN.com

KUPANG, Kastra.co -Dalam rangka memperingati hari ulang tahub Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang ke-62 Minggu, 20 Desember 2020, Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi, atas nama Gubernur Provinsi NTT Viktor B. Lasikodat  menyampaikan pidato ulang tahun di Aula Fernandez Lantai 4 Kantor Gubernur NTT, Jumat (18/12).

Berikut isi lengkap pidato Gubernur NTT pada upacara peringatan HUT NTT ke-62: 

Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya mengajak kita semua memanjatkan puji dan syukur ke Hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena hanya atas kasih dan anugerah-Nya yang berlimpah, kita masih diberikan rahmat kehidupan dan kesehatan untuk merayakan Hari Ulang Tahun Provinsi Nusa Tenggara Timur yang ke-62 dalam suasana aman, damai dan penuh kekeluargaan. 

Atas nama pribadi dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, saya bersama Wakil Gubernur, Bapak Josef A. Nae Soi mengucapkan Selamat  Ulang Tahun Provinsi NTT yang ke-62 kepada seluruh lapisan masyarakat Nusa Tenggara Timur yang telah berjuang dengan perannya masing-masing dalam menjaga keberlangsungan eksistensi Provinsi NTT hingga saat ini. Semoga dalam semangat kebhinekaan dan kekeluargaan, masyarakat NTT semakin bersatu berkarya meningkatkan kesejahteraan. 

Khusus untuk masyarakat di Kabupaten Lembata dan sekitarnya yang terdampak bencana alam Letusan Gunung Ile Lewotolok, dari lubuk hati yang paling dalam, saya menyampaikan rasa keprihatinan yang mendalam dan berharap saudara-saudara dapat kuat menghadapinya dengan penuh ketabahan dan ketegaran. Di balik peristiwa ini kita semua disadarkan bahwa Tuhan berdaulat atas segala kejadian di dunia ini. 

Saya juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah dan masyarakat di 9 Kabupaten yang telah berhasil mensukseskan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara serentak. Suasana aman dan kondusif ini mencerminkan bahwa masyarakat NTT saat ini semakin beranjak dewasa dalam berdemokrasi dan bertanggung jawab menggunakan hak politiknya dengan mengindahkan protokol kesehatan. Apapun hasil pilkada, kita hormati sebagai wujud kehendak rakyat.

Pada kesempatan ini, perkenankan saya menyampaikan selamat menjalani minggu-minggu adven kepada segenap umat Kristiani, semoga di masa penantian ini kita benar-benar menyiapkan hati dan iman untuk menyambut Natal dengan sukacita.

Hari Ulang Tahun NTT di tahun 2020 ini kita rayakan dalam suasana yang tidak biasa karena dunia masih diliputi pandemi covid-19 yang mempersyaratkan sikap disiplin kita dalam menerapkan protokol kesehatan, yakni jaga jarak, cuci tangan dan pakai masker. Sepuluh bulan sudah kita bersama hadapi pandemi di daerah ini dan sampai saat ini belum ada yang dapat memprediksi kapan pandemi ini akan berakhir, meskipun Pemerintah sementara mempersiapkan vaksin di tahun 2021.

Sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, kebijakan penanganan covid 19 di Nusa Tenggara Timur tetap berpedoman pada kebijakan Pemerintah Pusat yang mengedepankan strategi “menjaga titik keseimbangan”, antara kebijakan pemulihan kesehatan dan pemulihan ekonomi berlangsung seiring sejalan. Prinsipnya adalah pertumbuhan ekonomi harus dijaga atau dipertahankan pada trend aman tertentu, sehingga dipastikan bahwa kebutuhan hidup masyarakat masih dapat tercukupi.



Penanganan covid 19 di NTT sampai dengan November 2020, walaupun kasusnya mengalami peningkatan namun masih terkontrol dengan baik. Berdasarkan data yang ada, covid 19 di Provinsi NTT per tanggal 17 Desember 2020 terdapat akumulasi pasien terkonfirmasi positif sebanyak 1.709 orang dengan total kesembuhan sebanyak 930 orang atau 54,42 persen, sedangkan pasien meninggal terkonfirmasi sebanyak 36 orang atau sebesar 2,11 persen.

Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota terus berupaya mengendalikan laju penyebaran covid 19, baik terhadap tindakan pencegahan, penyembuhan pasien terkonfirmasi positif maupun penanganan korban meninggal sesuai protokol kesehatan.

Khusus untuk tindakan preventif, Pemerintah Provinsi dan 22 Kabupaten/Kota bersama aparat TNI dan POLRI terus berupaya melakukan sosialisasi penerapan protokol kesehatan seperti penggunaan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak fisik apabila berada di fasilitas-fasilitas publik, maupun acara-acara yang melibatkan banyak orang.

Selain itu, Pemerintah juga mengampanyekan dan mengupayakan agar masyarakat selalu mengkonsumsi makanan yang bergizi tinggi seperti kelor yang mudah diperoleh di NTT, beristirahat yang cukup, berolahraga yang teratur dan selalu berpikir positif agar dapat meningkatkan imun tubuh. 

Saat ini dukungan Pemerintah Pusat sangat besar untuk NTT. Besarnya dukungan Pemerintah Pusat ini tidak terlepas dari besarnya perhatian Presiden Republik Indonesia Bapak  Joko Widodo kepada daerah ini. Salah satunya adalah ditetapkannya Labuan Bajo di Kabupaten Manggarai Barat sebagai destinasi pariwisata super prioritas di Indonesia bersama Danau Toba, Borobudur dan Mandalika. Dukungan Pemerintah Pusat ini tercermin dari diagendakannya Labuan Bajo sebagai lokasi penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi G-20 pada Tahun 2023 nanti.

Sebagai konsekuensi dari penetapan tersebut, saat ini Pemerintah Pusat telah membenahi beberapa infrastruktur di Manggarai Barat, di antaranya penataan pantai, jalan dan drainase di Labuan Bajo, penataan jalan, terminal dan parkiran di lokasi pariwisata Batu Cermin, pembangunan terminal multifungsi untuk mendukung aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Peti Kemas Wae Kelambu, pengembangan Kawasan Startegis Pariwisata Nasional (KSPN) Komodo dan pembangunan infrastruktur Golo/Tana Mori untuk persiapan KTT G20 Tahun 2023 mendatang.

Pemerintah dan masyarakat NTT sebagai tuan rumah, harus mempersiapkan diri untuk mensukseskan penyelenggaraan KTT G20 mulai dari sekarang. Dengan spirit Masyarakat Ekonomi NTT, dibutuhkan dukungan dan peran pemerintah, dunia usaha dan masyarakat di 22 Kabupaten/Kota, terhadap penyelenggaraan KTT G20 Tahun 2023, sekaligus mengambil manfaat dari penyelenggaraannya. 

Sedangkan untuk Kabupaten Manggarai Barat dan Kabupaten Manggarai sebagai kabupaten penyangga, agar segera membenahi infrastruktur penunjang lainnya yang menjadi kewenangan daerah masing-masing demi terwujudnya konektivitas, mempersiapkan destinasi wisata serta mempersiapkan masyarakat dan dunia usaha agar menghasilkan produk ekonomi kreatif dalam mendukung KTT G20 Tahun 2023.

Sebagaimana provinsi lainnya di Indonesia, pertumbuhan ekonomi NTT pada tahun 2020 juga mengalami kontraksi sebagai dampak dari pandemi covid 19 yang mempengaruhi penurunan konsumsi swasta maupun pemerintah serta investasi di tengah perbaikan kinerja sektor eksternal.

Ekonomi NTT triwulan III-2020 mengalami kontraksi sebesar 1,68 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019 2019 year on year (y-on-y). Namun bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya quarter to quarter (q-to-q), ekonomi NTT pada triwulan III-2020 mengalami pertumbuhan sebesar 3,06 persen. 

Kondisi ini menggambarkan bahwa di masa pandemi ini NTT masih memiliki kinerja pembangunan ekonomi yang cukup baik, khususnya pada sektor primer pada lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan. Hal ini dapat dilihat dari struktur ekonomi NTT pada Triwulan III-2020 didominasi oleh kontribusi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan dengan nilai kisaran 28,30 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran masih didominasi oleh komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga sebesar 67,71 persen.

Berdasarkan data statistik tersebut tergambar bahwa NTT masih memiliki kinerja ekonomi yang baik di masa pandemi. Kondisi ini membuat kita semakin optimis dan serius mengembangkan sektor pertanian (termasuk peternakan), sektor kehutanan serta sektor kelautan dan perikanan. Pengembangan ketiga sektor tersebut selain difokuskan untuk pemenuhan konsumsi sendiri, juga untuk peningkatan perekonomian daerah dan penunjang pariwisata sebagai penggerak utama ekonomi NTT.

Pembangunan sektor-sektor utama dan prioritas ini dilaksanakan secara sistemik, yakni tidak saja dilaksanakan hanya pada sektor-sektor unggulan tersebut, namun juga dilaksanakan secara menyeluruh dengan memperhatikan sektor penunjang lainnya, di antaranya ketersediaan dan daya dukung infrastruktur seperti pengairan, jalan-jembatan dan transportasi, dukungan perindustrian dan perdagangan yang bercirikan ekonomi kerakyatan serta yang utama adalah dukungan masyarakat melalui kerja keras, disiplin dan inovasi.

Untuk itu, pada saat yang berbahagia ini perkenankan saya menyampaikan beberapa upaya yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur sebagai berikut:

Pertama di bidang kesehatan, selain penanganan pandemi covid 19 sebagaimana yang saya sampaikan di atas, pada awal tahun ini telah terjadi wabah Demam Berdarah Dengue atau DBD di hampir seluruh Wilayah NTT dengan total penderita DBD per bulan Oktober 2020 sebesar 5.746 jiwa, dan kematian mencapai 58 jiwa.

Adapun tiga daerah terparah dengan kasus korban jiwa yang tinggi sehingga ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa atau KLB, yaitu Kabupaten Sikka, Lembata dan Alor.  Kita bersyukur bahwa melalui kerja sama penanganan antara pemerintah dan masyarakat, maka kasus DBD dapat diatasi dan sejak pertengahan tahun ini, status KLB di ketiga kabupaten tersebut telah dicabut.

Trend saat ini kasus DBD dapat terjadi sepanjang tahun sehingga kita tidak boleh lengah dan tetap waspada agar secara kolektif melakukan tindakan-tindakan pencegahan, seperti : Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), tindakan 3M Plus yaitu Menutup, Menguras, Menimbun, Menabur Abate serta menyiapkan 1 Juru Pemantau Jentik di setiap rumah. 

Untuk menjamin keberlangsungan generasi NTT yang berkualitas, maka pembangunan kesehatan dititikberatkan pada penanganan balita stunting, wasting dan under weight. Berdasarkan data per bulan Oktober 2020 persentase balita stunting sebesar 24% mengalami penurunan dari tahun 2019 sebesar 30,8%.



Untuk balita wasting mengalami penurunan sebesar 7,9% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 8%. Sedangkan untuk balita underweight mengalami penurunan sebesar 17,9% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 20,2%.

Pembentukan sumber daya manusia NTT yang berkualitas harus dikerjakan dengan cara yang luar biasa melalui inovasi yang terus menerus, bahkan sejak anak masih dalam kandungan ibu. Penanganan masalah gizi spesifik balita ini dilaksanakan melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK) dan balita KEK di 22 Kabupaten/Kota.

Pemerintah Provinsi juga telah menetapkan 8 (delapan) Aksi Konvergensi dengan 25 indikator komposit, di antaranya terdiri dari indikator gizi spesifik dan sensitif yang digunakan untuk analisa penyebab stunting hingga tingkat desa, termasuk perawatan anak-anak gizi buruk, imunisasi, air bersih dan sanitasi serta akses ke Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD. Saya mengharapkan adanya perhatian yang serius dari seluruh jajaran pemerintah agar stunting dapat ditekan sampai angka nol untuk membebaskan NTT dari beban kehilangan generasi (lost generation).

Bidang pendidikan,  Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten/Kota terus berupaya meningkatkan kesempatan masyarakat dalam mengenyam pendidikan pada tiap jenjang pendidikan, yang tergambar dari besaran Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM). 

Pada Tahun 2019, realisasi APK masing-masing untuk tingkat pendidikan SD sebesar 99,45%, SMP 103,57% dan SMA/SMK 92,33%. Sedangkan, realisasi APM, untuk jenjang pendidikan SD sebesar 83,87%, SMP 73,54% dan SMA/SMK 63,51%. 

Selain itu, Pemerintah juga terus melakukan penataan Pendidikan SMK agar menjadi sumber inovasi untuk memproduksi tenaga kerja terampil yang relevan dengan pengembangan potensi daerah. Pemerintah mempersiapkan sekolah standar sebagai model pengembangan mutu dan daya saing SMA dan SMK secara nasional.

Untuk menciptakan generasi masa depan NTT yang produktif dan berdaya saing tinggi, pembangunan pendidikan di Nusa Tenggara Timur lebih difokuskan pada pendidikan yang membentuk kemampuan literasi, numerasi dan pendidikan karakter. Pendidikan literasi ditujukan pada penguasaan atau kemampuan membaca dan menulis dalam bahasa Indonesia maupun bahasa asing, kemampuan numerasi ditujukan untuk penguasaan teknologi dan sains serta pendidikan karakter ditujukan untuk membentuk etika dan budi pekerti.

Bidang Pariwisata, Sama seperti di belahan dunia lainnya, pariwisata NTT juga mengalami pukulan hebat sebagai dampak dari pandemi covid-19 ini. Berdasarkan data BPS, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman selama periode Januari sampai dengan Agustus 2020 mencapai 3,41 juta kunjungan atau turun 68,17 persen dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisman pada periode yang sama tahun 2019.

Sedangkan Tingkat Penghunian Kamar atau TPK Hotel Berbintang pada bulan Agustus 2020 mencapai 32,93 persen atau turun 21,21 poin dibanding TPK Agustus 2019, tetapi mengalami kenaikan sebesar 4,86 poin dibandingkan TPK Juli 2020. Kenaikan TPK ini membangkitkan optimis kita bahwa pariwisata NTT dapat berkembang di saat pandemi asalkan kita kemas dengan baik dan selalu menerapkan protokol kesehatan.

Kedepan, Pemerintah Provinsi NTT akan menyusun pedoman dalam bentuk Peraturan Gubernur terkait Protokol Kesehatan Kepariwisataan New Normal di NTT, untuk menjamin terselenggaranya aktivitas pariwisata yang aman dan nyaman terhadap penularan covid 19 bagi wisatawan, pelaku usaha pariwisata serta masyarakat di sekitar destinasi wisata.  Hal ini menjadi landasan antisipatif terhadap ledakan pariwisata di tahun 2021 menyusul rencana vaksin oleh hampir semua negara, termasuk Indonesia.

Saat pandemi ini berlangsung, Pemerintah tetap berupaya produktif dengan membenahi sektor pariwisata di daerah ini, khususnya pembenahan terhadap destinasi maupun industri pariwisata serta ekonomi kreatif. Pada tahun ini, Pemerintah Provinsi NTT telah melakukan pembangunan 7 Kawasan Pariwisata, yaitu Pantai Liman di Kabupaten Kupang, Kawasan Fatumnasi Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kawasan Wolwal di Kabupaten Alor, Kawasan Lamalera Kabupaten Lembata, Kawasan Koanara di Kabupaten Ende, kawasan Praimadita di Kabupaten Sumba Timur dan Kawasan Mulut Seribu Kabupaten Rote Ndao.

Di ketujuh kawasan tersebut telah dibangun fasilitas berupa cottage, restaurant dan home stay. Agar sarana dan prasarana tersebut dapat bermanfaat sebagaimana mestinya maka penataan berkelanjutan dengan mengandalkan pariwisata berbasis masyarakat.

Masyarakat setempat harus disiapkan untuk menyediakan rantai pasok yang berasal dari komoditi setempat, bahkan masyarakat harus disiapkan untuk mengolah komoditi yang ada agar dapat memperoleh nilai tambah dari hasil produksinya. Tiap kawasan pariwisata diharapkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.  Itulah sesungguhnya cara berpikir “pariwisata sebagai prime mover” untuk sektor pertanian, peternakan, kelautan perikanan serta perindustrian dan perdagangan.

Masyarakat harus terlibat dalam semua mata rantai ekonomi pariwisata sehingga terjadi penciptaan lapangan pekerjaan dan peningkatan pendapatan masyarakat.

Pengembangan industri pariwisata selalu berhubungan erat dengan pelaksanaan promosi. Sebelum adanya pandemi ini, tepatnya pada medio Februari lalu, NTT telah berpartisipasi pada promosi pariwisata internasional Festival Bunga dan Buah di Ambato Equador.

Pada festival tersebut, NTT menampilkan Parade Tenun Ikat, Pentas tarian NTT seperti Tari Ja’i, Tari dari Belu, Tari dari Rote dengan iringan instrumen musik Sasando, kegiatan Bazar di Rumah Jabatan Walikota Ambato dengan menyajikan produk-produk tenun ikat dan asesoris penari dari berbagai daerah di NTT.

Selain menampilkan atraksi-atraksi tersebut, Pemerintah juga melakukan pemasaran dan promosi pariwisata berbasis digital melalui website, instagram, twitter dan kanal you tube dengan tag line ”Exotic NTT”.

Bidang Pertanian, di sektor pertanian kita memiliki satu program unggulan yakni Tanam Jagung Panen Sapi atau TJPS yang dilaksanakan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian lahan kering terpadu, khususnya komoditi jagung serta peningkatan populasi ternak sapi, babi dan ayam. 

Melalui program ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat petani di NTT. Kita berkomitmen bahwa program ini dapat dilaksanakan pada lahan milik pemerintah dan lahan milik masyarakat seluas kurang lebih 10.000 ha, dengan tantangan utama, yakni kurangnya ketersediaan air baku, terutama pada musim kemarau. Untuk itu, Pemerintah berkomitmen untuk memenuhi ketersediaan infrastruktur pengairan dalam menunjang keberhasilan program TJPS ini. 

Kita sadari bahwa pelaksanaan Program TJPS untuk musim tanam II periode bulan April sampai dengan September Tahun 2020 baru mencapai 1.732 hektar karena kendala utama yakni minimnya ketersediaan air baku di musim kemarau serta serangan hama. Namun, Pemerintah tetap berkomitmen dan optimis bahwa pada musim tanam I Oktober 2020-Maret 2021, luas lahan TJPS pada 16 kabupaten adalah 8.268 hektar dengan proyeksi produksi 4 ton per hektar sehingga diperkirakan TJPS akan menghasilkan 33 ribu ton jagung.

Dari segi pemasaran, Pemerintah telah bekerjasama dengan off-taker pembeli jagung, yang akan membeli jagung dengan harga Rp.3.200 per kg. Melalui terobosan ini hasil panen jagung petani akan ditimbang di lokasi yang disetujui bersama dan mekanisme pembayarannya melalui transfer bank atau koperasi.

Pelaksanaan program TJPS ini pula dilaksanakan dengan dukungan penyediaan alat mesin pertanian atau alsintan yang bersumber dari APBN, APBD Provinsi dan hasil aspirasi Anggota DPR RI asal NTT. Pada tahun 2020 telah disediakan 66 unit traktor roda dua, 43 unit traktor roda empat, 1 unit excavator, 75 unit pompa air, 3 unit Combine Hasvester, 1 unit Corn  Planter, 5 unit rota tanam serta optimalisasi pemanfaatan jaringan irigasi dan embung.

Selain program TJPS, dalam rangka mendukung   penanggulangan stunting/gizi buruk masyarakat dan peningkatan kesejahteran masyarakat telah dilaksanakan pengembangan kelor sebanyak 21.487 pohon pada lahan seluas 145 ha, serta penyediaan demplot sorgum dan talas ungu bagi kelompok tani.

Sedangkan untuk mendukung destinasi pariwisata estate telah dilaksanakan pengembangan kawasan tanaman buah mangga seluas 115  hektar, kawasan tanaman buah jeruk seluas 3 hektar, pengembangan kawasan tanaman melon dan semangka seluas 40  hektar, pengembangan kawasan bawang merah seluas 22 hektar, serta pengembangan kawasan Agrowisata Kelimutu Kabupaten Ende berupa pengembangan tanaman kopi,  nenas  dan  kentang.

Bidang Peternakan, Masyarakat peternak NTT setiap tahun secara terus menerus berkontribusi untuk memenuhi kebutuhan daging sapi dan kerbau secara nasional rata-rata sebesar 12 juta kg/tahun. Mengingat sampai saat ini Indonesia masih mengimpor daging sapi untuk konsumsi nasional.

Oleh karena itu, pembangunan peternakan difokuskan untuk dapat menutup impor daging melalui peningkatan populasi ternak sapi dari saat ini 1.087.761 ekor sapi melalui pengembangan sentra-sentra perbibitan sapi pada kawasan peternakan di Pulau Sumba, Kabupaten Kupang, TTS, TTU, Belu, Malaka, Rote, Ngada dan Manggarai. Selain itu, untuk mendukung peningkatan populasi babi dan unggas yang saat ini sebesar 2.266.222 ekor babi dan 18.510.711 ekor unggas melalui dukungan pengembangan industri pakan ternak babi dan unggas di Pulau Sumba, Pulau Timor dan Pulau Flores, sehingga mampu mengendalikan inflasi daerah dan meningkatkan pendapatan peternak babi dan unggas.

Dalam rangka menjamin ketersediaan pakan ternak, khususnya ternak babi dan unggas yang selama ini bergantung dari luar daerah, maka pada tahun 2021 mendatang Pemerintah Provinsi NTT telah menyiapkan anggaran sebesar kurang lebih 39 milyar rupiah untuk pembangunan 3 unit pabrik pakan ternak di Kabupaten Kupang, Sumba Tengah dan Manggarai Timur. Saya minta agar ketiga kabupaten ini mendukung pembangunan pabrik pakan ini melalui penyiapan lahan pabrik dan penyediaan bahan baku jagung yang memadai untuk proses produksi.

Langkah yang harus segera diambil adalah melakukan penyebaran benih jagung dan pupuk ke petani, menyiapkan air baku untuk lahan jagung serta mempersiapkan skema harga yang tidak merugikan petani. Alternatif lainnya yang dapat diterapkan, yaitu melakukan kerja sama antar kabupaten untuk mendukung ketersediaan bahan baku jagung bagi proses produksi pabrik pakan tersebut.

Dalam rangka mendukung pengembangan destinasi kawasan pariwisata, pengembangan industri pengolahan produk peternakan dengan mengutamakan industri yang masif, berbasis budaya dan kearifan lokal seperti industri daging dalam hal ini dapat berupa daging segar, daging beku dan pengolahan daging lainnya yang Aman, Sehat, Utuh dan Higienis atau ASUH, melalui penyediaan sarana prasarana Rumah Potong Hewan dan Tempat Pemotongan Hewan (TPH) yang terstandarisasi.

Bidang Kelautan dan Perikanan, sektor kelautan dan perikanan merupakan salah satu sektor penting dalam mensukseskan program NTT bangkit dalam rangka meningkatkan ekonomi masyarakat melalui pariwisata sebagai penggerak utama, seperti pengembangan budidaya kakap putih dan kerapu di Kawasan Mulut Seribu-Rote Ndao, berupa pembangunan 3 unit keramba dengan jumlah benih ikan yang telah ditebar sebanyak 9.000 ekor serta telah tersedia 1 unit rumah jaga dan 1 unit bagan kelong.

Pengembangan budidaya serupa juga dilakukan di Kawasan Labuan Kelambu sebagai solusi untuk pemberdayaan masyarakat yang berada di wilayah tapal batas antar Kabupaten Manggarai Timur dan Kabupaten Ngada dengan benih kerapu yang ditebar sebanyak 1 juta ekor.

Hasil produksi perikanan tangkap pada Tahun 2019 sebesar 198.380 ton atau 50,4 persen dari total potensi tangkap yang diperbolehkan sebesar 393.360 ton per tahun. Sementara produksi per semester pertama Tahun 2020 sebesar 72.500 ton. Dengan tetap memperhatikan kelestarian biota laut, hasil tangkapan akan terus dioptimalkan melalui penyediaan sarana prasarana tangkap, pengolahan untuk meningkatkan nilai produksi, serta pemasaran.

Adapun produk olahan ikan yang dihasilkan berupa penanganan ikan segar, pembekuan (tuna dan cakalang), ikan asap, ikan kering, penggilingan (bakso ikan dll). Hasil olahan ini sebagian dipasarkan di wilayah NTT dan diantarpulaukan ke berbagai provinsi di Indonesia serta diekspor ke Timor Leste, China, Jepang dan Amerika.

NTT juga mengembangkan budidaya rumput laut dengan jenis Euchema Cottonii merupakan penghasil karagenan yang merupakan bahan yang sangat penting dalam industri makanan, kosmetika dan obat-obatan. Budi daya rumput laut, saat ini baru dimanfaatkan sebesar 35% atau sekitar 11 ribu hektar dari potensi 54 ribu ha, dengan jumlah produksi Tahun 2019 mencapai 2,3 juta ton basah. Untuk meningkatkan produksi, Pemerintah telah memberikan bantuan hibah peralatan dan bibit rumput laut kepada pembudidaya.

Produksi kelautan lainnya yang potensial untuk dikembangankan yakni budidaya garam. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa garam NTT memilik kadar NaCl yang sangat baik mencapai 96 persen karena dihasilkan dari air laut yang belum tercemar serta ditunjang oleh cuaca yang mendukung.

Daerah yang potensial untuk pengembangan garam yakni di Kabupaten Kupang, Sabu Raijua, Lembata, Nagekeo dan Kabupaten Malaka. Dari daerah-daerah potensial ini, sudah terlihat geliat produksinya di Kabupaten Kupang dan Kabupaten Malaka. Oleh karena itu, saya minta Pemerintah di beberapa kabupaten ini agar segera membenahi sektor industri garam untuk menarik investor dalam upaya peningkatan kualitas dan produktivitas garam NTT.

Salah satunya yakni memberikan kemudahan berusaha kepada investor untuk berinvestasi dan menciptakan lingkungan bisnis yang bersahabat bagi investor. 

Bidang Infrastruktur. Pembangunan penyediaan infrastruktur seperti jalan, jembatan, pengairan dan permukiman menjadi salah satu prioritas pembangunan NTT, karena ketersediaan infrastruktur berbanding lurus dengan peningkatan ekonomi daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. 

Berdasarkan kondisi Tahun 2019, Jalan Provinsi dengan kondisi mantap sebesar 1.743,55 km atau 65,79 persen dari total 2.650 km. Pada Tahun Anggaran 2020 dilakukan peningkatan jalan sepanjang 372,74 km, sehingga jalan provinsi dalam kondisi mantap menjadi 2.116,29 km atau sebesar 79,86 persen, terjadi peningkatan14,07 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan total pembangunan jembatan pada Tahun Anggaran 2019 sepanjang 96 meter dan pada Tahun Anggaran 2020 sepanjang 152 meter.

Sebagai pemimpin di daerah ini, saya bersama Pak Josef selalu berkomitmen untuk menghadirkan pembangunan infrastruktur jalan-jembatan yang menyeluruh tuntas dan tidak setengah-setengah. Konsekuensi dari kebijakan ini adalah dibutuhkan sumber pendanaan investasi yang besar dan itu tidak mungkin apabila hanya dibebankan pada APBD Provinsi NTT saja. Sebagai jalan keluarnya, Pemerintah Provinsi menggunakan sumber pendanaan lain melalui pinjaman daerah sebagai terobosan terhadap kendala fiskal dengan pendekatan enterpreneurship.

Pinjaman daerah ini bukanlah hal yang tabu karena telah diperhitungkan dengan baik segi manfaat serta tata kelola pengembaliannya. Untuk itu, pada kesempatan ini, saya menghimbau kepada para Bupati/Walikota agar dapat memanfaatkan skema pinjaman daerah untuk penyediaan infrastruktur, khususnya infrastruktur dasar dalam rangka mewujudkan konektivitas dengan jalan provinsi maupun jalan negara agar dapat memberikan daya ungkit yang berarti bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat.

Selain itu pada tahun 2020 dilakukan intervensi untuk meningkatkan daerah layanan irigasi seluas 1.289,49  hektar, sehingga luasan Daerah Irigasi dalam keadaan baik meningkat menjadi 36.876  hektar dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 35.586  hektar.

Di bidang perumahan dan permukiman, selama dua tahun terakhir telah dibangun sambungan air bersih untuk melayani 728 kepala keluarga serta identifikasi calon penerima bantuan hibah perumahan dan renovasi 403 unit rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Banyak hal yang dapat kita refleksikan pada perayaan Hari Ulang Tahun NTT kali ini bahwa dengan segala keterbatasan yang ada, dari waktu ke waktu NTT semakin menuju ke arah yang lebih baik. Semua ini tidak diperoleh dengan sendirinya tetapi dicapai lewat jerih payah dan perjuangan. Untuk itu, masyarakat NTT harus membulatkan tekat untuk bangkit menuju sejahtera, sebagaimana syair seorang seniman Belanda pada abad 18, Rene de Clercq bahwa “hanya ada satu negeri yang disebut tanah airku, ia tumbuh lewat jerih payah, dan jerih payah itu adalah jerih payahku”.

Jerih payah kita sudah mulai terlihat satu-persatu, NTT mulai dikenal dan diperhitungkan di level nasional maupun internasional. Salah satu contohnya yakni pakaian adat Sabu Raijua dan Timor Tengah Selatan yang digunakan dengan gagah dan elegan oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo pada dua momen nasional.  Ini telah membuktikan bahwa kekayaan budaya dan intelektual warisan nenek moyang NTT berkualitas dunia dan  harus dipromosikan dengan narasi-narasi yang baik agar brand NTT dapat dikenal dan dicintai di seluruh belahan dunia.

Begitupun dengan generasi muda, kaum milenial NTT yang terus mengembangkan diri, berinovasi dan berkontribusi terhadap pembangunan NTT. Kita punya anak muda di Kabupaten Sikka yang telah menerapkan pertanian lahan kering dengan menggunakan sistem irigasi tetes secara digital dan masih sangat langka di Indonesia. Ini merupakan salah satu peluang emas bagi NTT dan saya minta agar pemerintah 22 Kabupaten/Kota dapat menjadikan ini sebagai pilot project untuk diterapkan di masing-masing Kabupaten/Kota.

Pada kesempatan ini, saya tidak henti-hentinya meminta agar dunia usaha, koperasi, BUMD dan BUMDes terus berinovasi dalam mengelola dan memasarkan produk NTT sesuai “revolusi industri jilid 4”, dengan memanfaatkan platform marketplace berbasis digital, dengan tetap mempertahankan kualitas dan daya saing serta bauran promosi sehingga produk-produk unggulan NTT menembus pasar nasional, regional maupun  internasional.

Bagi masyarakat dan pelaku bisnis di NTT, saya minta agar  selain mengembangkan modal ekonomi, kita perlu  memberdayakan modal sosial kita yang besar dengan kerja bergotong-royong, menguatkan jaringan sosial, membina hidup saling percaya, membudayakan pola hidup hemat,  produktif, energik, inovatif dan berani memanfaatkan peluang yang ada untuk meraih masa depan yang lebih baik menuju NTT sejahtera.

Menyikapi berbagai hal yang terjadi dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan serta pelayanan dan pemberdayaan di daerah ini, saya sampaikan beberapa hal untuk dapat ditindaklanjuti :

Pertama, memasuki musim hujan ini, diminta agar bersama mengantisipasi ancaman Demam Berdarah Dengue, ancaman penyakit menular lainnya dengan memberdayakan seluruh sumberdaya yang ada untuk pencegahan dan penanganannya, terutama di Kabupaten/Kota yang tinggi kasus DBD-nya. Begitu pula dengan penanganan bencana alam di tiap Kabupaten/Kota, saya minta agar seluruh komponen terkait segera melakukan mitigasi bencana untuk meminimalisasi risiko bencana dan jumlah korban jiwa.

Kedua, menghadapi musim tanam ini agar para Bupati/Walikota memperhatikan pendistribusian bibit, pupuk, obat-obatan, alat industri pertanian dan penyuluh pertanian, terutama pada lahan pertanian yang mendukung pelaksanaan Program TJPS untuk memastikan tidak ada lahan yang tidur karena manusia tidak menggarapnya.

Ketiga, saya meminta agar para Bupati/Walikota dan DPRD Kabupaten/Kota dapat menjadi motor penggerak masyarakat dalam rangka peningkatan ekonomi dan mempertahankan stabilitas di masing-masing daerah dengan mengalokasi waktu di lapangan mendampingi dan memberikan semangat kepada rakyat.

Keempat, agar Pemerintah 22 Kabupaten/Kota membentuk Satuan Tugas yang melibatkan Badan Pertanahan Nasional dan Unsur Forkopimda untuk menyelesaikan masalah-masalah pertanahan yang menjadi penghambat utama pelaksanaan pembangunan di Nusa Tenggara Timur.

Terakhir, menghadapi pandemic Covid-19 di NTT saya menghimbau kepada Walikota Kupang dan Para Bupati agar selain menerapkan protokol kesehatan di masing-masing daerah, juga menghimbau masyarakat untuk mengkonsumsi makanan bergizi tinggi seperti kelor yang dapat diperoleh dengan mudah di NTT, beristirahat yang cukup dan berolahraga secara teratur serta membangun pikiran yang positif agar imunitas tubuh tetap terjaga.

Pada kesempatan yang berbahagia dalam momentum peringatan hari ulang tahun NTT ini, perkenankanlah saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada:

Para medis, tenaga kesehatan dan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 di Provinsi dan 22 Kabupaten/Kota yang telah berjuang di garda terdepan dalam menangani covid 19 di daerah ini.  

Seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur, para Tokoh NTT dan Sesepuh NTT di manapun berada, atas dukungan yang telah diberikan kepada Pemerintah dalam membangun dan mewujudkan NTT yang sejahtera.

Unsur Forkopimda Provinsi dan Kabupaten/Kota yang telah bersinergi bersama Pemerintah Provinsi maupun 22 Kabupaten/Kota dalam memajukan daerah ini. 

Pimpinan dan Anggota DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota se NTT atas dukungan dan kemitraan dalam penyelenggaraan pemerintahan serta pembangunan.

Walikota dan Para Bupati atas dukungan, kerja sama dan komitmen dalam memajukan daerah ini.

Para Camat, Kepala Desa dan Lurah atas komitmen kerjasama dan pelayanan publik di pedesaan, perbatasan dan daerah-daerah terpencil.

Rekan-rekan wartawan baik media cetak, on-line maupun media elektronik yang telah memberikan kontribusi meluaskan informasi pembangunan di NTT.

Akhir kata, saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu-persatu atas segala sumbangan ide, kritik, perhatian dan tindakan baik bagi daerah yang kita cintai dan banggakan ini.

Mari kita satukan langkah dan komitmen untuk membangun NTT maju dalam visi “NTT Bangkit Menuju Sejahtera”.