Elias Sumardi Dabur ( Foto dok pribadi )

Oleh : Elias Sumardi Dabur

Memasuki Tahun Baru 2021, saya mengajak para Sahabat untuk saling berbagi kisah-cerita dan refleksi atas tahun yang lewat, bagaimana kita menyiasati hidup melewati tahun vivere pericoloso, tahun nyerempet-nyerempet bahaya. Saya percaya, setiap orang mempunyai banyak hal untuk diceritakan. Bercerita dan membaginya merupakan salah satu cara manusia bertahan dan menang, saling menghangatkan dan meneguhkan sepanjang sejarahnya. Itulah sebabnya, kenapa kita perlu berbagi cerita.

Tahun 2020, dalam banyak segi  ialah tahun yang hilang, tahun ketidakpastian atau lebih seru lagi, Annus horribilis, tahun mengerikan, horrible years.  Pandemi tahun 2020 ini telah menciptakan perubahan yang semula hidup normal menjadi tidak normal. Hampir semua orang dilanda rasa takut. Namun, sebagaimana karakter setiap krisis kalau kita cermati secara sungguh-sungguh bagai pedang bermata dua. Satu bilah pedang bisa menghancurkan, membawa kita dalam kenestapaan permanen, sementara pada bilah yang satunya menawarkan cara pandang, meluaskan horizon, menyingkap kekuatan-kekuatan tersembunyi dalam diri, dan melahirkan kreativitas baru.

Sebait frasa dari Friederich Holderlins dalam karyanya Patmos mengatakan sesuatu tentang hal tersebut : “Di mana ada bahaya, di sana bertumbuh juga kekuatan tersembunyi.” Itulah kejeniusan manusia sepanjang sejarahnya. Selalu ada jalan untuk keluar dari atau menghindari  bahaya.

Di tahun 2020, tahun nyerempet-nyerempet bahaya, dalam pengalaman saya awalnya berjalan seperti biasa. Resolusi yang dibuat menjelang pergantian tahun diharapkan terjadi di tahun baru.  Satu contoh dalam perjalanan saya sebelum covid datang adalah menanti penuh harap bisa diikutsertakan dalam acara. Pengangkatan Sumpah dan Janji Advokat yang diselenggarakan DPN PERADI (Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia) dan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Untuk itu, saya telah menyiapkan dan menyerahkan berbagai persyaratan ke DPN PERADI. Sayangnya, nama saya dikabarkan dicoret dari daftar menjelang jadwal pelantikan yang semula dilaksanakan di Minggu ketiga januari 2020.

 Ada salah satu persyaratan administratif penting yang tidak dipenuhi. Saya kecewa, namun, tidak menyerah. Saya mengingat-ingat lagi, memeriksa dokumen yang dinyatakan kurang lengkap itu. Saya temukan dan ajukkan kembali ke DPN PERADI. Akhirnya nama saya diterima dan diusulkan ke Pengadilan Tinggi DKI sebagai salah satu calon advokat yang diambil sumpah. Akhirnya, nama saya dimasukan dalam daftar calon advokat yang diambil sumpah pada pada 12 -2-2020.

Masa awal setelah pelantikan, sebagai bentuk totalitas atas pilihan, saya aktif menulis artikel tentang advokat. 3 (Tiga) di antaranya dimuat di Jawa Pos Group. Selebihnya, saya muat di blog publik, seperti Kompasiana, Qureta dan Indonesiana, milik Tempo. Di sela itu, saya juga dihubungi seorang rekan untuk membantunya dalam perkara hubungan industrial.

Covid Datang

Di saat asyik dengan semua itu, datanglah ketetapan pemerintah mengenai masa tanggap darurat covid-19, lalu menyusul penetapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Saya sebagaimana teman-teman umumnya terbawa hiruk-pikuk informasi dan tergagap dan gugup menghadapi situasi baru yang belum pernah dialami, dunia baru yang belum terpetakan.

Tapi, setelah satu minggu, saya memilih sikap dan arah baru. Saya tidak mau lagi membiarkan diri terbenam arus dan hiruk-pikuk informasi mengenai Covid-19 yang datang bagai bah. Saya tidak mau mysophobia, ketakutan, kekhwatiran berlebihan menggerogoti. Saya berketetapan untuk  memegang atau mengikuti ketentuan pokok saja tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dan memperhatikan protokol kesehatan. Dan, lebih mendasar lagi adalah; saya menjaga pikiran saya tetap aktif dan fokus pada apa yang disyukuri, diharapkan, dicintai, bukan apa yang ditakuti.

Memasuki masa PSBB, saya menikmati pertualangan baru. Saya asyik berselancar, bertualang mencari dan mengumpulkan buku-buku dan novel. Buku-buku yang yang saya butuhkan dan belum ada di sini. Buku prioritas yang dicari adalah literatur hukum dan advokat, dari sejarah, teori, perbandingan hukum, filsafat hukum dari era klasik sampai saat ini, buku-buku tentang kecakapan, keterampilan mendasar advokat, kode etik, pemikiran advokat dunia, dan tidak luput pula buku tentang The Future Lawyer, masa depan lawyer pada masa Artificial Intelligent, era kecerdasan buatan.

Selain buku, saya kumpulkan pula Novel-novel John Grisham dan novel-novel lain yang direkomendasikan perlu dibaca lawyer. Di luar buku-buku hukum, saya juga sangat menikmati proses pencarian, pembacaan buku-buku tentang dunia mata-mata, area intelijen (Spy World), dari sejarah lahir dan perkembangannya, sejarah dan operasi-operasi agen-agen intelijen, mulai dari Mossad Israel, CIA, Badan Intelijen Rusia, Inggris, China dan beberapa agen lainnya. Tak hanya itu, sejarah kemunculan mafia, dari Cosa Nostra, The Vory-mafia super besar Rusia, mafia China, dan munculnya mafia Amerika.

Petualangan menggembirakan lain terkait dunia diplomasi pada umumnya dan secara khusus, saya menaruh perhatian pada Vatican. Vatican dikatakan sebagai, “small state, but have a big influence”, negara kecil tapi pengaruhnya sungguh besar. Mempelajari Vatican, bagi saya sama halnya mempelajari sejarah, dinamika, pergolakan dunia spiritual dan kekuasaan dalam sejarahnya yang panjang.

Penelusuran yang tidak kalah penting adalah sejarah pandemik, sejarah wabah. Seorang penulis di New York Times (maaf saya lupa penulisnya) mengatakan peradaban manusia ditentukan tidak hanya oleh perang, tapi juga wabah.Tema-tema terkait sejarah wabah dan bagaimana pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat dewasa ini, teman-teman bisa akses ke  The New Yorker. Hasil penjelajahan itu, terkumpul 300 buku. Semuanya baru. Saya bahagia karena semua ini bekal dan modal penting dalam perjalanan saya ke depan.

Aktivitas-aktivitas tersebut sempat berhenti pada bulan Mei. Fokus saya bergeser pada wacana dan perdebatan, apakah China bisa dituntut terkait penyebaran Covid-19? Hasil dari penelaahan itu adalah dua buah artikel yang akhirnya dimuat pada kolom opini detik.com, beritasatu.com dan koran Suara Pembaruan. Pada akhir Mei 2020, saya memutuskan membuat akun youtube dengan tema utama: hukum dan advokat.

Pada bulan Juni, memasuki masa New Normal, saya mengurus Kartu Advokat dan setelahnya langsung menangani perkara perburuhan, dan memberikan pendapat hukum dalam perkara Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah.

Di sela-sela menangani perkara, saya fokus mengembangkan channel hukum dan lawyer “Elias Dabur Note”. Saat ini sudah dimonetisasi dan menjadi  Youtube Program Patrner.

Memasuki september, saya terlibat dalam penanganan permohonan curatelle di PN Jakarta Selatan. Sidangnya dimulai September dan berakhir di November. Lalu, memasuki Desember mengurus perkara seputar hukum pengadaan barang dan jasa pemerintah.

Menengok kembali perjalanan hidup saya di tahun 2020, tahun penuh ketakutan, tahun nyerempet-nyerempet bahaya, saya merasakan masih ada peluang-peluang tersedia, masih ada mirabilis, ada cahaya yang menerangi dan bertumbuhnya inisiatif dan kreativitas-kreativitas baru.

Sambil bersyukur atas tahun yang lewat dan melangkah penuh syukur dan optimisme di tahun baru, suatu nasihat lama dari ribuan tahun yang telah silam, peringatan Tuhan melalui Nabi Musa kepada kaum Israel yang keluar dari perbudakan di Mesir dan memasuki Tanah Perjanjian:

“ Maka, janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. Janganlah kau bertepuk dada, karena Akulah yang memberimu kekuatan.

Penulis: A dvokat dan Managing Director Akuity Law Firm, tinggal di Jakarta.