Jimmy Carwalo (fot dok. pribadi )

Oleh : Jimmy Carvallo*

            Bagaimana kita merayakan suka cita atau kegembiraan Natal di tengah situasi dan kondisi dunia setahun terakhir yang “porak-poranda” dilanda tragedi virus Corona (Covid-19)? Pertanyaan ini menjadi keprihatinan bersama tatkala dunia dan lingkungan sekitar kita sedang berubah drastis sebagai dampak pandemi Covid-19. Akibat yang paling dirasakan sejak virus ini melanda Indonesia pada awal Maret lalu adalah banyak orang yang mengalami krisis ekonomi berbarengan dengan ketakutan akan penyebaran virus ini yang masif dan kapan saja bisa menyerang orang-orang di sekitar kita.

            Belum selesai keprihatinan akan krisis ekonomi yang melanda negeri ini akibat terjangan badai Covid-19, kita kembali tersentak, ternyata tragedi Corona tidak menyurutkan niat sejumlah orang untuk berhenti berbuat jahat terhadap sesama. Dua menteri di kabinet Indonesia Maju kembali ditangkap KPK karena melakukan korupsi, tidak main-main bahkan satu diantaranya menteri sosial yang menangani bantuan sosial penanganan Covid-19. Belum lagi berbagai kisah pelanggarai HAM yang masih terjadi, tragedi kemanusiaan pembunuhan sadis seperti yang melanda satu keluarga di Kabupaten Sigi, penggusuran tanah warga dan ulayat di beberapa wilayah masih saja menjadi ceritera yang menghiasi pemberitaan.

            Tak berlebihan, bila kita menobatkan tahun 2020 sebagai tahun penuh keprihatinan, berbagai kisah dan cerita tentang derita anak-anak manusia mengalir tak pernah berhenti. Dari semua pengisahan kejadian demi kejadian, tentu penderitaan akibat pandemi Covid-19 yang mendunia menjadi yang paling besar, tidak terkecuali dari konglomerat sampai masyarakat kecil terkena imbasnya. Realitas pahit yang harus diterima dengan lapang dada ini tentulah menyentakkan kita semua.

            Harapan akan perbaikan hidup di masa mendatang dan badai besar ini agar segera berlalu tentu menjadi impian semua orang, karena apa yang dialami sepanjang tahun 2020 tak lebih dari sebuah ziarah kehidupan sarat tantangan, hal itu dialami banyak orang yang hidupnya memang bergantung pada berbagai bantuan yang datang karena tiang ekonomi hidup mereka telah rubuh akibat diterjang resesi ekonomi sebagai imbas pandemi Covid-19.

            Pada 9 Desember 2020 lalu juga, di sejumlah daerah kabupaten/kota dan provinsi baru menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah, pesta demokrasi lima tahunan, di tengah masih berkecamuknya virus Corona. Dari perhelatan pesta demokrasi seperti itu, diharapkan akan melahirkan pemimpin yang visioner dan bisa menjadi gembala yang menuntun warga masyarakatnya ke arah pemulihan hidup lebih baik sehingga kesejahteraan lebih terjamin, walaupun tak bisa dipungkiri tantangan terberatnya adalah bagaimana pemerintahan lokal kreatif menciptakan lapangan kerja baru agar warga bisa keluar dari kubangan krisis ekonomi.

Menata Politik Bermartabat

            Bangsa ini baru saja melewati tahapan hidup berdemokrasi yakni pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang berlangsung di 270 daerah. Sebagaimana setiap penyelenggaraan atau hajatan pemilihan umum, sering menyisahkan perpecahan politik di tengah masyarakat. Perbedaan pilihan politik selalu menciptakan ruang jarak antara satu dengan lainnya, sehingga pada titik tertentu bisa menggesek tali persaudaraan yang semula akrab dan bersahabat menjadi saling bermusuhan bahkan melahirkan kekerasan.

            Di jejaring media sosial (sosmed) seperti facebook, medium itu mudah tercipta dan menjadi kanal saling “menyerang” dengan tidak lagi menggunakan nalar sehat, argumentasi yang edukatif dan kesantunan berbahasa. Kita sedang memenjarakan kejernihan berpikir dan bertingkah laku sebagai makhluk sosial yang beradap, menggantinya dengan naluri politik yang membabi-buta, nafsu meraih kekuasaan dengan cara mendukung calon pemimpin jagoan dengan tidak lagi mengedepankan sikap-sikap berpolitik secara elegan.

            Satu dua dekade terakhir ini, proses dan dinamika berdemokrasi Pemilu, baik itu Pilpres, Pemilu Legislatif maupun Pilkada mempertontonkan atraksi politik kotor, baik dengan saling perang menyerang antara para buzzer membela kontestan pemilu, maupun berbagai model kerja politik meraih kursi kekuasaan dengan cara tidak halal seperti melakukan politik uang, intimidasi, termasuk mobilisasi partai-partai politik besar-besaran yang menutup peluang munculnya kandidat lain sebagai upaya meretas jalan kebaikan demokrasi, tanpa melawan kotak kosong dan head to head.

            Realitas politik selalu erat berangkai dengan terciptanya suasana perbaikan sosial, ekonomi, dan budaya yang berkesinambungan dalam menciptakan masyarakat yang sejahtera lahir dan bathin. Ke sana pergumulan kekuasaan politik terarah dan hanya bisa terwujud dengan baik bila di dalam praktek berpolitik, para pemimpin berpijak pada moral dan etika politik. Pemimpin adalah amanah juga panutan, sering mereka lalai karena ketika telah berada di kursi kekuasaan, dominasi kekuatan oligarki (parpol pengusung, pemodal dan timses) menjadi kuat.

            Bukan barang baru, masyarakat pun sudah dibiasakan dengan budaya politik uang, membeli dan menjual suara, sehingga menerima pemberian hadiah dari para kandidat pemimpin (baik sebagai calon wakil rakyat maupun kepala daerah) baik berbentuk barang maupun uang tidak lagi dianggap salah atau menjadi sesuatu yang asing/aneh. Bila demikian, masihkan relevan analogi bahwa Vox Populi Vox Dei? Adakah uang sudah menggantikan Tuhan dalam ajang mencari pemimpin?

            Wajah politik kita memang selalu menarik untuk didiskusikan, mengapa? Tak ada hal yang lepas dari tanggung jawab setiap warga negara atau sebagai umat beragama guna mewujudkan dan mendorong kelahiran pemerintahan yang bersih dan berwibawa melalui partisipasi dalam pemilu. Seruan moral agar umat beragama sekaligus sebagai warga masyarakat tidak golput selalu menggema dari para kaum agamawan ketika pesta demokrasi pemilu datang. Hal ini baik adanya, karena nilai satu suara sangat berarti dalam menghasilkan pemimpin.

            Dalam terang iman, martabat politik terbuka untuk diperbaiki, dikoreksi dan akan terus mendapatkan suntikan spirit kebaikan, moralitas dan harapan (optimisme) masa depannya, di tengah semrawutnya praktek-praktek tidak terpuji yang mencoreng citra demokrasi sebagai pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat. Iman dan ajaran-ajaran kebaikan yang ada pada semua agama, hendaknya terus diperjuangkan bersama, digemakan sehingga para calon pemimpin diingatkan bahwa kekuasaan adalah perpanjangan tangan Tuhan di tengah dunia untuk melayani dan memperbaiki kehidupan bersama (bonum commune).

            Setiap perayaan besar agama selalu menyimpan pesan penting terhadap semua pemeluknya, minimal mengingatkan sebuah pesan besar yakni kita semua dipanggil untuk membawa dan memperjuangkan panji-panji kebaikan, keadilan, persaudaraan, cinta kasih dan mengangkat martabat kemanuasiaan. Begitu pun ketika merayakan Natal, kenangan akan peristiwa kelahiran Yesus Sang Mesias, Sang Pembebas, adalah momentum untuk merefleksikan dan menata kembali arah perjuangan hidup kita baik sebagai pribadi maupun dalam komunitas besar bermasyarakat.

Menghidupkan Iman

            Dengan demikian, keber-agama-an kita tidaklah sekedar sebuah jalan panggilan spiritual yang “kering” atau eksklusif tetapi selalu terbuka (inklusif) terlibat dalam menata dan memperbaiki dunia dengan segala bentuk keterlibatan aktif menyumbangkan berbagai hal baik demi kemaslahatan bersama. Religiositas lalu tidak semata sebuah jalan “menggapai surga” dengan menyepi di balik tembok sunyi yang mengabaikan dunia, melainkan berinteraksi merangkul ketidakpastian, kenyataan pahit dan menyembuhkan luka-luka dunia sekitar.

            Di tengah situasi krisis global yang serba tidak menentu dewasa ini, terutama terganggunya roda ekonomi sebagai akibat wabah virus Corona yang di luar prediksi itu, iman menjadi titik pijak yang paling pasti membuat manusia bisa tetap bertahan melewati masa-masa paling sulit. Iman, walaupun mendapat tantangan yang tidak kecil, berhadapan dengan berbagai  kesulitan hidup yang selalu menawarkan alternatif “jalan pintas” solutif yang sering membingungkan bahkan mencelakakan jati diri manusia, tetap menjadi pilihan pasti dan terbaik. Iman melampaui keraguan, semacam perahu kecil yang walaupun terombang-ambing di lepas pantai bergelombang, namun tetap bisa berlayar mencapai tujuan.

            Menghidupkan iman di era penuh kesulitan dan kesedihan yang melindas dunia saat ini, memang tidak mudah. Berbagai krisis akibat pandemi Corona telah menyebabkan munculnya rantai panjang kemurungan hidup, dari kehilangan mata pencaharian hidup akibat phk besar-besaran, kemiskinan, kesehatan yang bisa saja setiap saat memburuk, kelaparan dan lainnya. Sementara di sisi lain, mereka yang masih berada dalam taraf atau level hidup “bekelebihan” pun enggan tulus menjadi penyalur “berkat” bagi mereka yang kesulitan karena kalkulasi ketidakpastian akan masa depan dan nasib akibat tak terprediksinya kapan pandemi ini akan berlalu.

            Untunglah, pemerintah tyang sigap telah beberapa tahap mengucurkan dana bantuan tunai dan berupa barang sembako kepada masyarakat yang tidak mampu dan tergolong layak mendapat bantuan agar sedikit bisa mengurangi beban hidupnya yang mulai berat. Bantuan demikian sangat berarti bagi kondisi ekonomi yang sedang tidak sehat, mengingat dampak langsung dari epidemi Corona sangat dirasakan masyarakat menengah ke bawah yang menggantung hidupnya pada sektor ekonomi rumah tangga untuk menghidupi keluarga sehari-hari.

            Keterlibatan pemerintah mengatasi kebuntuan pendapatan ekonomi masyarakat kecil, telah menyelamatkan jutaan masyarakat yang terperangkap pada jalan menuju keputusasaan yang menanti di depan akibat kehilangan atau menurunnya pendapatan dari sumber-sumber keuangan mereka. Dalam hal inilah, pemerintah telah sekaligus menunjukan keteladanan bagaimana seharusnya kepekaan sosial harus bisa dimunculkan dalam situasi dan kondisi hidup bersama yang timpang. Tentu, apa yang dilakukan  oleh pemerintah tidak sepenuhnya bisa menolong mengatasi berbagai kesulitan yang dialami orang-orang disekitar kita, tanpa kita ikut berpartisipasi aktif dengan berbagai cara yang layak dilakukan untuk mereka yang membutuhkan uluran tangan.

Belajar dari Maria dan Yosep

            Masa sebelum kita merayakan Natal adalah apa yang disebut dengan Adven, dilewati selama 4 minggu. Ada dua tokoh sentral selama kita, umat Kristiani, mengarungi masa penantian itu, yakni Maria dan Yosep. Mereka adalah model atau teladan bagi kita, bagaimana seharusnya mempersiapkan diri dengan baik merayakan Natal sebagai peringatan kelahiran Yesus Kristus.

            Dari kedua tokoh spiritual ini, tergambar bagaimana iman dihayati dengan penuh kepercayaan, kerendahan hati dan penuh kesetiaan. Dalam situasi yang dicatat Kitab Suci sebagai serba sulit dan kekurangan, keduanya menjalani panggilan hidup dan tugas perutusan mereka dengan ikhlas dan tanpa protes. Sejak dikunjungi oleh malaikat Gabriel yang menyampaikan kabar gembira bahwa ia akan mengandung anak Allah, sampai peristiwa kelahiran puteranya di kandang hewan di Bethlehem yang sederhana, Maria dan Yosep menjalani semuanya dengan sukacita.

Jalan penderitaan, bukanlah menjadi penghalang bagi mereka untuk mundur dari rencana Allah bagi keselamatan umat manusia, tetapi jalan pengabdian tanpa pamrih. Yosep yang taat pada perintah malaikat ketika sedang bergumul dengan keragu-raguan memperistri Maria yang tengah mengandung dari Roh Kudus sampai mendampingi Maria dan bayi Yesus mengungsi ke Mesir menghindari pencarian Raja Herodes, merupakan figur panutan bagaimana seharusnya dalam situasi tapal batas, kita tetap berusaha bersikap tenang dan pasrah pada kehendak Allah yang penuh misteri dan Maha Tahu.

            Setiap tahun, umat Kristiani merayakan Natal, dengan suka cita dan syukur. Walaupun di tahun 2020 dalam situasi cemas akibat Covid-19 yang belum ada tanda-tanda akan berakhir, tidak mengurangi makna dan semangat merayakannya sebagai peristiwa iman penuh syukur dan harapan. Selalu ada harapan di tengah ketidakpastian hidup.

            Natal tidak hanya suatu perayaan romantisme belaka, napak tilas pada kisah suci yang dicatat Kitab Suci seputar peristiwa kelahiran Yesus lebih dari 2000 tahun yang lalu, tetapi lebih dari itu, merayakan Natal harus melahirkan suatu transformasi iman di mana iman menjadi “naik tingkat” dari sekedar ritual atau gerakan spiritual kontemplatif menuju gerakan aksi yang aktif, keluar dari “diri sendiri” masuk dalam kenyataan dunia yang memanggil kita untuk ikut berkarya menatanya agar lebih baik, lebih manusiawi dan layak dihuni oleh semua orang dari berbagai latar belakang tanpa sekat.

            Dalam segala aspek kehidupan, baik politik, ekonomi, sosial maupun budaya, kita membawa harapan baru yang bagai bintang terang di malam kelahiran Yesus Sang Juru Selamat, yang menerangi dan memandu arah jalan bagi para gembala dan 3 Raja dari Timur ketika mereka ingin menemukan di mana Sang Anak Allah berada. Dalam tugas dan profesi apa pun yang sedang kita jalani, hendaknya kita tak lupa bahwa kita dipanggil menjadi Bintang Terang, cahaya yang memandu orang lain menemukan suka cita, kegembiraan, keselamatan dan kebaikan.

(*Jimmy Carvallo, Penulis Lepas, tinggal di Ruteng.