Polres Manggarai Diminta Serius Tangani Kasus Penganiayaan Penyandang Disabilitas di Rahong Utara

0
974
Hipatios Wirawan, bersama Orangtua Korban Hendrikus Jenadar dan Keluarga saat berada di Polres Manggarai. (Dok. Kastra.co)

Kastra.co – Kepolisian Resort (Polres) Kabupaten Manggarai didesak untuk serius menangani kasus penganiyaan yang dialami oleh Romanus Nala (18), seorang penyandang disabilitas di Dusun Kondong, Desa Wangko, Kecamatan Rahong Utara Kabupaten Manggarai.

Hal itu disampaikan oleh Hipatios Wirawan, Kuasa Hukum dari orangtua korban Hendrikus Jenadar.

Hipatios mengungkapkan bahwa korban adalah penyandang disabilitas ganda, yaitu disabilitas rungu-wicara karena tidak bisa mendengar dan berbicara.

Hipatios Wirawan, SH (Dok. pribadi)

Menurut Hipatios, penanganan kasus ini harus dilakukan secara serius karena korbannya adalah orang cacat yang seharusnya dilindungi secara khusus oleh Undang-undang.

Dalam Pasal 1 Poin 1 Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas disebutkan bahwa Penyandang Disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.

“Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas dalam Pasal 5 ayat 1 poin V ditegaskan bahwa penyandang Disabilitas memiliki hak bebas dari tindakan Diskriminasi, penelantaran, penyiksaan, dan eksploitasi,” jelas Hipatios, Senin, 23 November 2020 di Ruteng.

Sementara pada ayat (3), lanjut pengacara muda ini, ditegaskan bahwa selain hak Penyandang Disabilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di atas, anak penyandang disabilitas
memiliki hak Untuk mendapatkan Perlindungan khusus dari Diskriminasi, penelantaran, pelecehan, eksploitasi, serta kekerasan dan kejahatan seksual.

“Undang-undang secara tegas memberikan perlindungan khusus terhadap penyandang disabilitas untuk bebas dari tindakan kekerasan fisik dan psikis sebagaimana diatur dalam pasal 26 UU tentang Penyandang Disabilitas,” papar Advokat Ferari ini.

Bahkan, jelas Hipatios, Pasal 128 ayat (2) mengatur bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menjamin Penyandang Disabilitas bebas dari segala bentuk kekerasan fisik, psikis, ekonomi, dan seksual.

Karena itu, Hipatios meminta agar penyidik segera menahan pelaku penganiayaan yang diduga dilakukan oleh FJ dan HJ.

“Ini tidak hanya memenuhi unsur tindak pidana penganiayaan tetapi juga melanggar ketentuan pidana pasal 145 UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas,” tegasnya.

Minta Pelaku Dipenjara

Sementara itu, orangtua kandung korban, Hendrikus Jenadar meminta pelaku untuk segera ditahan dan diproses pidana.

“Kami tidak mau lagi damai, karena pelaku ini sudah berulangkali melakukan tindakan penganiayaan terhadap keluarga kami. Apalagi, saat ini yang menjadi korban adalah anak kami yang tidak bisa mendengar dan berbicara. Itu yang membuat kami kecewa dan marah,” kata Hendrikus dengan nada sedih.

Ayah Korban, Hendrikus Jenadar. (Dok. Kastra.co)

“Kalau anak saya orang normal tidak apa-apa mungkin kami bisa memaafkan, tetapi anak saya kan tidak bisa bicara dan tidak mungkin bisa memancing emosi orang lain karena dia juga tidak bisa mendengar,” tutur Hendrikus saat diwawancarai di Ruteng, Senin, 23 November 2020.

Salah satu tokoh adat, Laurensius Jehabut mengungkapkan bahwa dalam kasus-kasus sebelumnya, terhadap pelaku sudah dilakukan upaya mediasi di rumah adat.

Tetapi, lanjut Laurensius, tidak ada perubahan tingkah laku dari pelaku.

“Kalau saya lihat tidak ada perubahan sikap. Makanya kami karena menghargai proses hukum. Kami merasa tidak nyaman kalau dia tidak diproses secara hukum,” ujar Laurensius.

Sebelumnya, dari pengakuan orangtuanya, korban mengalami luka memar di pundak, leher dan bagian bawah ketiak. Korban pun sudah melakukan visum et repertum di RSUD dr Ben Mboi, Ruteng.

Atas peristiwa ini, sekitar 40 orang anggota keluarga korban termasuk tokoh adat Gendang Tahang dan tokoh masyarakat mendampingi orang tua korban untuk melapor ke dua terduga pelaku penganiayaan itu ke Unit Reskrim Polres Manggarai pada, Senin (16/11/2020). (CBN)