Tokoh Goloworok : Status Anak Angkat Deno Memang Dicabut, Tidak Ada Yang Bohong

0
3166
Kampung Goloworok, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai

Ruteng – Tokoh kampung Goloworok Willem Patut mengemukakan pemberian status anak angkat kepada Bupati Manggarai (petahana) Deno Kamelus memang telah dicabut.  Pencabutannya tidak harus dengan membuat ritual adat seperti saat pemberian tetapi cukup dengan pernyataan pencabutan dari pemilik gendang Maras Sano yang memberikan status tersebut. 

“Tidak ada yang bohong.  Memang kita cabut status itu. Apa yang kami sampaikan pada Sabtu (7/11/2020) lalu, ya itu pencabutannya,” kata Willem di Goloworok, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Kamis (12/11/2020). 

Ia menjelaskan pemberian status anak angkat kepada Deno lima tahun lalu saat pencalonan Bupati Manggarai bersifat politis. Pemberian status itu diskenario sedemikian rupa oleh Tim Sukses (Timses) pasangan Deno Kamelus dan Viktor Madur Jilid I dengan memanfaatkan Gendang Maras Sano.  Tujuannya agar ketika menjadi Bupati, Deno bisa perhatikan secara khusus kampung Goloworok. Perhatian khusus itu berupa pembangunan yang masif di Desa Goloworok. 

Namun faktanya, tidak ada perubahan sama sekali. Lima tahun memimpin, tidak ada sesuatu yang luar biasa dilakukan Deno untuk kampung Goloworok. Goloworok biasa-biasa saja, bahkan cenderung mundur di zaman Deno. 

“Karena tidak sesuai harapan, ya kami cabut status. Itu kan status politis. Waktu itu, pemberiannya bersifat politis maka pencabutannya juga dengan cara politis juga,” jelas Willem. 

Willem yang sebagai keturunan pemilik Gendang Maras Sano menjelaskan pencabutan tidak perlu harus buat ritual adat. Pencabutan bisa juga dengan pernyataan terbuka seperti dikemukakan pada Sabtu (7/11/2020) lalu. Hal itu sebagai resiko dari pemberian status anak angkat yang bersifat politis. 

“Apa kami yang memberikan pernyataan status itu dicabut terus dibilang bohong? Kan kami dulu yang berikan status itu kepada Deno lima tahun lalu. Kalau kemudian dibilang status itu dicabut, apanya yang bohong? Kami punya kewenangan mengatakan itu karena telah memberikan itu lima tahun lalu,” tutur Willem. 

Dia mengemukakan pencabutan bisa saja dengan kembali membuat ritual adat. Tetapi resikonya harus memanggil kembali Deno yang menerima status tersebut. Sementara warga Goloworok yang memberikan status itu lima tahun lalu sudah kecewa dengan Deno yang tidak berbuat apa-apa terhadap Goloworok.

Di sisi lain, pembuatan ritual adat butuh biaya besar. Karena status politis maka  pencabutan cukup dengan pernyataan saja. Yang penting pernyataan itu keluar dari warga Maras Sano yang memberikan status itu lima tahun lalu. 

“Ingat, pemberian status itu di gendang Maras. Jadi kami punya hak untuk buat pernyataan bahwa itu dicabut,” ungkap Willem. 

Dia menyebut Yakobus Magus yang menghadap Deno Kamelus pada Minggu (9/11/2020), bukan orang yang memberikan status anak angkat. Bukan pula sebagai orang tua angkat dari Deno Kamelus. Dia dari gendang Wesang, sementara pemberian status anak angkat di gendang Maras. 

“Di Goloworok, ada dua gendang yaitu Wesang dan Maras Sano. Yang memberikan status anak angkat kepada Deno itu gendang Maras. Upacara pemberian status anak angkat lima tahun lalu di Gendang Maras, bukan Gendang Wesang. Yakobus Magus hanya dipanggil sebagai tukang tudak (membawa doa adat). Kalau dia mau angkat Deno sebagai anak angkat dan menjadi orang tua angkatnya, mestinya di gendang dia sendiri, bukan di gendang Maras. Ini diangkat di Gendang Maras, lalu dia bilang sebagai orang tua angkat. Dia hanya sebagai tukang tudak kok saat itu,” ujar Willem. 

Dia menambahkan rumah gendang Wesang merupakan pemberian dari gendang Maras Sano. Mereka diberikan karena sebagai status weta (cewek) dari nara (laki-laki) yang berada di gendang Maras. Dalam budaya Manggarai, status nara sebagai yang utama atau pemilik kampung. Sementara weta adalah ata peang (orang lain) yang bukan diwariskan sebagai pemilik kampung. 

Sementara tokoh Gendang Maras lainnya, Herman Friman Surijo Bandut menceritakan kronologis pemberian status anak angkat terhadap Deno lima tahun lalu. Disebutnya, tahun 2014, istri Deno Kamelus, Yeni Veronika menghadiri undangan sambut baru di Kampung Wela di rumah Sekretaris Desa.  

Saat itu, ada beberapa orang dari Goloworok yang hadir pada acara itu. Diantaranya, mantan Kepala Desa (Kades) Goloworok Fransiskus Darius Syukur yang kini sedang dilaporkan ke Kejaksaan Negeri Ruteng karena dugaan korupsi.  Saat menjabat, Fransiskus sangat dekat dengan Deno dan dipilih Deno sebagai Kades terbaik untuk Kabupaten Manggarai. Kemudian ada Frans Ganggut yang menjadi Tim Sukses (Timses) Yeni dan Timses Paket Deno Kamelus-Viktor Madur pada Pilkada 2015. 

Mereka yang hadir meminta Yeni Veronika diadakan acara wuat wa’i di Goloworok untuk memulai kampanye menjadi Calon Legislatif (Caleg) DPRD Provinsi NTT. Padahal sebelum ke Wela, Yeni sudah berpesan supaya tidak ada kumpul-kumpul orang karena hanya hadir memenuhi undangan sambut baru. 

Namun karena ada permintaan, akhirnya Yeni setuju. Kemudian Tim Sukses (Timses) Deno Kamelus dan Viktor Madur membuat rapat di rumah Gendang Sano Goloworok. Pada saat rapat, ada masyarakat yang bertanya apakah ada permintaan dari Yeni terkait buat acara wuat wa’i di rumah Gendang Maras Sano Goloworok. 

Yang menjawab salah satunya adalah Frans Ganggut. Frans tampaknya memainkan skenario bahwa itu permintaan dari Yeni untuk meyakinkan pemilik gendang Maras. Akhirnya pemilik gendang Maras dan beberapa tokoh bisa diyakini sehingga menerima acara wuat wa’i tersebut. 

Namun ketika ditanya ke Yeni, ternyata bukan Yeni yang meminta tetapi para pendukung yang meminta Yeni diadakan wuat wa’i di Gendang Maras Sano. 

“Ibu Yeni tidak pernah meminta buat acara wuat wa’i di Goloworok. Ibu Yeni bongkar sendiri saat orasi politik di acara wuat wa’i,” kata Firon, sapaan akrab Herman Friman Surijo Bandut saat mengenang kembali awal pemberian status anak angkat kepada Deno. 

Sejak acara wuat wai tersebut, mulailah hubungan dekat beberapa orang Goloworok dengan Deno Kamelus sampai diangkatnya menjadi anak angkat kampung Goloworok. Yang pertama diangkat adalah istri Deno yaitu Yeni Veronika. Kemudian disusul Deno saat maju Pemilihan Bupati Jilid I. 

“Kami dan orang tua kami sebagai pemilik dan pewaris Gendang Maras Sano merasa tidak ada dampaknya. Belakangan kami menyadari bahwa telah ditipu oleh beberapa loyalis dan pendukung Deno terkait pengangkatan status itu. Makanya di rumah Gendang Maras Sano sekarang ini, tidak mau lagi menyebut anak angkat untuk siapapun termasuk Deno-Madur terkait urusan politik,” jelas Firon. 

Dia menyebut pencabutan status itu untuk mendidik generasi muda kampung Goloworok, terutama keluarga Gendang Maras Sano agar tidak terjadi lagi kejadian seperti itu di kemudian hari. Karena pemberian status itu dimanfaatkan untuk kepentingan politik pasangan Deno-Madur lima tahun lalu.

Pencabutan itu juga dilakukan supaya masyarakat Goloworok tetap kritis terhadap pemerintahan Deno atau pemerintahan siapapun di masa mendatang. Karena yang terjadi selama ini, akibat status tersebut, daya kritis masyarakat Goloworok tersandera. 

“Pengangkatan Deno Madur sebagai anak angkat itu di Rumah Gendang Maras Sano. Rumah Gendang Maras Sano di Goloworok itu ada tu’a-tu’a (tokoh-tokoh) yang merupakan keturunan anak sulung dari keluarga Maras Nggalu. Mereka merupakan pemegang hak tunggal di dalam rumah Gendang tersebut,” ujar Firon. 

Dia merasa aneh ketika beberapa orang tua dari Goloworok yang merasa kecewa dengan dicabutnya status anak angkat untuk Deno-Madur. Padahal yang memberikan status bukan mereka tetapi dari Gendang Maras. Jika ingin mengangkat anak angkat, harus dari gendang sendiri, bukan di gendang Maras Sano. 

“Jadi posisi kami sebagai pemilik Gendang Maras adalah mencabut status itu. Tidak harus kami buat acara adat lagi. Cukup kami deklarasikan itu dicabut, sudah cukup buat kami,” tutup Firon.