Penantang Pilkada Manggarai “Boneka Politisi Pensiunan”

0
2025

Hasil Diskusi dan Evaluasi Tim Relawan Muda DM Jakarta

Masa kampanye pemilihan umum kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Manggarai sudah bergulir sejak 26 September lalu. Masing-masing pasangan calon gencar melakukan kunjungan politik ke seluruh wilayah di Kabupaten Manggarai. Semua demi memenangkan simpati pemilih.

Menarik untuk mencermati propaganda politik dari setiap pasangan calon.

Pasangan Deno-Madur (DM) sang petahana, dalam sejumlah orasi politiknya membangunkan narasi keberhasilan serta berjanji akan menuntaskan pembangunan yang masih dalam on going process. Dengan Tagline “Lanjutkan”.

Sebaliknya sang penantang Herri-Hery (H2N) yang sedang berusaha medelegitimasi kekuasaan yang ada selalu mendenggungkan narasi kegagalan petahana. Dengan Tagline “Perubahan”.

Kedua narasi politik ini tentu syarat akan kepentingan elektoral. Keduanya memang tak utuh dan bahkan jauh dari realitas yang sesungguhnya. Menarik untuk membedah.

Sang Penantang “Boneka Politisi Pensiunan”

Hampir tak ada yang viral dari gagasan sang penantang dalam berbagai orasi politiknya. Masih segar dalam ingatan publik Manggarai pidato Christian Rotok (Bupati periode 2005-2015) saat menghantarkan pasangan Calon H2N mendaftarkan diri di KPU Manggarai. Pidato dengan analogi “baju baru” dan “baju lama” mendapat perhatian khalayak yang cukup luas bahkan ramai diperbincangkan di lini massa sosial media. Ataupun orasi politik mantan Sekertaris Daerah (Sekda) Manggarai Manseltus Mitak mengenai kegagalan petahana juga ramai.

Keduannya berorasi lebih banyak menyindir dan tak menawarkan ide untuk bagaimana membangun Manggarai lima tahun kedepan. Sementara orasi politik pasangan calon sendiri hampir tak diminiti publik untuk didiskusikan.

Fakta ini benar-benar menunjukan penantang tak punya bargaining position dalam membaca persoalan yang ada di Manggarai. Penantang tidak punya daya tawar konsep ataupun gagasan yang bisa diseret ke meja diskusi. Benar-benar tak diminati publik Manggarai untuk diperbincangkan.

Menyadari keterbatasan ini, sang penantang pun lebih banyak mengakomodasi tokoh dan politisi pensiunan. Politisi ini adalah mereka yang tak diakomodasi kepentingannya selama petahana menjabat. Ataupun mantan pejabat sakit hati yang terganggu kepentingannya selama periode lalu.

Munculnya kedua tokoh pensiun (Rotok & Mitak) dan cukup sentral dalam panggung kampanye H2N meredupkan sosok panantang itu sendiri. Sungguh ironi, penantang yang seharusnya diharapkan datang dengan konsep dan gagasan barunya justru seperti menjalankan peran “boneka” dari politisi senior ini. Pasangan calon Herri-Hery seperti diperalat politisi tersebut.

Kekuasaan memang menawarkan banyak kemudahan bagi mereka yang memegang legitimasinya. Pengalaman kejayaan masa lalu politisi dan pejabat kawakan ini adalah bentuk post power syndrom. Mereka tak benar-benar nyaman dengan berakhirnya masa kekuasaan mereka. Jalan pintas untuk kembali menikmatinya adalah mendorong ataupum memperalat pasangan calon tertentu yang dianggap bisa mengembalikan kekuasaan mereka yang sebelumnya hilang.

DM Tetap Pemimpin Ideal Untuk Manggarai

Usaha untuk menyejahterakan masyarakat Manggarai di tengah persoalan yang sangat kompleks memang tak mudah. Setiap pasangan calon dituntut menampilkan program dan strategi yang masuk akal demi menjawab persoalan yang ada. Setiap pasagan harus punya kajian yang benar-benar komperensif dengan berbagai langkah out of the box untuk bisa keluar dari persoalan yang ada.

Dari analisis kami Deno-Madur (DM) berkat pengalaman menjabatnya tetap layak memegang tambuk kekuasaan Manggarai lima tahun kedepan. Program serta rutinitas di pemerintahan yang dijalankannya selama ini adalah gambaran program serta strategi untuk keluar dari pemasalahan yang ada. Dan masa kepemimpinan lima tahun yang akan datang pun hampir tak jauh berbeda dengan pencapaian saat ini.

Ini lebih nyata dibanding angin sorga yang di tawarkan penantang dengan tagline perubahan. Tagline Perubahan pun nyaris tak ada indikator program yang bisa diuji dan diukur masuk akalnya. Sampai saat ini pun masyarakat Manggarai belum mendapatkan penjelasan yang utuh tentang tagline perubahan itu sendiri.

Selayaknya penyusunan pogram harus bisa sinkron dengan berbagai indikator mendasar antara lain; kemampuan keuangan daerah, ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta kewenangan yang bisa digunakan; dll.

Sejatinya memilih adalah menguji nalar sehat pemilih membaca konsep, gagasan setiap pasangan calon sejauh mana masuk akalnya. Hanya dengan mempertentangkan masuk akal atau tidaknya konsep pasangan calon akan terwujudnya cita-cita yang diinginkan yaitu kesejahteraan bersama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here