Foto Truk vs Komodo Viral, Pulau Rinca Langsung Ditutup untuk Wisatawan 

0
228
Presiden Jokowi saat Berkunjung ke Pulau Rinca. (Setkab).

Kastra.co – Balai Taman Nasional Komodo menutup sementara kawasan wisata Loh Buaya atau Pulau Rinca setelah foto truk masuk ke kawasan habitat hewan endemis itu viral di media sosial. Pemberitahuan penutupan kawasan wisata tertuang dalam surat pengumuman Nomor PG 816/T.17/TU/EVLP/10/2020 tertarikh 25 Oktober 2020.

“(Surat itu) Benar. Untuk safety security wisatawan, pembangunan, dan satwanya juga,” tutur Direktur Utama Badan Otorita Pariwisata (BOP) Labuan Bajo Shana Fatina Sukarsono dikutip Tempo, Selasa, (27/10/2020).

Surat penutupan kawasan wisata ini ditandatangani oleh Kepala Balai Taman Nasional Komodo Lukita Awang. Penutupan dilakukan mulai 26 Oktober 2020 hingga 30 Juni 2021 di Resort Loh Buaya, Satuan Pengelolaan Taman Nasional, Taman Nasional Komodo.

Balai Taman Nasional Komodo akan mengevaluasi kebijakan penutupan kawasan setiap dua pekan sekali.

Adapun itu dilakukan untuk proses percepatan penataan dan pembangunan sarana-prasarana wisata yang dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Dalam suratnya, Lukita menjamin pembangunan kawasan wisata tetap mengutamakan keselamatan satwa komodo yang jumlahnya sekitar 60 ribu ekor—yang sering terlihat di lokasi pembangunan 15 ekor. Lukita juga memastikan akan menggelar persiapan atau briefing bagi pekerja, petugas, dan pengawas pembangunan untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja.

Sejak akhir pekan lalu, viral foto sebuah truk membawa besi pancang masuk ke area Pulau Rinca dan berhadap-hadapan dengan komodo. Potret ini mengemuka di media sosial Twitter, yang mulanya dibagikan akun @kawanbaikkomodo.

Foto kemudian memperoleh atensi publik dan menjadi ramai serta dibagikan kembali oleh sekitar 3.600 pengguna Twitter.

Kelompok sipil Manggarai Barat yang tergabung dalam Forum Masyarakat Peduli dan Penyelamat Pariwisata (Formapp) mengkritik masuknya kendaraan berat di habitat komodo itu. Forum pun bakal memboikot Labuan Bajo.

Aksi ini ditujukan kepada agen-agen wisata baik di dalam maupun luar negeri.

“Kami sudah inventarisasi seluruh travel agent yang datang ke Flores. Kami akan akan kirimkan email ke mereka, jangan ajak turis datang ke Komodo selama 5 tahun,” ujar Ketua Formapp Aloysius Suhartim Karya saat dihubungi Tempo, 25 Oktober.

Aloysius alias Louis berpendapat kendaraan berat ini telah mengganggu ekosistem komodo. Peristiwa tersebut, kata dia, merupakan kali pertama habitat komodo tercemar oleh deru mesin kendaraan. Ia lalu mendesak pemerintah untuk menghentikan pembangunan tersebut.

“Pembanguann yang sifatnya eksploitasi dan ekstraksi itu haram,” ucapnya.

Protes terhadap pembangunan Pulau Rinca di Labuan Bajo telah disampaikan Formapp sejak Januari lalu. Pada awal tahun, forum masyarakat menggelar demo terkait rencana pembangunan Pulau Rinca di Gedung DPRD NTT.

Di samping itu, Formapp telah mengirimkan surat ke Komisi Komisi IV, V , dan X DPR terkait aduan mereka. Terakhir, kelompok itu melayangkan surat ke UNSECO dan UNEP pada 9 September 2020.

Louis mengatakan, hingga kini forum masyarakat tidak pernah diberi kesempatan untuk berkomunikasi dengan pemerintah pusat secara langsung.

“Hasil komunikasi dengan lagislatif, mereka menyatakan tidak ada respons dari pemerintah pusat dan sampai hari ini kami tidak mendapat update. Jadi aspirasi kami diabaikan,” ucapnya.

Pembangunan kawasan Pulau Rinca meliputi lima pekerjaan. Pertama, pembangunan Dermaga Loh Buaya untuk meningkatkan kapasitas dermaga eksisting.

Kedua, pembangunan pengaman pantai yang berfungsi sebagai jalan setapak untuk akses masuk dan keluar wisatawan ke kawasan tersebut.

Ketiga, pembangunan elevated deck pada ruas eksisting yang berfungsi sebagai jalan akses yang menghubungkan dermaga, pusat informasi serta penginapan ranger, guide dan peneliti.

Keempat, pembangunan pusat informasi yang terintegrasi dengan elevated deck, kantor resort, guest house dan kafetaria.

Kelima, pembangunan penginapan untuk para ranger, pemandu wisata, dan peneliti yang dilengkapi dengan pos penelitian dan pemantauan habitat komodo.