Beginilah Kondisi Komodo di Tahun 1910-1969 

0
528
Salah satu Komodo yang ditembak mati untuk penelitian. (Foto: Instagram Video Sejarah)

Kastra.co – Dunia pertama kali mengenal Komodo setelah terbitnya laporan Peter A. Ouwens, Direktur Museum Zoologi Bogor pada tahun 1912, setelah sebelumnya seorang letnan Hindia Belanda bernama van Steyn van Hensbroek yang mendengar rumor adanya naga datang dan menembak mati seekor Komodo, kemudian mendokumentasikannya untuk diteliti.

Sementara itu dilansir Historia.id, Selasa, (27/10/2020) disebutkan pada tahun 1926, seorang ilmuwan berkebangsaan Amerika bernama William Douglas Burden mendarat di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur. Pulau yang letaknya di antara Sumbawa dan Flores itu menjadi rumah bagi reptil purba yang masih hidup di dunia yakni komodo (Varanus komodoensis). Burden memulai perjalanan menemukan keajaiban dunia tersebut.

Ekspedisinya di awal abad ke-20 ini tidak dilakukan sendiri. Burden membawa serta istri dan sejumlah ilmuwan, termasuk herpetologis –seorang zoologi yang fokus mempelajari reptil dan amfibi– Dr. E.R. Dunn. Ia juga mendapat dukungan dari Museum Sejarah Alam Amerika Serikat untuk penelitiannya ini. Sejak pertama tiba di Pulau Komodo, Burden dibuat takjub oleh kondisi alamnya. Melalui Dragon Lizards of Komodo: an Expedition to the Lost World of the Dutch East Indies, Burden menuliskan pengalamannya tinggal di sana.

“Kami seakan sedang melihat sebuah pemandangan dari zaman prasejarah terbentang di depan mata kami. Di mana-mana pohon palem besar, bernama Gubbong, tumbuh. Ini merupakan sebuah dataran sendu, rumah yang cocok bagi makhluk aneh yang telah hidup sejak zaman tercipta. Dan karena itu pula, daerah ini tampaknya sesuai sebagai sarang kadal pemangsa besar,” tulis Burden.

Juni 1926, Burden dan seluruh anggota ekspedisi mendarat di Telok Sawa (Teluk Slawi). Setelah berbulan-bulan berada di laut, mereka akhirnya bisa mencapai daratan yang dicari. Bergegas Burden membangun perkemahan di sana. Meski hanya bermodalkan kayu dan anyaman daun, ia berhasil mendirikan tempat tinggal sementara. Pemondokan yang dibangunnya sangat sederhana, berbentuk panggung hampir tanpa dinding.

Untuk bahan makanan sendiri tidak menjadi soal untuk kelompok itu karena rusa dan babi hutan dalam jumlah besar berkeliaran di seluruh pulau. Bahkan tanaman konsumsi pun melimpah. Sebagai seorang yang senang berburu, Burden mendapat tugas mengumpulkan bahan makanan. Suatu waktu, ketika sedang berburu rusa, Burden bertemu dengan komodo pertama dalam hidupnya. Pada sebuah bukit landai yang ditumbuhi rerumputan pendek, reptil raksasa itu berjalan mencari buruannya.

“Seekor monster zaman purba di sebuah lingkungan primitif cukup untuk membuat jantung setiap pemburu merasa berdegup kencang. Jika saja ia hanya berjalan dengan kaki belakangnya, seperti yang baru saja saya tahu bahwa mereka ternyata benar-benar bisa melakukannya, maka gambaran seekor dinosaurus ini akan lengkap,” ungkap Burden.

Komodo pertama yang dilihat Burden ini diperkirakan memiliki panjang antara 20-30 kaki (sekitar 6-9 meter). Lidahnya berwarna kuning terjulur keluar masuk berkali-kali. Kepala besarnya berayun ke kiri dan ke kanan. Burden terkejut dengan gerakannya yang cukup cepat untuk ukuran hewan sebesar itu.

Setelah diamati lebih dalam, terlihat ada sejumlah bekas luka di tubuhnya. Si peneliti menduga reptil ini belum lama terlibat dalam pertarungan dengan sesamanya. Meski hanya mengamati dari kejauhan, Burden yakin bahwa si komodo sulit didekati. Warna tubuhnya yang begitu hitam memberi kesan hewan itu tidak ramah.

“Dengan cara yang aneh ia tiba-tiba menghindar dari saya dan lenyap dari pandangan. Ia seakan-akan hilang ditelan bumi. Seandainya bisa menceritakan dengan rinci apa yang saya lihat pada hari itu kepada anggota gabungan museum Amerika, maka seluruh ekspedisi ini akan menjadi lebih berarti,” ucap Burden.

Esok harinya Burden kembali ke tempat ia menemukan reptil pertamanya bersama sejumlah anggota tim. Ia bermaksud mengabadikannya. Namun setelah beberapa waktu menunggu, ia tidak berhasil mendapatkan apa yang dicari. Ia hanya bertemu seekor komodo yang setelah diukur panjangnya tidak lebih dari 3 meter, jauh lebih kecil dari reptil yang ia temui di hari sebelumnya.

Meski tidak menemukan komodo besar yang dimaksud, Burden tetap melanjutkan penelitiannya di pulau tersebut. Jika biasanya ia membawa reptil besar itu dalam keadaan mati, kali ini Burden mencoba menangkapnya hidup-hidup. Berbekal peralatan dari Batavia (Jakarta), Burden membuat sebuah jebakan dari kayu dan kawat. Sebagai umpan, ia menyimpan beberapa bangkai binatang di dalamnya. Namun proses penangkapan hewan itu tidak mudah. Hingga pada percobaan kesekian kali, tim ekspedisi dari Amerika Serikat itu akhirnya berhasil menangkap satu komodo berukuran sedang.

Komodo itu dibawa ke perkemahan dengan cara diikat. Merasa sudah aman dengan hewan tangkapannya, Burden pun sedikit lengah. Ia membiarkan reptil itu tanpa penjagaan. Ketika pagi tiba, Burden dan anggota lain terkejut ketika melihat kandang yang menyimpan komodonya telah rusak. Isi di dalamnya pun sudah tidak ada. Komodo itu berhasil melepaskan ikatan dan merusak kandang yang mengurungnya.

“Kecolongan kali ini merupakan kekecewaan paling besar dari seluruh ekspedisi,” kata Burden.

Setelah itu, ia dan tim berhasil mengumpulkan banyak sampel dan foto reptil raksasa itu. Burden pun dikenal sebagai salah satu ilmuwan yang mengabdikan dirinya kepada penelitian di Pulau Komodo, meneliti perilaku hewan besar ini.

Video keadaan komodo di tahun 1969.