Propaganda Teror di Tengah Pandemi Covid-9

0
235

Oleh : Vestina Ria Kartika

Kemajuan teknologi informasi digital khususnya sosial media, membuat informasi dan peristiwa di dunia tak lagi berjarak. Kesesatan informasi mulai muncul akibat tipisnya batas fakta, opini dan hoaks yang dihadirkan lewat media sosial. Informasi sering dipenggal sesuai kepentingan, diolah, memisahkan teks dengan konteks, memunculkan hoaks, kemudian diviralkan dengan dibumbui ujaran kebencian tanpa mampu diliterasi dengan baik oleh penerima pesan/masyarakat. Akibatnya, peristiwa tertentu di suatu wilayah negara dapat menimbulkan gejolak di suatu tempat di negara yang lain hanya dalam waktu yang singkat.


Kemajuan teknologi informasi tidak hanya memberi kemudahan melainkan juga bahaya besar yang akan dihadapi dalam hidup dan kehidupan manusia baik secara individu, bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan terorisme yang jejaringnya mampu melintasi batas suatu negara. Terorisme merupakan ancaman peradaban, dan merusak nilai kemanusiaan. Setiap negara-negara di dunia telah menyatakan untuk memberantas terorisme. Momen Pandemi menjadi tantangan tersendiri bagi upaya memberantas terorisme.


Propaganda Teror & Pandemi Covid19


Sejak COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi global oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada pertengahan Maret 2020, CTED (Counter-Terrorism Committee Executive Directorate United Nation) mengidentifikasi cara kerja baru kelompok teroris global di tengah masa pandemi. Bahaya virus mematikan ini dieksploitasi menjadi senjata Propaganda teror dengan memanfaatkan sosial media sebagai arena menyebarkan berita bohong, hoax dan ketakutan massal. Situasi Pandemi seolah memberi ruang bagi penyebaran propaganda yang masif dan sistematis.


Propaganda Teror oleh kelompok teroris menjadi semakin kuat karena beberapa alasan berikut ; Pertama Captive Audience. Populasi global, termasuk lebih dari 1 miliar siswa tidak lagi dalam pendidikan normal penuh waktu. Sebagian besar menghabiskan lebih banyak waktu untuk menjelajahi ruang maya (online). Meningkatnya jumlah orang muda yang terlibat dalam penggunaan Internet tanpa pengawasan – khususnya di platform game – menawarkan kesempatan kepada kelompok teroris untuk mengekspos ide-ide mereka kepada lebih banyak orang. Meningkatnya kejahatan dunia maya juga dapat menyebabkan peningkatan konektivitas antara teroris dan pelaku kriminal.


Kedua Furthering narratives. Beberapa kelompok teroris telah mengintegrasikan COVID-19 ke dalam narasi dan propaganda mereka. Mereka menggunakan pandemi untuk mengeksploitasi perpecahan dan kelemahan pihak yang dianggab musuh. COVID-19 seperti bahan bakar bagi narasi teroris, dengan kiasan yang bertujuan meningkatkan kebencian terhadap kelompok tertentu. Maka terciptalah sejumlah ujaran kebencian bernada rasis, anti-Semit, Islamofobia, dan anti-imigran. Narasi-narasi ini telah dipadukan dengan berbagai teori konspirasi, terutama oleh kelompok ekstrim kanan, misalnya isu teknologi 5G sebagai sarana penyebaran virus.


Ketiga Alternative service providers. Pandemi juga dapat memberi kelompok teroris (terutama mereka yang beroperasi di daerah di mana kehadiran Negara sudah lemah atau diperebutkan) kesempatan untuk mengganti peran negara menyediakan pelayanan kesehatan alternatif. Kegagalan negara menangani pandemi telah dimanfaatkan untuk mempromosikan kekerasan anti-Negara dan sentimen SARA. Lembaga keuangan juga menjadi sasaran propaganda ketidakpercayaan yang kemudian memicu penarikan tunai masif di berbagai negara. Masuknya uang tunai ke sektor informal dalam jumlah besar dapat dimanfaatkan oleh organisasi kriminal dan teroris tanpa kontrol Negara.


Memikirkan Upaya Pencegahan


Mengingat bahaya COVID-19 telah dimanfaatkan untuk tujuan propaganda teroris, maka negara wajib memikirkan cara menangkal proses radikalisasi. Salah satu cara yang dapat dipakai adalah melalui dakwaan terorisme. Dakwaan ini dapat berlaku bagi individu yang dengan sengaja berusaha menulari orang lain dengan COVID-19 atau menyebarkan propaganda kebencian dan memicu kekerasan selama pandemi. Pengawasan digital massal pun perlu diterapkan. Melacak teroris di antara populasi memerlukan pemantauan digital yang masif dan tersistem dengan baik.


COVID-19 dapat digambarkan sebagai “badai yang sempurna untuk penyebaran informasi yang salah”. Beberapa analis telah memprediksi kemungkinan dampak ekonomi dari pandemi ini akan lebih besar daripada peristiwa apa pun sejak Great Depresion. Hal ini akan menekan anggaran pemerintah karena tekanan yang muncul dari publik untuk memotong anggaran kontra-terorisme. Alasan pemotongan anggaran dipaksakan karena pengeluaran kontra terorisme di tengah pandemi dianggab tidak masuk akal dan tidak berdampak langsung pada masalah kesehatan masyarakat. hal ini bisa jadi sangat berbahaya bagi negara-negara dengan anggaran kontra-terorisme yang telah berada pada porsi yang ideal selama dua dekade terakhir. Imbas dari pemotongan anggaran tentunya akan berdampak negatif bagi upaya memerangi terorisisme dalam skala nasional dan internasional.


Negara dapat menyelaraskan kembali pendanaan termasuk dengan memprioritaskan tindakan keamanan seperti pengawasan digital, penindakan kejahatan terorisme digital dsb. Negara untuk sementara dapat mengesampingkan program terorisme jangka panjang dan fokus pada bahaya propaganda teroris di tengah pandemi. Karena kita semua sadar bahwa pandemi menjadi tantangan besar bagi upaya bersama melawan terorisme.