Video: Patung Jan Pieterszoon Coen Dirubuhkan 7 Maret 1943

0
226
Foto: Istimewa

Kastra.co – Sejak 1942, sebagai penguasa baru Hindia Belanda, Jepang banyak menyingkirkan pelbagai hal yang berbau Belanda. Penggunaan bahasa Belanda dilarang, mengganti nama beberapa ruas jalan, membongkar sejumlah patung, dan lain-lain.  

Sebagai contoh, Jalan van Heutz diganti menjadi Jalan Imamura, lalu setelah Indonesia merdeka diganti lagi menjadi Jalan Teuku Umar.

Sementara pembongkaran patung salah satunya terjadi di Lapangan Banteng yang dulu disebut Waterlooplein. Di sana berdiri tegak patung Jan Pieterszoon Coen, mantan Gubernur Jenderal VOC. Menurut Firman Lubis dalam Jakarta 1950-an: Kenangan Semasa Remaja (2007:38), lapangan ini kerap menjadi tempat parade militer KNIL karena markasnya berada tak jauh dari lapangan tersebut.

Thierry Baudet, politikus Belanda keturunan Indonesia-Eropa, tak ragu meletakkan bunga di patung Jan Pieterszoon Coen lain yang berdiri di Hoorn, Belanda. Bagi Baudet, Coen adalah sosok yang layak dicintai. Soal kolonialisme Belanda, Baudet tak mau ambil pusing.

Orang-orang Betawi, kata Alwi Shahab dalam Robinhood Betawi: Kisah Betawi Tempo Doeloe (2001:26), menyebut Jan Pieterszoon Coen sebagai Jangkung atau Murjangkung. Patung Coen di Lapangan Banteng setinggi 4,10 Meter.

“Betul-betul Jan Coen alias jangkung,” tulis Bang Bedjat, di Koran Pembangunan (09/03/1943).

Bang Bedjat adalah nama pena Anwar Tjokroaminoto (1909-1975), putra Haji Omar Said Tjokroaminoto (1882-1934). Bang Bedjat menulis bahwa Pak Jangkung adalah yang mendirikan kota Betawi.

Patung Jan Pieterszoon Coen dibongkar oleh Jepang pada siang hari tanggal 7 Maret 1943, setahun kurang sehari setelah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada balatentara Jepang di Kalijati, Subang.

Menurut Bang Bedjat, penduduk Batavia bersikap tenang-tenang saja dengan keberadaan patung tersebut. Orang-orang Indonesia di zaman Jepang tampak tidak ambil pusing, apalagi sampai merusaknya. Hal tersebut mungkin karena mereka masih banyak yang buta huruf sehingga tidak paham siapa Coen sebenarnya.

Bang Bedjat menambahkan, merusak patung adalah hal yang tidak ksatria. Orang Indonesia zaman itu tidak memperlakukan patung Coen seperti musuh yang harus diperlakukan seperti binatang.

“Kalau kagak ada sifat-sifat ksatria, jangan-jangan patung itu diarak ke pasar malam, lantas di sana [dipakai] buat permainan tombola (undian) atau tembak-tembakan,” tulis Bang Bedjat.

Setelah dibongkar pada 7 Maret 1943, patung itu kemudian dipindahkan.

“Kemaren baru ditarik di atas mobil gerobak ke Kota Inten,” tulis Bang Bedjat. Mobil gerobak maksudnya semacam mobil bak terbuka seperti sekarang. Kota Inten yang dimaksud kemungkinan besar adalah kawasan dekat Jembatan Kota Inten, di Kota Tua, Jakarta.

Menurut Adolf Heuken, patung Jan Pieterszoon Coen yang terbuat dari perunggu itu dibangun pada 1876 di depan Gedung Keuangan yang dulu sempat jadi istana.

“Dikatakan bahwa patung itu sesungguhnya tiruan patung Raja Swedia Gustav Adolf yang berdiri di Universitas Upsala,” tulis Heuken dalam Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta (2016:292).

Patung itu baru dihancurkan setelah Indonesia merdeka. Tempo (24/06/1994) melaporkan bahwa patung Murjangkung dihancurkan massa yang berdemonstrasi sekitar tahun 1963-1964, ketika gelombang anti neokolonialisme sedang menghangat.

Patung Murjangkung di tahun-tahun terakhir pemerintahan Presiden Sukarno, tentu sudah dipahami orang-orang Indonesia sebagai lambang kolonialisme Belanda di masa lalu.