Potensi Aset Wisata di Manggarai Timur

0
507

Oleh: Epin Solanta (Sosiolog Muda Asal Manus, Manggarai Timur)

Kastra.co – Kabupaten Manggarai Timur merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memiliki banyak aset pariwisata. Dari sekian banyak aset pariwisata tersebut, yang cukup familiar di kalangan publik adalah Pantai Cepi Watu, Danau Rana Mese, Pantai Liang Bala, Danau Rana Tonjong, Padang Mausui, Jembatan Pelangi (Rombeng) dan Pantai Waewole.

Tempat-tempat ini seringkali menjadi objek wisata bagi masyarakat di Manggarai Timur dan juga masyarakat yang berasal dari luar kabupaten Manggarai Timur. Meskipun jika ditelusuri lebih jauh lagi, masih banyak potensi atau aset pariwisata di Manggarai Timur yang selama ini belum diekspos dan diberdayakan secara maksimal, baik oleh pemerintah kabupaten Manggarai Timur pada umumnya, maupun juga oleh LSM dan juga pemerintah desa setempat.

Tingkatkan Promosi

Era keterbukaan informasi yang sudah dimediasi oleh teknologi sesungguhnya memberikan ruang kebebasan bagi kita untuk mengekspresikan diri. Kehidupan kita dalam dunia nyata, dalam hitungan detik bisa ditonton oleh penduduk dari belahan dunia lain dalam realitas media.

Dalam hubungannya dengan dunia pariwisata, kunci utamanya adalah kemampuan untuk mempromosikan beberapa aset wisata atau pun juga perilaku masyarakat yang menjadi kearifan lokal suatu daerah melalui media teknologi seperti gadget. Dalam beberapa bulan terakhir, saya angat intens mengikuti postingan yang menarik pada salah satu akun facebook bernama Eljo.

Beliau dalam kapasitasnya sebagai ASN di Manggarai Timur sangat aktif mempublikasikan beberapa tempat wisata di Manggarai Timur. Saya pikir ini adalah langkah awal yang sagat bagus dan perlu menjadi role model utamanya bagi generasi muda yang sangat melek teknologi.

Bagaimana mempromosikan aset wisata suatu daerah? Mungkin kita berpikir terlampau sulit untuk mempromosikan aset wisata di suatu daerah. Sebenarnya sangat mudah sekali, misalnya dengan melakukan pemotretan menggunakan gadget, kemudian disertai dengan caption yang singkat, lalu dipublikasikan di media sosial.

Atau jika ingin lebih kreatif lagi misalnya dengan membuat vlog atau video lalu diunggah di media sosial. Ini adalah cara yang sangat sederhana dan tidak membutuhkan waktu yang lama, jauh dari kesan yang ilmiah. Karena hal-hal yang besar dan luar biasa selalu berawal dari hal-hal kecil dan sederhana.

Jika kita sudah memulainya dengan hal kecil dan sederhana tadi, maka dengan sendirinya (dalam dinamika) selanjutnya akan mendapatkan atensi atau perhatian penuh dari pemerintah suatu daerah, misalnya melalui peran dinas pariwisata.

Sinergisitas Mengembangkan Aset Wisata

Tantangan terbesar dalam mengembangkan aset pariwisata di suatu daerah adalah sikap pesimis, tidak percaya diri dan ketergantungan yang tinggi terhadap pemerintah daerah. Konsep berpikir seperti ini yang selalu terkontaminasi dan dikonstruksikan secara sosial dalam diri masyarakat (termasuk masyarakat Manggarai Timur).

Bahkan tidak sedikit dari kita yang melihat kearifan lokal suatu daerah seperti situs-situs adat (rumah adat, compang, pohon beringin), danau dan bukit yang indah itu sebagai benda mati yang tidak bisa diberdayakan lagi.

Memang secara kasat mata iya, bahwa semuanya itu adalah objek mati dan tak bersuara. Tetapi bagaimana cara kita untuk mengaktifkannya, lalu kemudian dijadikan sebagai aset suatu daerah merupakan perwujudan dari daya kreatif dan inovasi bersama.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, kata kuncinya adalah sinergisitas, antara masyarakat lokal dan pemerintah daerah. Masyarakat sebagai subyek aktif yang berdekatan dengan aset-aset pariwisata misalnya harus bisa mengaktifkan daya imajinasi untuk mengembangkannya sebagai suatu destinasi yang memikat hati banyak orang.

Sementara itu, pemerintah daerah utamanya melalui dinas pariwisata secara aktif ikut memetakan serta memberdayakan aset-aset yang ada bersama masyarakat. Tentu saja, tantangan yang paling besar dalam konsep pemberdayaan adalah modal (finansial) dan juga potensi konflik kepentingan.

Tidak sedikit aset-aset pariwisata di Manggarai Timur dibiarkan begitu saja oleh karena minimnya modal (finansial) untuk kepentingan operasional. Contoh sederhana misalnya akses jalan (infrastruktur) yang masih sulit dan juga infrastruktur teknologi seperti jaringan internet dan listrik yang belum tersedia.

Faktor lain yang juga menjadi penyebab sulitnya mengembangkan aset-aset tersebut adalah potensi konflik kepentingan dalam tubuh masyarakat lokal. Setiap usaha untuk memodernisasi suatu daerah, pasti selalu berhadapan dengan penolakan dan pengakuan. Ini menjadi salah satu penghambat upaya mengembangkan pariwisata suatu daerah.

Menyikapi dua permasalahan ini, diperlukan koordinasi yang jelas dan terpadu misalnya dengan memanfaatkan dana desa sebagiannya untuk kepentingan promosi aset wisata di suatu daerah. Di samping dana yang sudah dialokasikan khusus untuk kepentingan promosi wisata oleh suatu daerah.

Sementara itu, untuk permasalahan konflik kepentingan, perlu digiatkan kembali budaya lonto leok sebagai roh dan spirit dasar bagi masyarakat Manggarai pada umumnya ketika berhadapan dengan situasi konflik.

Sebab bagaimana pun juga, kebudayaan suatu daerah baik yang sifatnya tangible maupun intangible harus tetap diwariskan untuk kemudian menjadi icon sekaligus sumber pendapatan bagi suatu daerah.

Kiranya langkah awal yang sudah dilakukan oleh beberapa ASN, komunitas dan pelajar di Manggarai Timur selama ini untuk mempromosikan aset-aset wisata menjadi penyemangat bagi kita semua.