Kisah Hidup Deno Kamelus, Anak Petani Yang Jadi Bupati

0
1986

Ruteng, Kastra.co – “Apa yang biasanya disebut sebagai kesempatan, kebetulan atau takdir pun dibawah kuasa Allah”. “Undi dibuang di pangkuan tetapi setiap keputusannya berasal dari pada Tuhan (Amsal 16:33)

Arti dari ayat Alkitab diatas menunjukan bahwa Allah senantiasa dapat mengubah nasib Kita dan cocok menggambarkan kehidupan Deno Kamelus.

Mengulang Kisah

Secangkir kopi manis dan sepiring pisang goreng temani pertemuan dua orang Jurnalis dan keluarga Deno Kamelus di Kelurahan Pagal, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai sore itu.

Pertemuan tersebut memang sudah direncanakan sehari sebelum sehingga kedatangan dua orang Jurnalis sudah diketahui oleh keluarga.

Pertemuan yang bersahabat itu pun diisi oleh gelak tawa, canda ria dan sharing pengalaman keluarga Deno Kamelus.

Kopi yang tadi mengawali pertemuan akhirnya tidak lagi kepulkan uap, kayaknya sudah tidak panas, pasalnya diantara pertemuan itu hadir seorang perempuan paru baya bernama Yustina Ilu (59), Saudari Kandung Deno Kamelus yang sangat mengenal sosok Saudaranya. Ia berapi-api menceritakan kisah hidup Deno Kamelus hingga membuat orang yang mendengarnya merasa terlarut dalam cerita sampai lupa menegukan kopi.

“Kita lanjut terus minum kopi sambil ngobrol” ajak keponakan Deno Kamelus, Mansi Adang yang juga Pemilik Rumah saat itu.

Yustina pun akhirnya lanjut mengisahkan kehidupan Deno Kamelus. Kisah seorang anak Petani miskin, yang sengsara tapi tahan banting dan akhirnya sukses lalu jadi Bupati.

“Kami anak petani, dari dulu sudah merasakan kerasnya hidup, tahan sengsara dan selalu bekerja keras untuk menyambung hidup” kata Yustina.

Di mata Yustina, Deno Kamelus adalah Saudara yang rendah hati, penurut, bijak, jujur dan pekerja keras sehingga tak jarang keluarga membanggakannya.

Yustina berkisah bahwa Deno Kamelus memang memiliki sejarah masa kecil yang haru. Sejak bersekolah di SDK Wudi tahun 1966 sampai 1972 dan SMP Umat Pagal tahun 1973 sampai 1975 Ia harus bersusah paya mengejar cita-cita di tengah ekonomi orang tua yang terhempit.

Anak ketiga dari pasangan Suami Isteri (Pasutri) Aloysius Mbeok dan Veronika Wanur ini memang selalu menghadapi berbagai tantangan dan kendala sejak Ia bersekolah di SDK Wudi, mulai dari keterbatasan ekonomi, sarana dan prasarana maupun akses menuju sekolah.

Bayangkan saja, saban hari Deno harus melewati jalan kecil yang dililiti hutan, penuh batu tajam untuk sampai ke SDK Wudi yang jaraknya kurang lebih 3 KM.

Kondisi kala itu tidak membuat Pria Kelahiran Rakas, Desa Golo Rado, Kecamatan Cibal, 2 Agustus 1959 itu patah semangat. Ia malah menjadi motivator bagi Adik-adiknya untuk tetap bersekolah.

“Harus sekolah karena sekolahlah yang dapat merubah nasib kita” ungkapan Deno kala itu yang masih terngiang di telinga Yustina.

Selain itu, kata Yustina, saat pulang sekolah Deno selalu punya giat untuk membantu orang tua pergi ke Sawah dan sebagian dari hasil Sawah itu dijual ke Pagal dan Ruteng untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Mereka.

Beras itu dijual sendiri oleh Deno ke Ruteng dengan menggunakan Kuda. Kalau Kuda sedang dipakai orang lain maka Deno harus berjualan beras dengan berjalan kaki.

Pada suatu ketika sekitar tahun 70 an, kisah Yustina, Deno pernah tidur di Sekolah karena pada saat itu Mereka harus membantu Guru membuat pagar.

Mereka hanya makan malam di Rumah Guru, sedangkan makan siang harus dibawa dari Rumah masing-masing. Yustina yang pada saat itu pun membantu Saudaranya Deno untuk mengantar makanan ke Sekolah.

Yustina menambahkan bahwa makanan yang paling disukai Deno pada saat itu nasi jagung yang sudah dicampur minyak daging.

“Kalau mama bakar daging pasti Dia (Deno) akan ambil minyaknya. Kemudian diperasnya dan dicampur ke nasi jagung untuk dimakan” tutur Yustina mengisahkan.

Yustina juga mengaku bahwa Sang Ayah yang bernama Aloysius Mbeok sering menasehati anak-anaknya agar rajin belajar dan terus mengejar nasib serta jangan lupa berdoa.

Itulah sebagian kisah Deno Kamelus yang sempat direkam oleh Jurnalis saat berkunjung kesana.