Merdeka Belajar Menurut Film Freedom Writers

0
689

Oleh: Yohanes P. Albino

Kastra.co – Akhir-akhir ini “Merdeka Belajar” menjadi topik hangat semenjak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) memperkenalkannya sebagai paradigma baru pendidikan. Ada beragam situasi dan persoalan yang melatarbelakanginya. Beberapa darinya, yakni adanya keluhan terhadap kurikulum dan praktik pendidikan yang membebankan siswa dan guru.

Para guru dijejali dengan begitu banyak tugas administrasi, di samping tugasnya untuk mengajar dan mendidik. Siswa pun seringkali dijejali dengan begitu banyak pengetahuan dari pelbagai dispilin ilmu. Selanjutnya mereka seakan dipaksa untuk berkompetisi, mengejar ranking, dan memenuhi standar yang ditetapkan pemerintah, sekolah, guru, dan masyarakat.

Selain itu, terdapat kondisi fasilitas yang tidak sehat dan lingkungan yang tidak nyaman. Beberapa sekolah juga acapkali menjadi locus berkembang dan menjamurnya aksi kekerasan, bully, pelecehan, diskriminasi, dan lain sebagainya. Selain itu, terdapat kenyataan di mana peraturan dan kebijakan di sekolah membebankan siswa, guru, dan orang tua. Ada pula keluhan terhadap pembelajaran yang lebih berorientasi pada mengumpulkan pengetahuan dan meraih prestasi individu, tetapi mengabaikan proses yang menyenangkan.

Lebih dari itu, sampai saat ini praktisi pendidikan masih dibelenggu situasi kegamangan untuk menentukan praksis pendidikan yang tepat; antara transfer pengetahuan atau penanaman nilai; antara mengajar tentang nilai atau menghayati nilai melalui proses pembiasaan. Beberapa hal ini hanyalah sekelumit kenyataan yang mensinyalir proses/realitas belajar yang tidak menyenangkan atau tidak memerdekakan.

“Merdeka Belajar” dipercaya dapat mengatasi persoalan-persoalan tersebut. Kemendikbud menurunkan Program Merdeka Belajar dengan fokus pada empat hal pokok, yakni: Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Ujian Nasional (UN), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi.

Berdasarkan keempat hal tersebut, bagaimana praksis merdeka belajar yang sebaiknya? Tulisan ini ditujukan untuk menjawab pertanyaan ini. Jawaban atas pertanyaan ini merupakan ringkasan atas hasil refleksi penulis atas Film Freedom Writers.

Freedom Writers merupakan film yang diangkat dari kisah nyata tentang perjuangan seorang guru di wilayah New Port Beach, Long Beach, California. Film ini diproduksi Paramount Pictures yang rilis pada tahun 2007. Film yang disutradari oleh Richard Lagravenes ini mengisahkan tentang tokoh wanita berpendidikan tinggi, Erin Gruwell, yang datang ke Woodrow Wilson High School. Di sekolah tersebut ia mendapat tugas untuk menjadi seorang guru Bahasa Inggris di ruang 203, sebuah kelas untuk korban kekerasan antar-geng rasial.

Merdeka Belajar menurut Film Freedom Writers

Beberapa hal berikut ini merupakan interpretasi tentang paradigma merdeka belajar berdasarkan Film Freedom Writers. Merdeka Belajar terjadi ketika:

Guru dan siswa merasa merdeka. Dalam cerita, Erin membebaskan dirinya dari bayang-bayang harta yang mungkin akan dimilikinya ketika dia bekerja bersama ayahnya. Erin juga memerdekakan dirinya dari paradigma umum yang berkembang di sekolah tersebut bahwa tugasnya berat dan tidak masuk akal.

Guru-guru Woodrow Wilson High School menganggap segala usahanya akan sia-sia. Walaupun demikian, Erin tetap percaya bahwa dia dapat menjalankan misinya. Misi mulia yang diusung Erin adalah keberhasilan para siswa yang terlanjur distigma sampah masyarakat.

Misi ini memberdayakan dirinya. Dia yakin bahwa semangat tersebut bisa tertular kepada para siswa. Berkat keyakinannya, Erin dan para siswa dapat berkolaborasi dan berproses untuk mencapai tujuan yang sama. Di sini, kisah Freedom Writers mengingatkan bahwa guru dapat berbagi sukacita setalah dia memiliki sukacita dalam dirinya.

Sekolah siap menjadi ruang universal. Sekolah seyogianya terbuka untuk menerima siswa dengan berbagai kondisi tanpa menggunakan standar yang diskriminatif. Sekolah sebaiknya menghindari penggunaan syarat batas nilai saat penerimaan siswa baru karena salah satu tujuan pendidikan di sekolah yakni menjadikan orang cerdas, bukan mengeliminir orang yang dianggapbodoh.

Lingkungan sekolah bukanlah ruang yang diskriminatif dengan menempatkan siswa yang dianggap bodoh atau suka berulah pada kelas tertentu. Sebaliknya sekolah dan kelas merupakan ruang berbaur bagi siapa saja.

Semua siswa juga semestinya memiliki akses yang sama untuk belajar dan menikmati fasilitas-fasilitas yang disediakan sekolah. Salah satu bagian dalam cerita menunjukkan bahwa Erin berusaha meleburkan tempat duduk sehingga setiap geng bisa berbaur satu sama lain.

Proses belajar diarahkan untuk memenuhi kebutuhan para siswa. Freedom Writers mengawali ceritanya dengan memperlihatkan kondisi siswa yang sulit diatur. Hal ini terjadi karena para siswa di Ruang 203 merupakan pelaku dan korban kekerasan rasial yang selalu dibayang-bayangi rasa cemas atau takut.

Erin berhasil menyadari keadaan tersebut. Selanjutnya seluruh proses pembelajaran ditujukan untuk membebaskan siswanya dari perasaan cemas atau takut tersebut. Erin juga berusaha untuk menghilangkan rasa dendam yang menjelma dalam diri para siswa. Erin menyadari bahwa rasa dendamlah yang membangkitkan egoisme dan sentimen kepada ras lain.

Guru bebas mendesain pembelajaran dan siswa bebas berekspresi. Erin meramu atau mendesain pelbagai metode dan pendekatan dalam pembelajaran. Erin menggunakan metode-metode seperti line game, toast change, menulis diary, membaca dan mendengarkan kisah inspiratif, dan lain sebagainya.

Metode-metode tersebut digunakan untuk menggali isi hati dan memperbaiki karakter siswa. Akibatnya para siswa berani bercerita baik secara verbal maupun tertulis. Mereka bercerita secara jujur tentang kondisi mereka padahal sebelumnya mereka sangat tertutup.

Guru dan siswa tidak terjebak dalam paradigma yang menganggap nilai, peringkat, akreditasi adalah prioritas utama. Setelah menjejali dengan aneka pengetahuan, para siswa biasanya dituntut untuk memenuhi standar yang ketat. Ironisnya instrumen penilaian tersebut bersifat parsial karena hanya mengukur aspek kognitif, dan bukan aspek lain seperti karakter sosial dan spiritual.

Perkembangan para siswa pada segala aspek semestinya diperhatikan secara serius. Lebih dari itu, perlu diakui bahwa kecerdasan seorang anak akan terus berkembang karena sifatnya yang dinamis. Oleh karena itu perlu menghindari tes-tes jangka pendek dan stigma baku yang meyakini bahwa seseorang tidak mungkin bisa memperbaiki diri.

Belajar tidak diredusir sebagai aktivitas yang hanya terjadi di dalam kelas. Belajar dapat terjadi di mana saja dan kapan saja. Belajar tidak berarti hanya membaca buku. Dalam film, Erin menggunakan banyak cara untuk membelajarkan para siswa. Para siswa diajak ke museum toleransi, makan malam dan berdiskusi dengan korban holocaust, dan mendengar langsung cerita Miep Gies.

Dengan cara itu, para siswa mengetahui cerita-cerita sulit yang pernah terjadi pada orang lain yang bahkan melampui yang mereka alami. Ini menjadi titik pangkal para siswa untuk memaafkan masa lalu dan mulai menyadari adanya harapan. Selain itu, para siswa juga belajar untuk saling memaafkan dan mulai memprioritaskan kepentingan kolektif di atas kepentingan pribadi.

Guru menggunakan pendekatan yang humanis. Erin sangat memperhatikan kualitas interaksi dengan para siswa. Erin tidak pernah segan untuk berdiskusi dengan setiap siswa. Dia menjadi pendengar yang baik dan berusaha mengeluarkan para siswa dari persoalan mereka. Relasi antara Erin dan siswanya terjadi seperti relasi seseorang dengan sahabatnya yang saling menghargai.

Erin merupakan orang yang sabar. Dia tidak menggunakan kekerasan saat mengajar padahal dia tahu bahwa para siswa sudah terlanjur dibesarkan dalam lingkungan yang sarat kekerasan. Erin seperti artis yang lihai bermain peran karena dapat menjadi orang tua, bahkan psikolog.

Selanjutnya penulis mengajak kita semua untuk menggerakan Merdeka Belajar dengan menggunakan beberapa opsi ini.