Keberhasilan Belajar di dan dari Rumah

0
1601

Oleh: Maksimus Edon (Guru di SMPN 1 Satar Mese)

Kastra.co – Tugas terberat para guru saat ini adalah memastikan peserta didik tetap melaksakan belajar di rumah dan dari rumah. Belajar dari rumah dilaksanakan oleh peserta didik yang memiliki akses internet yang baik untuk mengikuti proses pembelajaran secara daring, baik dilaksakan sekolah ataupun oleh pihak-pihak luar yang memiliki relevansi dengan materi yang sedang dipelajarinya.

Sedangkan belajar di rumah adalah pilihan yang dilakukan oleh peserta didik yang tidak memiliki akses internet yang cukup dan baik, di mana pembelajaran dilaksakan melalui metode luring. Contohnya di tempat penulis mengabdi, SMPN 1 Satar Mese, Kab. Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memilih mengunakan metode luring dengan mempertimbangkan segala aspek kondisi peserta didik, orang tua serta ketersedian fasilitas penunjang dalam pembelajaran.

Dalam kondisi seperti ini pelayanan pendidikan dipindahkan dari sekolah ke rumah peserta didik. Tanggung jawab pendidikan harus tetap dilaksakan meskipun dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang terjadi. Langkah ini bertujuan untuk menjawab segala keluhan, saran, kritik yang ditampung lembaga SMPN 1 Satar Mese dan diramu menjadikan satu proses pelayanan pendidikan yang semuanya itu untuk kemajuan, kematangan, kedewasaan dan kemandirian peserta didik baik dalam aspek prilaku/sikap, inteletual maupun keterampilan hidup, sebagai bentuk persiapan untuk masa saat ini maupun masa yang akan datang.

Belajar adalah suatu aktivitas yang dilakuakan oleh seseorang untuk menguasai sesuatu hal, yang sebelumnya Ia tidak ketahui. Sebagai contoh; jika seseorang belum dapat menunjukan etika dalam pergaulan sosial, maka harapannya dengan belajar ilmu etika (Agama, Pkn dan Ilmu sosial lainya) dia mampu menerapkan etika dalam pergaulannya. Ataupun jika sebelum belajar, peserta didik belum memiliki keterampilan menulis yang baik dan benar, maka setelah proses pembelajaran diharapkan peserta didik memiliki keterampilan menulis surat lamaran ataupun surat yang lainnya.

Contoh di atas adalah inti dari proses pendidikan yang kita laksakan saat ini. Maka proses penilaiannyapun mesti dirancang untuk memperhatikan secara komperhensif atau keseluruhan aspek-aspek yang dinilai, sebagai tanda seseorang layak untuk dinyakatan lulus dan berhak untuk melanjutkan kejenjang selanjutnya. Keberhasilan belajar di rumah dan belajar dari rumah sangat ditentukan oleh peserta didik itu sendiri, guru atau pendidik, serta orang tua peserta didik.

Peserta Didik itu Sendiri

Sebagai seorang pembelajar niat dan keinginan yang muncul dari dalam diri sendiri sangat menentukan keberhasilan dari proses belajar itu sendiri. Tidak ada keberhasilan tanpa ada kemauan yang besar dari dalam diri sendiri. Sama halnya dengan “jika Anda merasa lapar, maka dengan sendirinya Anda akan berupaya untuk mendapatkan makanan, meskipun makanan tersebut belum ada di meja makan. Sebaliknya, meskipun makanan sudah tersedia di piring ataupun meja makan dan pada saat tersebut Anda belum merasa lapar, maka Anda tentunya tidak menghiraukan makan tersebut”.

Maka, hal yang inti yang dipersiapkan peserta didik adalah introspeksi diri untuk menilai sejauh apa niat dan keinginan untuk belajar saat ini. Di bawah ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang bisa membantu sehingga harus dijawab secara jujur untuk dapat mengukur motivasi dari dalam diri dalam pembelajaran. “Apakah sekolah adalah keinginan saya pribadi? Apakah tujuan saya sekolah? Sejauh mana keinginan saya belajar?, Sudahkah saya memiliki waktu untuk belajar setiap hari? Adakah yang membekas dari proses belajar yang telah saya lakukan selama ini?”

Motivasi diri yang kuat akan menjadi benteng kokoh yang memampukan untuk memilih dan memilah segala tawaran aktivitas yang tak mendukung dalam proses pembelajaran. Hanya orang-orang yang memiliki motivasi tinggi dari dalam dirinyalah yang mampu menolak segala ajakan yang tidak berkontribusi dalam upaya menggapai segala tujuan pendidikan itu. Belajar di rumah adalah memindahkan proses pembelajaran di sekolah ke rumah masing-masing, maka yang harus diingat adalah kita tidak sedang berlibur.

Guru atau Pendidik

Pada masa seperti ini, guru harus memiliki bekal yang cukup kuat untuk memastikan anak-anaknya tetap belajar di rumah dan belajar dari rumah. Kondisi di lapangan yang berbeda-beda tentunya harus menjadi landasan berpijak seorang guru dalam meramu segala materi yang akan diberikan kepada peserta didik sebagai bahan untuk mereka belajar. Modul ataupun bahan ajar yang dilengkapi dengan lembar kerja peserta didik harus terukur dan teruji untuk meningkatkan rasa ingin tahu dan keinginan belajar peserta didik.

Untuk itu perlu menghadirkan pembelajaran yang ringkas, fleksibel dan penting/inti sari sebagai bekal pegangan para peserta didik dalam belajar. Paradigma pendidikan saat ini adalah menjadikan semua elemen dalam lembaga pendidikan sebagai masyarakat pembelajar.

Guru harus memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan terus mengembangkan diri untuk dapat memecah setiap permasalah yang dihadapinya terutama yang berkaitan dengan proses pembelajaran dan pendidikan itu sendiri. Pendidik tidak boleh cepat merasa puas dengan segala hasil yang telah tercapai, karena sejatinya kita semua adalah manusia belajar.

“Guru mulia karena karya” merupakan sesuatu ungkapan yang sangat relevan untuk kita jadikan pegangan, karena hakekkatnya segala karya dan upaya yang dilakukan guru harus nyata dan membumi serta dirasakan langsung oleh seluruh insan manusia yang menjadi sasaran layananya. Proses pendidikan saat ini harus mengedepan pelayanan yang tulus, iklas dan kerja keras serta cerdas.

Pelayanan yang prima adalah satu keharusan. Pelayanan pendidikan itu juga harus berdasarkan apa yang menjadi kebutuhan peserta didik itu sendiri. Sehingga yang kita berikan setidaknya mendekati dengan apa yang menjadi harapan yang lahir dari diri peserta didik kita.

Mengutip Partnersip for 21st century Skill, para pakar pendidikan mengingatkan bahwa anak-anak akan mampu beradaptasi dengan baik di era kehidupan abad ke-21 kalau memiliki empat kemapuan dasar yang di kenal dengan Four Cs, yakni kreatifitas (creativity), berpikir kritis (critical thinking), dan kolaborasi (collaboration) (Majalah Guru Kemendikbud, 2015).

Dengan demikian, tugas pendidikan saat ini adalah menghadirkan pembelajaran dan pendidikan yang merangsang terwujudnya empat kemampuan dasar di atas dalam diri para pembelajar. Keberhasilan belajar dari dan di rumah tidak terlepas dari peran guru itu sendiri.

Untuk itu sebagai tambahan di bawah ini tersaji hal-hal yang dapat mengurangi minat belajar peserta didik, yang dilakukan oleh seorang guru; a) Berpakaian kurang rapi. Penampilan yang rapi sudah menjadi keharusan bagi seorang guru. Penampilan yang rapi merupakan keseluruhan yang di antaranya menggunakan pakian yang sopan, bersih sebagai tanda bahwa profesi guru adalah profesi yang mulia.

b) Jarang masuk. Bagaimanapun nilai utama proses pendidikan itu terjalin karena adanya hubungan emosional antara guru dan peserta didik. Hubungan ini terjalin melalui proses tatap muka/online sebagai upaya mengenal karakteristik peserta didik begitupun sebaliknya. Maka guru yang jarang masuk atau masuk sekolah hanya sekedar menjalankan rutinitas semata akan mendapatkan kesan tersendiri bagi peserta didik.

c) Pilih kasih (tidak adil). Guru yang bijak akan berlaku adil terhapadap peserta didiknya. Pilih kasih hanya akan melahirkan prilaku buruk dalam diri peserta didik.

d) Suka memberi PR atau tugas tanpa mengoreksi. Saat ini ketika seluruh proses pendidikan dilakukan dari dan di rumah, maka pastinya banyak tugas yang diberikan guru kepada peserta didiknya. Untuk itu kewajiban guru adalah mengoreksi seluruh tugas yang telah dikerjakan oleh peserta didik agar menjadi bahan umpan balik bagi peserta didik itu sendiri untuk menilai kembali proses belajar yang ia telah lakukan sehingga Ia mendapatkan nilai tersebut. Tanggung jawab ini harus benar-banr dilaksankan oleh semua guru sebagai tanda para guru menghargai niat, usaha yang telah dilakukan oleh peserta didiknya.

e) Berkata kasar. Guru digugu dan ditiru adalah ungkapan yang sering kita dengarkan. Untuk itu perbuatan dan perkataan guru hendakanya mencerminkan hal-hal yang layak digugu dan ditiru oleh peserta didiknya.

f) Suka menyuruh. Hubungan guru dan peserta didik itu adalah hubungan fungsional akademik. Jadi guru harus dapat menjaga hubungan ini agar jangan sampai menimbulkan kesan guru sebagai penguasa yang otoriter.

g) Menghukum semena-mena. Menghukum harus berdasarkan kasih sayang, kebijasanaan dan kearifan, jangan berdasarkan kebencian, permusuhan dan emosi yang tak terkendali.

h) Cuek di dalam dan luar kelas. Tersenyum, bertegur sapa dan menanyakan kabar adalah kebiasaan yang mudah diucapkan dan seringkali sulit dilaksakan. Peserta didik akan memiliki rasa gembira jika mereka mendapatkan guru yang selalu menunjukan sikap dan prilaku seperti itu. Untuk itu guru hendaknya sewajarnya untuk menjadikan hal di atas sebagai suatu kebiasaan yang dapat meningkatkan hubungan emosional yang positif antara guru dan peserta didik.

Orang Tua Peserta Didik

Selama proses pembelajaran dari rumah dan belajar di rumah telah berlangsung selama ini, ada begitu banyak ungkapan perasaan yang dilontarkan oleh orangtua, baik disampaikan lisan maupun ditumpahkan melalui media sosial (Facebbook, WA, IG dan lainnya). Ada kecemasan, kegelisahan dan ketakutan, bahkan kepasrahan orang tua dalam membimbing buah hati mereka terutama terkait dengan tugas-tugas yang menumpuk yang diberikan oleh para guru. Hal lainya adalah pada situasi normal dari pagi sampai siang hari anak-anak berada di lingkungan sekolah. Selama wabah yang sedang terjadi intesitas pertemuan orang tua dan anak-anak jauh lebih lama, hampir 24 jam per hari. Orang tua juga diwajibkan bekerja dari rumah.

Kalau kita berkaca pada lingkungakan pendidikan, maka kita berbicara tentang segala sesuatu yang membentuk watak dan kepribadian anak. Lingkungan keluarga adalah lingkungan pertama dan utama anak-anak mendapatkan pendidikan. Orang tua memiliki peran penting dalam menanamkan fondasi agar mereka dapat menjadi manusia dewasa dalam segala aspek: pengetahuan, perasaan, kemauan, perilaku sehingga anak mampu bertanggung jawab atas setiap tindakannya.

Dengan keberadaan anak-anak yang hampir sepenuhnya ada berasama orang tua selama 24 jam sehari menjadikan orang tua harus bertanggung jawab penuh untuk mengontrol segala aktivitas anak-anak selama belajar di dan dari rumah. Keberhasilan anak-anak belajar di dan dari rumah juga sangat ditentukan oleh peran orang tua.

Memastikan aktifitas anak, menciptakan suasa ketenangan, kegembiraan dan keharmonisan dalam rumah adalah cara orang tua, agar anak-anak memiliki kenyamanan dalam belajar. Berkomunikasi secara terbuka, bercerita ataupun mengajak anak-anak berdiskusi ringan tentang segala hal yang terjadi adalah cara lain untuk terciptanya kondisi belajar dan betahnya anak-anak berada di rumah.

Jangan biarkan anak-anak merasa asing di dalam rumahnya sendiri. Sejatinya segala tindakan anak-anak kita mencerminkan pola asuh kita sebagai orang tua. Kiranya segala yang terjadi saat ini menjadi lahan garapan bersama semua elemen bangsa untuk terus berbenah diri baik sebagai peserta didik, orang tua maupun pendidik untuk terus menjadi inspirasi, kretif dan inovatif agar menjadi garam dan terang dunia demi terwujudnya generasi emas bangsa ini.