Songke: the Weave of Life

    0
    588

    Kastra.co – Sejak awal keberadaannya, songke menjadi bahasa komunikasi masyarakat Manggarai dengan manusia serta alam yang didiaminya. Songke menjadi lembaran kehidupan orang manggarai. Webminar ini dilaksanakan pada 8 Agustus 2020 pada pukul 16:00-17:30 WIB atau 11:00-12:30 CET.

    Sayangnya cerita dan kekayaan lokal seperti ini belum menjadi konsumsi elok bagi pengujung sehingga mimpi menjadikannya pariwisata sebagai jualan pembangunan akan sangat kontra produksi jika manusianya sendiri diabaikan.

    Songke juga sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa apabila dikembangkan dan dipasarkan secara meluas di Indonesia bahkan ke luar negeri. Hanya saja, saat ini songke belum banyak dikenal khalayak.

    Promosi yang kurang maksimal bisa jadi salah satu penyebab tenunan ini jarang diketahui oleh banyak orang. Apabila ini terus dibiarkan bukan tidak mungkin suatu saat nanti warisan budaya ini akan hilang.

    Berbagai upaya dilakukan oleh pihak-pihak terkait baik swasta maupun pemerintah untuk menyelamatkan warisan. Salah satunya adalah Yayasan Stitching Hibiscus yang berupaya selangkah demi selangkah untuk menyelamatkan mozaik warisan budaya indonesia ini.

    Yayasan yang dibesut oleh Ibu Ine Wawo Runtu ini berupaya memperkenalkan salah satu dari sekian banyak kekayaan warisan leluhur kita pada dunia.

    Berbekal ketangguhan dan semangat yang besar dari masyarakat Manggarai serta sumber daya masyarakatnya yang patut dikagumi, Stitching Hibiscus bekerjasama dengan yayasan Alzheimer Indonesia Netherland mengorganisir webinar melalui aplikasi Zoom yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 8 Agustus 2020.

    Desa yang disoroti dalam webinar ini adalah desa Kole, Kecamatan Satarmese Utara, Kabupaten Manggarai, Provinsi NTT. Desa dengan populasi penduduk kurang lebih 1577 jiwa ini sebagian besar mengandalkan tenunan songke sebagai sumber mata pencarian mereka.

    Aktivitas menenun songke dan kain Todo yang dilakukan selama berbulan-bulan kemudian menjualnya ke pasar merupakan pemandangan yang sering kita jumpai ketika kita mengunjungi desa ini.

    Seminar ini dibuka oleh dr. Lany Pradjaharja (Indonesian Diaspora Network-NL) dan dimoderatori oleh Ibu Ine Wawo Runtu (Chair Stitching Hibiscus Netherland).

    Webinar ini menghadirkan tiga pembicara; Ibu Seri Sedi sebagai penenun songke lokal yang berbagi ilmu dan pengalamannya menjadi penenun songke, Maria K.D.Sambang, MM (Sunrise Camp Indonesia) mewakili orang muda Manggarai sekaligus pelaku pemberdaya lokal di Manggarai, dan Ibu Sylvia Kurniawati Ngonde, S.Sos, M.si sebagai antropolog dan ilmuwan psikologi komunitas yang mengangkat banyak tentang hubungan antara Songke Manggarai dan konstruksi antropologi dan psikologi budaya masyarakat penenun songke di Manggarai.

    Seminar ini terbuka bagi siapa pun yang mau melihat, belajar, serta mendalami tenun Songke Manggarai. 

    Fery Iswandy selaku perwakilan dari KBRI Den Haag bidang Penerangan dan Sosial Budaya mempertanyakan tindaklanjut promosi ini.

    “Ada dua hal yang harus kita perhatikan, pertama itu, apakah kita hanya ingin mempromosikan budaya kita atau mau ditindaklanjuti dengan perdagangan?” katanya.

    Fery juga menegaskan bahwa produksi Songke harus terus ditingkatkan.

    “Tantangannya adalah bagaimana paling tidak produksi itu bisa lancar, hambatan-hambatan yang dimiliki harus teratasi, sehingga dalam waktu berjalan produksi akan makin meningkat sehingga menuju ke pasar eksopor. Itu mungkin tantangan kita bersama,” lanjutnya.

    Selama webinar berlangsung, ada begitu banyak saran dari partisipan lintas profesi untuk perkembangan wastra Songke Manggarai, baik dari sisi kemampuan produksi, pemasaran hingga membangun brand.

    Semoga dengan adanya kegiatan awal ini akan membuka peluang besar bagi penenun di Manggarai untuk mendapatkan keadilan dalam pembangunan pariwisata yang dicanangkan oleh pemerintah Republik Indonesia.