Mahasiswa Pertanyakan Sikap Bungkam DPRD Matim Soal Pabrik Semen

0
972
Gun Halilintar sedang memegang mic. Sumber gambar: Istimewa.

JAKARTA, Kastra.co – Terkait polemik rencana pembangunan tambang dan pabrik semen di Luwuk-Lengko Lolok, Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, perwakilan Serikat Pemuda NTT Jabodetabek menyayangkangkan sikap diam lembaga dewan perwakilan rakyat daerah Kabupaten Manggarai Timur (DPRD Matim) terkait persoalan tersebut.

Salah satunya, Guntenda Halilintar yang kepada kastra.co menyampaikan kekecewaannya kepada DPRD Matim yang menurutnya gagal paham soal tugas pokok dan funginya sebagai wakil rakyat pada Selasa (14/7/2020).

“Sampai hari ini suara kelembagaan dari DPRD Matim belum ada. Padahal arus penolakan masyarakat terkait soal ini sudah sangat tinggi. Investasi model ini seharusnya menjadi fokus pengawasan DPR, kita menunggu sikap wakil rakyat bagaiman,” tuturnya

Menurut Gun, sikap diam DPRD Matim justru menumbuhkan kecurigaan ada kepentingan pihak tertentu yang coba dilindungi oleh lembaga dewan.

“Jangan sampai ini ada borok yang coba disembunyikan, waspada saja, nanti juga akan tercium publik. Atau Wakil rakyat Matim memang tidak paham soal ini dan tidak mengerti tugas pokok dan fungsinya sebagai anggota dewan,” lanjutnya

Gun juga menyinggung soal kasus Wakil Ketua DPRD Matim, Bernadus Nuel yang diduga melakukan intimidasi terhadap mahasiswa. Ia mempertanyakan mengapa Badan Kehormatan DPRD Matim belum punya sikap soal ini .

“Di dewan itu ada Badan Kehormatan yang punya wewenang menindak soal-soal etik macam kasus BN ini, mengapa belum ada keputusan BK soal ini?” tanyanya.

Baginya, Badan Kehormatan (BK) DPRD seharusnya segera menyingkapi soal ini.

“Soal proses hukumnya, itu tergantung pengaduan dari korban, tingal diproses oleh penegak hukum saja. Tetapi, fakta pelanggaran etiknya menutur saya sudah cukup terang dan jelas, BK haru sikapi segera soal ini,” tegasnya.