Tambang: Sinyal Baru Untuk Virus Berikutnya

0
488

Oleh: Vayan Yanuarius (Pegiat Sosial)

Sampai pada detik ini virus Corona terus meraja rela di atas permukaan bumi. Berbagai upaya terus dilakukan oleh tim medis dan pemerintah supaya menahan laju penyebaran virus ini tapi nyatanya belum juga terwujud.

Memang ada banyak manusia yang disembuhkan tapi yang positif dan meninggal dunia juga tidak kalah jumlahnya. Ini bukan sebuah prestasi tapi sebuah tragedi karena menelan ribuan jiwa manusia.

Dalam buku the Coronavirus Prevention Handbook menjelaskan secara terperinci apa itu virus Corona? Dan dari mana virus Corona itu datang? Virus Corona adalah virus RNA untai positif yang beruntai tunggal dan tidak tersegmentasi. Virus ini berasal dari hewan liar seperti kelelawar, musang, luwak, tikus bambu, unta liar, dll, dikenal sebagai inang dari virus Corona.

Lebih lanjut dalam buku tersebut mengatakan bahwa virus Corona saat ini memiliki kemiripan dengan virus Corona (SARS) yang terjadi pada tahun 2003 lalu. Virus SARS itu inangnya berasal dari kelelawar. Karena genom antara virus Corona baru ini dengan virus SARS 2003.

Pertanyaan yang muncul dalam pikiran kita ialah mengapa virus tersebut berasal dari hewan? Ada apa dengan hewan tersebut? Pertanyaan ini cukup penting untuk kita renungkan bersama. Dalam beberapa analisis yang sering saya baca di media sosial bahwa hal itu merupakan dampak yang paling riil dari ekspansi kapitalis neo-liberal.

Kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi di abad ke-21 sesungguhnya membawa wajah ganda di hadapan manusia. Kemajuan tersebut di sisi lain baik, bermanfaat, berguna, efektif dan efisien bagi kelangsungan hidup manusia tapi di sisi lain ia menampilkan wajah destruktif.

Wajah destruktif itu dapat kita buktikan dengan melihat kekayaan alam kita dimanfaatkan oleh kaum kapitalis untuk meningkatkan kesejahteraan hidup mereka dan kelompoknya. Pertambangan dibuka di mana-mana tanpa ada suatu jaminan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.

Kerusakan alam dapat mengurangi habitat dari hewan dan binatang di hutan. Mereka tidak mempunyai tempat untuk beristirahat, untuk membuat sarang atau tempat tinggal mereka, perubahan suhu yang sangat signifikan membuat mereka tidak bertahan hidup dan sebagainya. Dan pada akhirnya ada yang mati.

Kematian yang dialami oleh hewan-hewan tersebut dapat mengancam kehidupan manusia. Bahwa kita tidak tahu ada hewan yang menghasilkan virus yang membahayakan kehidupan manusia. Penularan membawa virus itu kepada manusia maka pada saat itu juga manusia sudah tertular virus hewan tersebut.

Kehadiran virus Corona sekarang hemat saya tidak terlepas dari analis di atas. Wuhan adalah tempat pertama lahirnya Virus Corana. Di kota Wuhan ini terdapat pasar Seafood yang akrab disebut Huanan Seafood Wholesale Market, yang menjual daging binatang seperti kelelawar, babi, tikus, ular dan lain sebagainya.

Tapi mengapa virus ini baru ada kalau masyarakat di Wuhan sejak dari dulu mengonsumsi hewan-hewan tersebut? Hemat saya, ekspansi kapitalis di Cina-Wuhan sangat tinggi dibandingkan dengan Negara-negara lain.

Cina seperti yang diketahui bersama bahwa meskipun mereka secara ideologis komunis tapi secara ekonomi mereka sangat-sangat kapitalis. Buktinya saja ialah pertumbuhan ekonomi dan teknologi semakin canggih sehingga dapat menyaingi perekonomian Amerika Serikat.

Tambang di NTT: Sinyal Baru Terhadap Virus Berikutnya

Tentunya dari pembacaan atas fenomena virus Corona di atas kita semua berharap bahwa hal tersebut segera berakhir dan tidak terjadi lagi dikemudian hari.

Harapan ini ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Masih ada oknum-oknum tertentu yang membuka peluang bagi kaum kapitalis untuk terus melangsungkan aktivitas eksploitasi terhadap sumber daya alam.

Akhir-akhir ini ramai diperbincangkan soal perizinan pembangunan Tambang Semen di Kampung Lingko Lolok dan Kampung Luwuk, Desa Satar Panda, Kecamatan Lambaleda, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Provinsi NTT.

Polemik ini muncul ketika ada suara penolakan dari beberapa kelompok masyarakat terhadap perencanaan pembangunan pabrik semen.
Beberapa kelompok kontra tambang di Matim seperti kelompok Diaspora Manggarai Peduli (bdk. Floresa.com, 5 Juni 2020).

Selain Kelompok Diaspora, Gereja keuskupan Ruteng juga ikut menolak perizinan tambang di Kampung Lingko Lolok dan Kampung Luwuk, Manggarai Timur-NTT. Menurut Gereja, tambang tersebut dapat mengganggu keseimbangan ekosistem alam. Sehingga gereja mengajak seluruh masyarakat di Kampung Luwuk dan  Lingko Lolok untuk  menjaga kelestarian alam ciptaan (bdk. Floresa.com. 11 Juni 2020).

Tidak mengurangi argumentasi penolakan dari kedua kelompok di atas, penulis mencoba menawarkan argumentasi lain sebagai bentuk justifikasi kelompok kontra tambang dan pabrik semen di Matim.

Saya berargumentasi bahwa ketika perizinan tambang semen di Matim tetap dilakukan maka bukan tidak mungkin virus jenis lain muncul di permukaan bumi Manggarai Timur.
Rasa duka dan cemas akibat covid-19 ini terus menghantui kehidupan masyarakat.

Masyarakat sedang berada dalam situasi dilematis antara diam di rumah atau tetap beraktifitas. Risiko dari kedua opsi ini hampir sama yakni mengalami kekrisisan. Bantuan sosial (bansos) dari pemerintah kepada masyarakat kurang mampu untuk menjamin kehidupan masyarakat di masa pandemik Covid-19.

Karena itu, opsi yang tepat menurut saya ialah berbenah diri. Berbenah diri berarti berefleksi. Berefleksi artinya setiap pribadi manusia merenungkan kembali perjalanan hidupnya. Merenungkan kembali setiap perilaku yang cenderung merusak, mengganggu tatanan kehidupan alam ini.

Dengan berbenah diri orang dapat berubah dan mengambil komitmen untuk melakukan transformasi diri dari hal-hal yang buruk ke hal-hal yang baik. Meninggalkan manusia lama dan menyambut manusia baru.

Pembangunan tambang di Matim bukan opsi yang tepat untuk menyejahterakan kehidupan masyarakat melainkan sebaliknya membawa duka dan kecemasan yang berlapis di tengah kehidupan masyarakat dunia pada umumnya dan Manggarai pada khususnya.