Sesat Berpikir Alfred Tuname

0
2831
Anno Leonardo Panjaitan, Putra Manggarai di Jakarta

Oleh: Anno Leonardo Panjaitan


Tulisan ini hendak mengomentari opini Alfred Tuname di Media SorotNTT tertanggal 13/06/2020 berjudul “Korelasionisme Politik Diaspora Dan Pabrik Semen Di Matim” (https://sorotntt.com/korelasionisme-politik-diaspora-dan-pabrik-semen-di-matim/).


“Sesat Berpikir/Logical Fallacy” menurut Aristoteles dalam Hukum-Hukum Logika klasik, adalah mereka yang menganut Sofisme dan Paralogisme. Disebut demikian karena yang pertama-tama mempraktekkannya adalah kaum sofis, nama suatu kelompok cendekiawan yang mahir berpidato pada zaman Yunani kuno. Mereka melakukan sesat pikir dengan cara sengaja menyesatkan orang lain. Mereka selalu berusaha memengaruhi khalayak ramai dengan argumentasi-argumentasi yang menyesatkan yang disampaikan melalui pidato-pidato mereka agar terkesan kehebatan.


Umumnya yang sengaja ber-fallacy adalah orang menyimpan tendensi pribadi. Sedangkan yang berpikir ngawur adalah orang yang tidak menyadari kekurangan dirinya atau kurang bertanggungjawab terhadap setiap pendapat yang dikemukakannya atau biasa disebut dengan istilah paralogisme. Fallacy sangat efektif dan manjur untuk melakukan sejumlah aksi tak bermoral, seperti mengubah opini publik, memutar balik fakta, pembodohan publik, fitnah, provokasi sektarian, pembunuhan karakter, memecah belah, menghindari jerat hukum, dan meraih kekuasaan dengan janji palsu.


Penjelasan tentang sesat berpikir di atas rasa-rasanya cocok dengan opini Alfred Tuname yang memfitnah gerakan diaspora terkait polemik pembangunan pabrik dan tambang semen di Luwuk, Lingko Lolok Matim sebagai gerakan bermotif politik. Bagi Alfred, perjuangan tolak tambang dan pabrik semen hanya strategi menurunkan popularitas dan elektabilitas Agas Andreas. Tulisan Alfred mejadi tanpa substansi, karena telah sejak awal melabeli perjuangan diaspora sebagai gerakan politik belaka.


Alfred Tuname bukan baru kali ini saja menjawab kritik publik terhadap kebijakan Bupati Agas Andreas. Ketika dikritik publik soal masalah tapal batas Matim-Ngada, ia menjadi yang terdepan menjawab kritik publik, kondisi tersebut seakan menempatkan Alfred sebagai juru bicara Bupati Agas Andreas, tak terkecuali kritik yang datang dari diaspora. Pada awalnya sulit menemukan benang merah keberpihakan Alfred kepada Bupati Agas, namum secara perlahan benang merahnya dapat ditarik.


Mari kita mulai dengan politik, saya pinjam bahasanya Alfred Tuname, Lets Begin With Politics. Alfred Tuname, kita singkat saja Tuname yang sebelumnya terdengar gagah melawan tambang melalui tulisannya yang berjudul “Melawan Tambang Untuk Siapa?” kemudian berbalik 180 derajat membela tambang sehingga lahirlah tulisan yang berjudul “Korelasionisme Politik Diaspora Dan Pabrik Semen Di Matim” yang isinya tanpa substansi sama sekali.


Sungguh mengiris hati, gagahnya sang pejuang telah luntur yang menurut bahasa Tuname sendiri “mungkin karena dalam politik ada kekuasaan yang menjadi subyek hasrat; ada juga sumber daya ekonomi yang menjadi obyek hasrat. Tampaknya, libidinal politik ini lebih dilihat terang dari posisi jarak dekat. Sebut saja itu dari mata Alfred Tuname (eyes of the Alfred Tuname)”.


Ternyata ehh ternyata, Tuname merupakan bagian dari tim pemenangan Agas Andreas di Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Manggarai Timur 2018 lalu, hingga saat ini Tuname berposisi sebagai sekertaris PMI (Palang Merah Indonesia) Cabang Manggarai Timur. Aksi-aksi pembelaan selama ini kepada sang junjungan nampaknya berhasil. Tuname tampak gagah dibalik fitnah keji terhadap diaspora. Tentu dukungan selama ini kepada sang junjungannya itu equal dengan dana dan jabatan. Tak ada makan siang gratis, bukan?


PMI Matim dipimpin oleh istri Bupati Matim, Theresia Wisang Agas. Tuname merupakan orang kepercayaan istri Bupati dan masuk dalam lingkaran orang dekat Pak Bupati. Baru-baru ini, anggaran daerah sebesar Rp 500 Juta dialokasikan Bupati Agas Andreas untuk organisasi yang dipimpin istrinya itu dalam rangka penganggulangan Covid19 (http://www.impiannews.com/2019/10/pmi-kabupaten-manggarai-timur-gelar.html).


“Kewajiban Tuname untuk mempertanggungjawabkan kepada publik Dana Rp 500 juta tersebut karena merupakan dana yang di kucurkan dari APBD, jadi setiap satu sen uang yang keluar dari kas daerah wajib dipertanggungjawabkan kepada publik”.


Kalimat “tidaklah heran, banyak para diaspora (yang merasa mampu) berbondong-bondong ke daerah di musim Pilkada/Pilbub/Pileg (caranya: amplifikasi pemberitaan dan bayar buzzer untuk dongkrak popularitas sebelum musim tiba). Atau melibatkan diri dalam kemelut daerah (provocative action)” dalam opini Tuname ini seakan menggambarkan kondisi diri Tuname sendiri yang tersesat dalam arus kekuasaan, berkamuflase dibalik logika sesat, yang terpenting tuan baik-baik saja.


Alfred Tuname Angkuh


Dengan keangkuhan yang luar biasa Tuname menyimpulkan tanpa parameter yang rasional bahwa diaspora nyaris kehilangan arah di luar sana, bak anjing rabies, Tuname menyerang secara membabi buta, mempelacuri inteletualitas hanya demi sang junjungan sehingga opininya pun terkesan menjijikan. Bagi saya yang sebenarnya kehilangan arah adalah Alfred Tuname Sendiri.


Dalam opini lanjutan, Tuname juga menyampaikan bahwa “para Diaspora itu tidak membangun apa-apa untuk daerah. Sungguh angkuh, tapi biarlah para anggota diaspora yang menjawab kalimat ini, saya hanya ingin menyampaikan ”pio-pio koe nana”.


Lanjutnya, Di luar sana mereka juga hidup dalam kesusahan”. Banyak kawan-kawan yang berkomentar Ya, memang benar bung, banyak para Diaspora hidup dalam kesusahan, tidak seperti Bung Tuname yang rela menjual harga diri demi kemewahan hidup berdampingan dengan sang penguasa.


Tapi saya berkomentar berbeda, dari mulai latar belakang pendidikan yang menyisahkan banyak pertanyaan, pulang ke daerah mengemis pada penguasa, lalu sejalan dengan pribahasa kerbau di cucuk hidungnya yang artinya “Tunduk pada kehendak orang lain karena bodoh atau karena tidak berdaya melawan”. Bukankah yang hidup dalam kesusahan itu Bung Tuname?


Lalu Tuname mengutip pemikiran Soekarno tentang vivere pericoloso secara dangkal, mengartikan vivere pericoloso dalam perjuangan Diaspora yaitu hidup menyerempet maut seperti “penyakit kanker sang istri, stroek, PHK perusahaan, perceraian, depresi kronis gagal calon DPD/DPR, utang politik/bank, biaya kontrakan/rumah, polusi, tuntutan gaya hidup, dll)


Sungguh sesat, membawa nama tokoh besar serta pemikiran besar dalam opini kerdil seperti ini adalah musuh Negara, ingat bahwa Soekarno adalah orang pertama yang memperkenalkan Vivere Pericoloso dalam pidato kenegaraan peringatan HUT 17 Agustus 1964 guna membangkitkan semangat revolusi dikala Indonesia dilanda masa-masa subversif serta membangkitkan semangat mendobrak segala rintangan yang direncanakan dan dipasangkan oleh pihak imperialis dan kolonialis seperti Tuname dan junjungannya. Baca; (https://www.gesuri.id/serba-serbi/bung-karno-dan-tahun-vivere-pericoloso-b1WhFZkyd)


Tuduhan terhadap diaspora menunjukan pembelaan sepihak Tuname terhadap Bupati Agas Andreas yang tengah sibuk memaksa warga untuk mengamini tambang membawa kesejahteraan, jangan-jangan Tuname merupakan kaki tangan investor. Karena junjungannya pun terlihat sebagai wakilnya investor.


Dalam opini lainnya, Tuname mengutip pemikiran Jean Baudrillard tanpa mengetahui konsep dasarnya, sekedar hanya untuk meningkatan popularitas. Mungkin saja Tuname termasuk orang yang dikatakan Jean Baudrillard sebagai Simulacra (membalikan yang benar dan membenarkan yang salah).


Sejujurnya saya hanya ingin menyampaikan bahwa kesombongan intelektual adalah kedunguan yang hakiki, seperti Tuname penuh kesombongan memfitnah diaspora tanpa dasar, sedangkan kita tahu bahwa anggota diaspora hadir dengan berbagai latar belakang; ada akademisi, tokoh agama, pemerhati lingkungan, praktisi hukum dsb, semua orang yang ahli dibidangnya. Sedangkan Tuname keahliannya apa sih? “Selain menyinyir”.


Gerakan diaspora dalam menolak hadirnya pabrik semen di Luwuk, Lingko Lolok Matim ini tentunya bukan tanpa alasan, Koordinator Luwuk-Lolok Diaspora, Maximus Rambung kepada Mongabay Indonesia, Jumat (8/5/2020) menyatakan dampak relokasi membuat warga masyarakat adat tercerabut dari tata nilai budaya Manggarai yang ditopang Tiga Tungku yakni Uma Peang (tanah ulayat/kebun), Wae Teku (sumber air), dan Beo (kampong). Nilai-nilai tak terukur ini yang dikuatirkannya bakal hilang jika pabrik datang. Baca; (https://www.mongabay.co.id/2020/05/15/warga-dan-walhi-ntt-tolak-tambang-dan-pabrik-semen-di-manggarai-timur-kenapa/)


Kita pun tahu bahwa luka lama masih menganga, lahan seluas 736,30 hektare yang dikelola oleh PT. IMP sejak tanggal 12 Oktober 2009 dan berakhir tahun 2017 menyisakan lubang tanpa reklamasi. Kini IMP berganti baju menjadi IMM dan akan bermitra dengan pabrik semen PT SM. Di sisi lain membangun pabrik semen merupakan suatu langkah yang sangat keliru sebab tidak diimbangi dengan peningkatan permintaan, hanya akan membuat overcapacity di industri ini semakin meningkat, sedangkan Indonesia mengalami surplus semen sebanyak 35-42 juta ton sampai dengan tahun 2030.


Sebagai penutup, karena Tuname dalam opininya sempat mengutip pemikiran Soekarno secara dangkal, mungkin baru pertama kali mengenal pemikiran Soekarno, maka mari kita membantu Tuname dengan menyodorkan pemikiran-pemikiran hebat dari para tokoh pemikir dan pejuang dari seluruh dunia agar Tuname tak sesat berpikir lagi.
Saya mulai dengan Pidato Pertama Tentang Pancasila yang disampaikan Bung Karno pada Tanggal 1 Juni 1945 dalam sidang BPUPKI. Dalam pidato tersebut beliau menyampaikan dengan mengutip pernyataan Ki Bagoes Hadikoesoemo atau Tuan Munandar yaitu “Persatuan Antara Orang dan Tempat” dimana, orang dan tempat tidak dapat dipisahkan! Tidak dapat dipisahkan rakyat dari bumi yang ada dibawah kakinya!

Sekian untuk kali ini Bung!!!