Sudah Lama di Indonesia, WHO Baru Anjurkan Masker Kain

0
283

Kastra.co – Dalam menghadapi pandemi Covid-19, salah satu protokol kesehatan yang harus dilakukan adalah memakai masker. Semua orang diwajibkan untuk memakai masker guna mengurangi tingkat penularan virus yang belum ditemukan vaksinnya ini. Di tengah pandemi ini masker dari serat sangat sulit untuk ditemukan dan harganya melambung sangat tinggi. Tetapi, masker pun bisa dibuatkan dari kain biasa.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan baru-baru juga mulai menganjurkan setiap masyarakat global memakai masker kain dalam rangka menghindari paparan virus corona atau Covid-19.

Berbagai informasi terkait masker kain dipublikasikan secara resmi melalui laman WHO pada Jumat, 5 Juni 2020 kemarin.

Mulai dari manfaat masker kain atau non medis yang serupa dengan masker medis, hingga tata cara penggunaannya secara benar.

Bagian Pencegahan dan Pengendalian Infeksi, Program Kedaruratan Kesehatan WHO, Dr. April Baller menjelaskan bahwa masker non medis dapat pula berfungsi sebagai penghalang sehinggga orang-orang di sekitar terlindungi dari infeksi positif corona.

“Masker kain idealnya terbuat dari tiga lapis kain,” ujar Dr. April Baller sebagaimana dilansir dari Pikiran Rakyat.

Hal tersebut senada dengan kebijakan pemerintah Indonesia yang telah jauh hari mengimbau penggunaan masker kain untuk dipakai masyarakat sebagai pengganti masker medis, yakni sejak awal April 2020.

Melalui juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona di Indonesia, Achmad Yurianto menekan setiap orang agar memakai maskerkain bila keluar rumah.

Hal tersebut diketahui untuk mengimbangi panic buying yang segera terjadi saat virus corona pertama kali menyebar di Indonesia.

Sehingga muncul solusi masker kain dari pemerintah Indonesia yang menjamin dapat sama-sama melindungi seseorang dari penyebaran virus corona di sekitar, seperti masker medis.

Achmad Yurianto pernah menyebut pula, bahwa masker medis diutamakan hanya untuk tim medis yang bekerja di garda terdepan dan memiliki posisi paling rentan terpapar positif virus corona.

Dikutip dari laman Slash Gear, terdapat sebuah penelitian baru yang dipakai oleh WHO sebagai landasan anjuran memakai masker kain dengan standar tertentu.

Salah satunya memiliki tiga lapisan kain, bagian luar terbuat dari bahan anti air dan bagian dalam cepat menyerap air sebab dinyatakan virus corona dapat menyebar melalui droplet seseorang dalam batuk atau bersin.

Panduan lengkap penggunaan masker kain yang benar lainnya telah diperbarui oleh WHO pada Kamis, 5 Juni 2020 kemarin.

Dalam panduan tersebut, WHO merekomendasikan pula bahwa masyarakat umum perlu memakai masker kain saat berada di ruang publik. Di antaranya saat berbelanja, di tempat kerja, sekolah, gereja dan semacamnya.

Juga, meminta orang-orang yang tinggal dalam ruangan sempit seperti pengungsian atau transportasi umum agar memakai masker kain.

Masker medis, menurut WHO sebaiknya dipakai untuk orang-orang yang berada dalam kondisi rentan.

Selain tim medis, orang-orang yang dimaksud merupakan kalangan lanjut usia (lansia) yang memiliki usia 60 tahun ke atas atau dengan kondisi sebelumnya seperti memiliki penyakit paru-paru, kardiovaskular atau kanker.

Meski begitu saran yang diberikan oleh WHO tidak sepenuhnya bebas risiko sebab mencuci tangan dan menjaga jarak satu sama lainnya masih dinilai penting untuk dilakukan.

Ada pula kemungkinan kontaminasi diri bila orang menyentuh masker kain lalu menyentuh mata atau mulut. Berdasarkan anjuran WHO, masker sebaiknya dicuci dalam air panas setelah dipakai. Pilih pula masker kain yang tahan dengan suhu 60 derajat celcius yang secara umum ideal untuk membunuh bakteri dan virus.

Jika air panas tak tersedia, dapat mencuci masker di air dengan suhu biasa menggunakan sabun lalu merebusnya beberapa menit sebagai alternatif.

Masker tidak boleh dipakai dalam waktu lama, dan diganti dengan cepat setelah basah atau kotor.

Mencuci tangan terlebih dahulu sebelum memakai dan melepas maskerpun menjadi langkah lain yang dianjurkan oleh WHO.

WHO mengatakan, sedang bekerja dengan para peneliti pada analisis tekstil agar mendapat bahan yang lebih efektif untuk masker di masa depan.

Di Indonesia sendiri, masyarakat telah cukup patuh menggunakan maskerkain bila keluar rumah atau melakukan interaksi langsung dengan orang lain.

Tak sedikit pula produsen yang akhirnya mengeluarkan produk maskerkain dengan motif menarik agar masyarakat mau menggunakannya.

Bahkan di beberapa tempat, melarang siapapun masuk bila tak memakai masker.