Alternatif Pendidikan untuk Daerah Tertinggal dan Kaum Miskin di Tengah Pandemi Covid-19

0
656

Oleh: Lukas Hali Betan

Kastra.co – Langkah pemerintah membuat kebijakan social distancing atau menjaga jarak antar satu dengan yang lain menjadi hal paling penting dilakukan dalam situasi pandemi Corona atau Covid-19 saat ini.

Untuk itu, sekolah-sekolah di Indonesia, menghentikan proses belajar-mengajar tatap muka di ruangan kelas. Sebagai gantinya, siswa akan belajar di rumah secara online.

Tidak sedikit pembelajaran secara online ini mendapatkan berbagai macam kendala, terkhusus bagi daerah terpencil yang belum mendapatkan pemerataan pembangunan infrastruktur sarana prasarana pendidikan, misalnya masalah jaringan internet, ketidakmampuan untuk membeli HP Android atau laptop bagi murid yang orang tuanya berekonomi menengah ke bawah, dan lain sebagainya.

Dari keadaan-keadaan ini maka sudah sepatutnya kita berpikir bersama agar kebijakan pendidikan itu menguntungkan bagi semua anak bangsa tanpa memandang sekat apapun.

Kebijakan belajar online yang menggantikan pola tatap muka di sekolah ini masih memberi ruang bagi kita bersama untuk melihat, bagaimana ketidakmerataan sistem pendidikan nasional ini bagi rakyatnya, sekolah hanya diperuntukkan bagi orang yang mampu saja.

Oleh sebab itu maka perlu ditemukan pola alternatif bagi rakyat miskin, agar anak-anaknya dapat bersekolah dan belajar sebagaimana mestinya.

Mari bersama kita menelaah beberapa permasalahan: Pandemi Covid-19 menyebabkan terjadinya proses belajar mengajar di kelas menjadi terhambat; kebijakan belajar online yang diterapkan sebagai solusi oleh pemerintah Indonesia (menteri pendidikan) berjalan tidak maksimal, bagi semua siswa miskin dan sekolah-sekolah daerah terpencil di pelosok tanah air.

Solusi pendidikan bagi rakyat miskin dan sekolah-sekolah di pelosok negeri dapat dilakukan dengan mengganti proses belajar-mengajar tatap muka di kelas dengan proses belajar-mengajar tatap muka di alam bebas.

Beberapa peluang sekolah di alam bebas, yakni: Pembelajaran dapat dilakukan secara langsung dan interaksi guru dan murid tetap terjalin. Meski demikian, pola duduk (jaga jarak) dapat diatur sesuai kebijakan social distancing (Pembatasan sosial). Kegiatan sekolah di alam bebas ini dapat dilaksanakan di daerah-daerah terpencil, yang tidak memiliki akses sarana dan prasarana yang memadai untuk kebijakan online.