Tolak Tambang Versus Hasil Tambang

0
388

Oleh: Willy Grasias

Kastra.co – Ilmu Pengetahuan dan teknologi dalam perkembangannya akhir-akhir ini menunjukkan kemajuan yang sungguh-sungguh pesat dan sangat mengagumkan. Dalam banyak bidang kehidupan manusia sangat terbantu karenanya. Era sekarang sering disebut sebagai modernisme dalam segala bidang kehidupan.

Secara linear dampak dari kemajuan ilmu pengetahuan dan perkembangan tehnologi ini dapat dijumpai dalam hidup sehari-hari secara kasat mata, sebut saja manusia sekarang ini, terkadang frustrasi jika tidak on time dalam rencana perjalanannya ketika penerbangan batal secara sepihak dengan berbagai alasan teknis.

Kondisi frustrasi ini merambah pada bidang kehidupan yang lain, orang merasa kurang nyaman jika tinggal pada rumah yang beratapkan ilalang dan berdinding bambu atau kayu sebagai sebuah cara hidup menggunakan hasil alam yang ramah lingkungan dan harus tinggal dibalik tembok dan beton yang kokoh agar aman, damai dan terhindar dari dingin serta panas sebagai standarisasi kehidupan yang layak dan sebagainya.

Tembok dan beton tidak pernah tumbuh seperti kayu sampai dunia kiamat. Apa yang dimanfaatkan kebanyakan manusia modern ini merupakan karya agung manusia yang dengan cermat menggunakan ciptaan Tuhan baik yang di atas permukaan bumi maupun di dalam perut bumi untuk kebaikannya.

Bayangkan saja kondisi ini jika hasil tambang sebagai penopang kehidupan di era modern ini sontak ditolak dan akhirnya dihentikan, sementara ketergantungan manusia akan hasil tambang cukup signifikan.

Tulisan ini bukan sekedar tampil beda ketika semua pegiat meneriakkan berbagai hal: peduli lingkungan, peduli kehidupan, peduli kemiskinan, membela kaum tertindas pada masyarakat. Kelompok ini hadir dalam bentuk pemerhati lingkungan, tokoh tokoh agama, LSM-LSM, organisasi transnasional.

Mereka sering disebut pegiat; tampil memukau penuh simpatik dalam berbagai cara. Para pegiat termaksud sudah dan telah hadir sebagai pahlawan yang gagah perkasa ditengah persoalan tambang di bumi Flobamora ini. Kecuali itu, tulisan ini ingin mengugah dan menggugat semua, agar cara pikir dan cara tindak “tolak tambang“ berada pada frame yang tepat ketika “hasil tambang” dimanfaatkan sebagai bagian hidup manusia modern.

Ini, hanyalah sebuah refleksi tentang kehidupan pada jaman ini yang segala sesuatu tergantung pada hasil tambang yang dihasilkan dari perut bumi bagian dari ciptaan Yang Kuasa. Dan Tuhan melihat semuanya itu baik adanya.

Pegiat Dalam Refleksi dan Aksi

Sebagai respons terhadap usaha pertambangan yang sedang marak akhir–akhir ini, berbagai elemen pegiat dalam bentuk pemerhati lingkungan, tokoh tokoh agama, LSM-LSM, organisasi transnasional dan sebagainya, muncul dengan berbagai refleksi dan aksi.

Kegiatan para pegiat tentu sudah menghabiskan dana dan tenaga demi menyelamatkan manusia dan kemanusiannya. Para pegiat melihat kondisi ini sudah pada tahap memprihatikan. Dengan demikian muncul berbagai refleksi bahkan gagasan gagasan substansial sangat mendalam.

Ada soal ekologi, alam yang sebenarnya menjadi patner manusia sudah dijarah oleh manusia dengan segala kerakusannya. Manusia sudah terpola pada cara pikir antroposentris, manusia diposisikan sebagai tuan atas ciptaan lain.

Manusia sudah mengalami “amnesia eksistensi “, sehingga lupa akan ketergantungannya pada alam. Sikap tak bersahabat dengan alam akan mengancam kehidupan manusia berupa bencana tanah longsor, banjir dan sebagainya.

Kerakusan dengan mengobrak-abrik alam sememesta mewarnai etalase kehidupan manusia ternyata sudah dan akan mengusung manusia pada krisis ekologi yang berkepanjangan. Manusia telah kehilangan kesadarannya akan pentingnya kosmos sebagai penopang keberlangsungan hidupnya, kesadaran akan urgensi alam bagi kehidupan telah dikikis habis oleh rasa ingat diri yang kuat sekuat besi-beton sebagai hasil tambang.

Akibat lanjutnya, anak dan cucu sebagai generasi penerus dapat diprediksi akan mengalami krisis yang sama. Pada titik ini, katanya manusia perlu didresur untuk berpikir bahwa bencana alam yang sili berganti itu akan meremukkan tatanan kehidupan manusia, hal ini merupakan petanda bahwa alam butuh perhatian dan uluran tangan manusia.

Refleksi yang mendalam berbagai elemen pegiat dalam bentuk pemerhati lingkungan, tokoh tokoh agama, LSM-LSM, organisasi transnasional dan sebagainya menghasilkan aksi nyata, diantaranya; mengadvokasi masyarakat lingkar tambang, menjelaskan tentang akibat limbah pertambangan untuk kesehatan, bahkan sampai pada memobilisir masyarakat untuk mendesak pemerintah agar mencabut izin Kuasa Pertambangan yang sudah dikantongi para investor, baik dengan cara damai maupun anarki.

Pegiat-pegiat dalam berbagai orasi, tulisan sudah menempatkan masyarakat adalah korban kebijakan publik. Kebijakan publik seperti itu telah merampas hak-hak ekonomi, sosial dan budaya masyarakat terutama masyarakat lingkar tambang.

Bahkan setiap kerja sama dalam membangun di berbagai bidang yang melibatkan pemilik modal masyarakat selalu dianggap sebagai gerakan “perselingkuhan“ antara pemerintah, pemilik modal dan masyarakat. Perselingkuhan itu melahirkan praktek politik donasi yang syarat dengan kepentingan kekuasaan.

Fakta kemiskinan yang membelenggu masyarakat dimanipulasi dan dijual dengan cara melancarkan kebijakan pembangunan yang pro-kapitalis. Selain tindakan nyata seperti yang disebutkan di atas juga memanfaatkan jejaring sosial agar semua orang yang terjaring melaluinya memahami soal tambang sebagai penyebab utama dan terutama krisis ekologi selama ini.

Keberpihakan para pegiat adalah solidaritas sebagai konsekwensi dari sikap menolak hadirnya era baru, era pertambangan dalam menopang pembangunan di wilayah ini.

Kehidupan Manusia Dalam Konteks Hasil Tambang

Usaha pertambangan dalam hasilnya sungguh terlibat mengakomodir kehidupan manusia. Konteks kehidupan manusia sangat kompleks, mulai dari politik, ekonomi, budaya, sosial, kemanusiaan dan aneka konteks lainnya.

Hasil tambang sudah merambah kehidupan manusia modern sebut saja mangan, emas, semen, besi, tembaga, batu bara, yang sering disebut mineral dan batu bara ( Minerba ) dan atau barang galian pada umumnya seperti; pasir, batu sebagai pemicu krisis ekologi baik sekarang maupun yang akan datang. Demikian simpul kata, kalimat, wacana para pegiat.

Menarik untuk disimak cuplikan dari La’at Natas, Buletin Para Frater Asal Provinsi Ruteng dalam Antara Cincin Uskup & Lencana Bupati edisi Tahun IV Juni 2010, sebagai produk hasil tambang, “cincin dan lencana itu mempunyai nilai otentik dari tempat persinggahan dipertokoan kepada jari tangan seseorang, yang dengannya seseorang mendapat otoritas, identitas” tulis Altus Jebada.

Cincin dan Lencana hanyalah secuil symbol yang dihasilkan untuk menjadikan sesorang mempunyai otoritas dan identitas dalam melakoni hidup ini. Bukankah konteks kehidupan manusia sangatlah kompleks?

Pahamilah konteks penciptaan dalam dimensi pencipta dan ciptaan. Untuk pencipta; menciptakan adalah menjadikan sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada, sedangkan bagi ciptaan terutama manusia, menciptakan adalah menjadikan sesuatu dari yang sudah ada menjadi sesuatu yang baru.

Dalam konteks ini berseliweranlah ciptaan pencipta di muka bumi, baik yamg ada pada permukaan bumi maupun di dalam perut bumi, untuk diciptakan oleh ciptaan. Kita bersyukur atas rahmat yang dianugerahkan Pencipta untuk ilmu pengetahuan dan teknologi, yang membuat manusia dapat mencipta sehingga manusia sungguh alter pencipta.

Akan keberadaan minerba dan galian lainnya yang ada dalam perut bumi, sering kita sebut sebagai barang tambang tentu diciptakan untuk kesejahteraan manusia. Dalam keseharian pemanfaatan hasil tambang merupakan kebutuhan manusia abad ini.

Dapatkah manusia modern termasuk para pegiat “tolak tambang” dalam membatu masyarakat yang tersisihkan akibat perselingkuhan antara penguasa dan pemilik modal berjalan kaki dari komunitas mereka ke lokasi tambang ?

Dan atau dapatkah para pegiat “tolak tambang“ hidup tanpa sarana komunikasi sebagai hasil tambang ? Rentetan pertanyaan di atas tentu menghadirkan permenungan yang sangat mendalam untuk semua stake holder agar dapat menempatkan tambang dan lokasinya sebagai anugerah Tuhan yang harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan lahir batin manusia.

Sudah terlalu banyak ciptaan manusia yang layak dan pantas dimanfaatkan manusia, jika perjuangan semua untuk kemanusiaan.

Rumah yang layak, sarana pendidikan, sarana kesehatan, air minum bersih, dan sebagainya, yang merupakan bagian dari dimensi kebutuhan dasar manusia. Keberpihakan dan keterlibatan semua merupakan kerinduan manusia, sehingga tuduhan “perselingkuhan“ antara pemerintah, pemilik modal dan masyarakat, yang melahirkan praktek politik donasi yang syarat dengan kepentingan kekuasaan dalam praktek pembangunan yang pro kapitalis dapat dinilai sebagai pola pikir tidak “tepat jaman“ olehnya didaur ulang agar dapat menjadi jalinan komunikasi selaras jaman.

Tuduhan “perselingkuhan“ …dst. merupakan pernyataan yang sangat masif jika dihadapkan dengan kebutuhan manusia modren.

Penutup

Sikap tegas “ tolak tambang “ yang diikuti aksi nyata dalam berbagai bentuk seperti yang dapat disaksikan selama ini, kiranya dipertimbangkan dengan arif dan bijak sebab dengan menolak tambang berarti dikemudian hari kita tidak pernah lagi memanfaatkan hasil tambang.

Tentu hal ini menjadi tidak mungkin, manusia modern terlanjur hidup dalam kemesraan yang penuh romantis dengan hasil tambang (berjalan dengan mobil, makan pakai senduk, masak pakai panci, tinggal di rumah berdindingkan tembok beton, dan sebagainya sebagai hasil tambang).

Jika pada era 30-an tahun yang lalu satu-satunya harapan kita adalah sumber daya alam permukaan, sejalan dengan populasi manusia yang semakin memadati muka bumi ini, maka tanpa terasa sumber daya alam permukaan terpaksa merelakan eksitensinya untuk dihuni manusia.

Bersyukur ketika lingkungan permukaan dipadati manusia maka pada tempat tertentu Pencipta menyediakan sumber daya yang lain yaitu sumber daya alam di dalam perut bumi. Jika ditolak marilah kita tanya Pencipta; Untuk apa minerba ada di dalam perut bumi?

Pembelaan manusia terutama para pegiat sangat diharapkan fokus, sambil pacu Sumber Daya Manusia (SDM) agar dapat berkolaborasi dengan alam dan lingkungan seperti upaya tebang–tanam kembali, gali–timbun kembali atau dengan dengan kata lain upaya reklamasi yang betul-betul baik dan benar untuk jenis galian minerba.

Disamping itu klaim sepihak para pegiat yang menyatakan bahwa sebuah pulau seperti Kalimantan, Irian, Sumbawa dan bahkan Flores dan Timor yang sudah dan sedang giat melaksanakan eksploirasi dan eksploitasi tambang akan hancur, hemat kami adalah satu bentuk provokasi yang berlebihan agar semua penduduk pada satu kawasan menolak tambang.

Untuk diketahui; pada satu pulau pada titik tertentu saja terdapat mineral seperti Newmont di pulau Sumbawa, beberapa titik di Kecamatan Lambaleda Kabupaten Manggarai Timur, Freeport di Pulau Papua dan juga di Pulau Timor.

Tanpa rasa menggurui para pegiat, diakhir tulisan ini, ingin disampaikan bahwa; tambang jangan ditolak, tambang harus diterima mengingat hasil tambang terlalu banyak kita gunakan untuk kesejahteraan saya, kamu, mereka yaitu manusia. (CBN)