Kemajuan Ekonomi dan Kejahatan

0
275

Kastra.co – Orang pada mulanya dengan mudah memperkirakan, bahwa kejahatan akan dapat dilenyapkan atau berkurang dengan sendirinya dengan telah dicapainya berbagai kemajuan di bidang ekonomi. Akan tetapi dalam kenyataannya tidaklah selalu demikian, karena kemajuan-kemajuan di bidang ekonomi itu sendiri, telah pula diikuti secara membandel oleh kemajuan aktivitas berbagai bentuk kejahatan.

Howard Jones dalam tulisannya “crime in a changing society” mengatakan, justru kemajuan-kemajuan itu sendiri dapat dikatakan sebagai biang dari perkembangan kejahatan. Kenyataan ini telah melumpuhkan pandangan lama tentang hubungan antara kejahatan dan ekonomi, yang didasarkan pada pendekatan dengan hubungan yang negatif, dimana kejahatan dilihat sebagai salah satu akibat dari buruknya keadaan ekonomi.

Dengan pendekatan seperti itu berarti, apabila ekonomi membaik, maka kejahatan akan menurun. Berbeda dengan itu, pendekatan dengan hubungan yang positif (direct relationship) justru melihat gejala kriminalitas sebagai suatu kelanjutan dari kegiatan dan pertumbuhan ekonomi. Dari pandangan seperti itu dapat ditarik sebuah kesimpulan singkat, bahwa kejahatan merupakan dampak negatif dari pembangunan ekonomi. Atau dalam ruang lingkup yang lebih luas lagi dapat dikatakan, bahwa pembangunan yang dilaksanakan di segala kehidupan berpengaruh secara signifikan terhadap perkembangan kejahatan.

Globalisasi Kejahatan

Globalisasi menciptakan konteks baru dan menguntungkan bagi kejahatan. Globalisasi kejahatan mewakili potensi untuk melihat beberapa hubungan kejahatan yang bebas dari hukum konvensional dan pertimbangan moral. Kejahatan beroperasi di dalam pasar lain yang melimpah dalam globalisasi, dan hal tersebut dapat dianalisa menggunakan ciri-ciri umum “komodifikasi” yang meluas dan masuk ke seluruh bagian dunia.

Klaim globalisasi adalah bahwa: “Batasan ruang telah hilang sehingga dunia sekarang merupakan bidang tunggal yang di dalamnya kapitalisme dapat beroperasi, dan arus modal menjadi lebih sensitif terhadap keunggulan relatif lokasi ruang tertentu”. Konteks kejahatan adalah lokasi tersebut.

Globalisasi modal dari uang ke transfer kredit elektronik, transaksi kekayaan dari pertukaran barang milik ke teknologi informasi, dan ekspansi yang tidak terbatas dari pasar global yang cepat dan instan, telah membantu transformasi kejahatan melampaui orang-orang, tempat-tempat, dan bahkan korban-korban yang dapat diidentifikasi. Sekarang kejahatan merupakan ciri budaya global baru seperti halnya konsumerisme.

Globalisasi sedang mengubah pemahaman kita terhadap budaya dan arti pentingnya sebagai sebuah konteks dimana kejahatan dibentuk dan dimainkan. Dalam dunia global, akan ada satu masyarakat dan budaya tunggal yang menduduki planet, sehingga diperlukan analisis kontekstual kejahatan yang lebih integratif dan dinamis.

Dengan modernisasi menjadi tema umum bagi pembangunan budaya dunia, serta pendorong bagi globalisasi, pengurangan keragaman konteks kejahatan dalam budaya merupakan pendukung penting pada pemahaman modern tentang kejahatan.

“Globalisasi” sebagai fokus kontekstual bagi studi tentang kejahatan ini menunjukkan adanya dilema bagi penilaian kontemporer terhadap kejahatan dalam konteks indikatif dari dualitas. Kejahatan biasanya diidentifikasi dalam perbincangan populis sebagai “masalah dunia” yang membutuhkan komitmen internasional terhadap pencegahan dan pengendaliannya. Namun, adanya hubungan kejahatan aktual tergantung pada spektrum spesifik dan pengaruh-pengaruh sosial budaya individu yang dapat menjelaskan semua pilihan tertentu yang dibuat untuk mendukung atau menentang kejahatan. Pengaruh-pengaruh ini, dan pilihan-pilihan kejahatan yang mereka dukung, adalah jendela melalui mana globalisasi dapat dipandang secara realistis dan kritis sebagai sebuah konteks bagi kejahatan yang baru dan ekspositori.

Untuk menyelidiki dan mengidentifikasi kejahatan dalam konteks global, tidak cukup lagi hanya sekedar melihat realitas empirisnya; juga tidak membantu untuk tetap fokus pada pembedaan operasionalnya seperti pelaku kejahatan, pelanggaran dan dimana pelanggaran dilakukan. Globalisasi kejahatan dan pengendalian telah mengubah simbol-simbol penting kejahatan sehingga diperlukan penilaian kejahatan melampaui perilaku, jurisdiksi dan penghilangan moral. Globalisasi telah menaikan konteks kejahatan menjadi utama yang membuat pelaku, perilaku dan penamaan sangat tergantung pada latar mereka.

Kejahatan adalah ciri masyarakat global dan transisional, dan hal tersebut harus diterima sebagai tema umum globalisasi. Untuk melihat ‘globalisasi’ kejahatan secara serius, dan supaya globalisasi dapat ditawarkan sebagai konteks teoritis signifikan untuk memahami kejahatan, kedudukan kejahatan dalam budaya transisi; masyarakat dalam tahapan pembangunan; dan individu-individu yang mengalami marjinalisasi sebagai dampak transisi dan pembangunan, disini dijelaskan berdasarkan simbol kejahatan sebagai masalah yang melampaui batasan sosial dan ruang.

Globalisasi adalah sebuah proses paradoks. Ketika kejahatan melemahkan budaya saat ini, kejahatan juga menjadi kekuatan bagi globalisasi. Realisasi bahwa pertukaran materi cenderung melokal, pertukaran politik cenderung menginternasional, dan pertukaran simbolik cenderung mengglobal, yang menyarankan evolusi bagi kejahatan global.

Posisi hukum

Hukum merupakan sandaran kerangka untuk mendukung usaha-usaha yang dilakukan dalam konteks pembangunan, baik secara fisik maupun spiritual. Oleh sebab itu, apabila dikaitkan dengan pembangunan, maka hukum mesti ditempatkan pada posisi yang strategis.

Tentang pentingnya posisi hukum dalam pembangunan dikatakan oleh Muchtar Kusumaatmadja, bahwa perubahan dan ketertiban atau keteraturan merupakan tujuan kembar dari masyarakat yang sedang membangun. Jika perubahan hendak dilakukan secara tertib dan teratur, maka hukum merupakan sarana yang tidak dapat diabaikan dalam proses pembangunan. Globalisasi harus diresponse dengan instrumen hukum yang responsif. Sebagai sarana pembaharuan masyarakat, hukum juga memerlukan pembaharuan dan pembinaan.

Oleh : Hipatios Wirawan Labut, S.H., Advokat dan Praktisi Hukum