Abraham : Lawan Radikalisme Dengan Perkuat Empat Pilar

0
89

Labuan Bajo – Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dari Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Abraham Liyanto menilai cara paling ampuh melawan paham radikal adalah dengan memperkuat nilai-nilai empat pilar bangsa yaitu Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhineka Tunggal Ika. Alasannya, empat pilar bangsa adalah dasar, ideologi dan jiwa tau roh bangsa ini dibangun. Jika pemahaman lemah, akan mudah paham lain seperti radikal mudah masuk Indonesia.

“Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan adalah bagian dari memperkuat dasar-dasar negara. Ini bukan pekerjaan iseng dari MPR tetapi upaya penanaman ideologi bangsa ke masyarakat,” kata Abraham dalam kegiatan sosialisasi di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, Rabu (12/2).

Ia mengingatkan empat pilar bangsa sudah menjadi harga mati untuk bangsa ini. Setiap orang atau kelompok yang ingin menggantikannya adalah pengkhianat.

“Kita lawan kalau ada yang mau menggantikan,” tegas Abraham.

Menurut anggota Komite I DPD ini, empat pilar disusun secara susah payah oleh para pendiri bangsa. Perdebatan dan beda pendapat memang terjadi sangat dalam. Tetapi karena ingin bersatu dalam bingkai NKRI, para pendiri bangsa membuang perbedaan yang ada dan bersatu dalam membangun bangsa yang namanya Indonesia.

“Kita sebagai generasi muda jangan sia-siakan kerja keras para pendiri bangsa. Kita bersyukur sudah mendapatkan negara yang aman, tentram dan kaya sumber daya alam. Tugas kita adalah mengisi kemerdekaan yang ada supaya bangsa ini bisa lebih makmur,” tutur Sekretaris Fraksi atau Kelompok DPD di MPR ini.

Dia menyayangkan sebagian masyarakat masih memperdebatkan satu sama lain dengan mempertentangkan suku, agama, dan ras (sara). Padahal para pendiri bangsa sudah sepakat untuk tidak mempertentangkan perbedaan. Perbedaan adalah suatu keanekaragaman dan kekayaan yang dijadikan alat untuk menyatukan, bukan memisahkan.

“Mari kita lawan bersama upaya pemecah-belah lewat isu Sara. Yang memakai isu Sara untuk berkuasa adalah pengecut karena tidak bisa bersaing secara sehat. Untuk NTT, mari kita lawan yang memakai isu Sara dalam pelaksanaan pilkada,” ujar Abraham.

Dia menambahkan bangsa ini dibangun oleh berbagai komponen bangsa. Ada suku Batak, Jawa, Ambon, Flores, dan lain-lain. Bangsa ini juga dibangun oleh sejumlah komunitas agama yaitu Muslim, Katolik, Protestan, Hindu, Budha hingga Konghucu. Dengan latar belakang tersebut, sudah sepatutnya saling hormat-menghormati, bukan fitah antar anak bangsa dan saling sumpah-serapah.

“Caci-maki atas dasar agama harus dihentikan. Mengkafirkan yang lain itu menyakitkan. Saya harap semua sumpah-serapah seperti itu harus dihentikan. Bisa pecah negara ini kalau terus dilanjutkan,” tutup Ketua Kadin Propinsi NTT ini.