Abraham : Empat Pilar Pemersatu Bangsa

0
66

Kupang – Anggota MPR sekaligus DPD dari Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Abraham Liyanto mengemukakan empat pilar bangsa yaitu Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhineka Tunggal Ika sudah final. Keempatnya merupakan pilar dan pemersatu bangsa. Jika salah satunya diabaikan atau dibuang, akan membawa negara ini bubar.

“Mari kita rawat bersama. Jangan sampai ada yang menggantikan salah satunya. Apalagi jika mengganti empat-empatnya,” kata Abraham dalam kegiatan Sosialisasi MPR di Kupang, NTT, Sabtu (8/12/2020).

Ia mengatakan empat pilar bangsa telah disusun secara susah payah oleh para pendiri bangsa. Perdebatan dan beda pendapat terjadi sangat dalam dari berbagai kelompok dan suku bangsa. Namun karena punya tekad untuk bersatu dan hidup dalam bingkai NKRI, akhirnya para pendiri bangsa sepakat yaitu membentuk negara yang dinamakan Indonesia.

“Sebagai generasi muda, kita jangan sia-siakan kerja keras para pendiri bangsa. Beda pendapat boleh. Toh para pendiri bangsa juga mendirikan bangsa ini melalui perdebatan. Namun ketika sudah sepakat dan membentuk Indonesia maka wajib kita untuk mempertahankannya. Jangan kita khianati kerja besar dari para pendiri bangsa,” ujar Abraham yang menjadi anggota Komite I DPD ini.

Dia menyerukan agar melawan setiap kelompok atau unsur yang ingin menggantikan empat pilar tersebut. Mereka yang mengingkari bukan sebagai Warga Negara Indonesia (WNI)  karena tidak paham akan sejarah pendirian bangsa ini.

“Kita lawan kalau ada yang mau menggantikan. Apakah ideologi Khilafah, Komunis, atau yang lain,” tegas Abraham yang sudah tiga periode menjadi anggota DPD.

Secara khusus ia memberi penekanan terkait Pancasila kepada masyarakat NTT. Dia tegaskan inspirasi Pancasila didapatkan Presiden pertama Soekarno di Ende, NTT.  Ide itu diperoleh saat Bung Karno dibuang atau ditahan oleh Pemerintah Belanda di Ende. Dengan fakta itu, wajib bagi masyarakat NTT untuk menjaga dan mempertahankan Pancasila.

“Itu kebanggan kita. Pancasila lahir di tanah kita. Mari kita rawat dan jaga. Kita tidak boleh lenggah dan kalah dengan kelompok yang ingin dirikan khilafah. Para pendiri bangsa ini tidak mendirikan negara khilafah tetapi negara Pancasila. Mari kita pertahankan,” tutur Abraham yang juga Ketua Kadin Propinsi NTT.

Dia meminta masyarakat NTT harus berada di depan dalam menjaga Pancasila. Pancasila sudah sangat ideal  pengayom dan pemersatu bangsa.
“Kita lawan bersama jika masih ada yang ingin menggantikannya,” tutup Abraham.