Hakim Perintahkan Majikan Bayar Gaji Afra Selama 9 Tahun Bekerja

0
745

Jakarta, Kastra.co – Hakim Ketua pada sidang Kasus Afra di Pengadilan Negeri Jakarta Barat telah memerintahkan terdakwa Fredy Burhan untuk membayar gaji yang harus diterima korban selama bekerja 9 tahun.

Kepada terdakwa hakim meminta untuk segera melakukan pelunasan pembayaran gaji korban sebelum sidang diputuskan.

“Minggu depan kamu harus membayar gaji dia selama bekerja di rumah kamu. Kasian anak ini (korban) tidak menerima gaji,” perintah hakim terhadap terdakwa, saat sidang perdana, Rabu (29/01/2020).

Terdakwa melalui keluarga telah membayar gaji Afra sebesar Rp138.000.000,00 pada sidang kedua, Rabu (05/02/2020). Penyerahan uang itu disaksikan oleh Kuasa Hukum Afra, Hipatios Wirawan, S.H., dan Herman Hemmy, S.H dan ditandatangani oleh Korban, Afra Ambul.

Seperti diberitakan sebelumnya, Afra adalah Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dilakukan oleh majikannya sendiri.

Kasus yang menimpa gadis asal Gurung Sita Manggarai Timur ini terjadi pada Oktober 2019 lalu.

Kuasa hukum Afra, Herman Hemmy mengapresiasi inisiatif yang dilakukan oleh Hakim.

“Kami berterima kasih karena hakim turut membantu mempercepat penyelesaian pembayaran gaji untuk Afra. Kami pun tidak mau mengambil fee dari uang tersebut. Itu adalah hak Afra,” ujar Herman.

Sementara itu, anggota tim kuasa hukum, Hipatios menjelaskan bahwa pembayaran gaji bukan untuk mengabaikan tindakan pidana.

“Pelaku akan diproses sesuai UU yang berlaku. Kita tunggu saja bagaimana hakim memutuskan kasus ini,” kata Wira, sapaan akrabnya.

Sebagaimana diketahui, terdakwa Freddy Burhan diancam hukuman 10 tahun penjara sesuai ketentuan pasal 44 UU Penghapusan KDRT.

Untuk diketahui, Afra dianiaya majikannya, Ferddy Burhan pada (22/10/2019) yang menyebabkan luka parah di pelipis, kepala, punggung dan tangan.

Menurut Freddy, hal itu dilakukannya karena Afra kurang cekatan dalam bekerja. Padahal korban mengaku sakit.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Cengkareng, AKP Antonius menyebut, korban telah sembilan tahun bekerja pada Ferddy. Selama bekerja, Ferddy kerap menyiksa korban karena alasan tersebut.

“Korban sering dianiaya oleh pelaku bila melihat pekerjaan korban dirasa kurang bersih atau kurang baik,” kata Antonius kepada wartawan, Selasa (22/10/2019).

Dari hasil pemeriksaan lebih jauh, Ferddy ternyata tidak hanya menyiksa. Diketahui, selama sembilan tahun bekerja, korban belum pernah menerima gaji sepeser pun.

“Jadi selama sembilan tahun, korban belum digaji atau dibayar,” katanya.

Kuasa Hukum mengatakan, 9 tahun lalu Afra baru berumur 15 tahun sehingga ada unsur perdagangan anak di bawah umur.

“Afra diperkerjakan sejak 9 tahun lalu berarti umur 15 tahun diperkerjakan ke jakarta. Seharusnya pemerintah segera melakukan investigasi,” tegas pengacara senior, Herman Hemmy.

Menurut Herman, tindakan Freddy memperkerjakan anak di bawah umur dan tidak memberikan gaji adalah bentuk perbudakan.

“Kasus Afra adalah akibat human trafficking karena dia dijual dari tangan ke tangan, lalu dia bekerja tanpa dibayar dan disiksa selama 9 tahun. Itu masuk human explotation and slavery,” ujar advokat Peradi ini. (CBN)