Harga Rokok Naik, Siapa yang Diuntungkan?

0
356

Penulis: Arnoldus Jemadu, S.Fil.

(Aktivis yang Tinggal di Jakarta)

Kastra.co-Harga Jual Eceran (HJE) rokok kembali menjadi bahan perbicangan belakangan ini. Bayangkan saja, rokok yang sebelumnya bisa diakses dengan harga yang murah meriah, akan kembali menjadi barang yang sulit dijangkau oleh kaum kecil.

Harganya naik hingga 35 persen. Tesis dasar dari kenaikan harga rokok adalah menjaga kesehatan masyarakat. Masyarakat Indonesia perlu hidup sehat.

Hal ini tentu kedengaran mulia. Alasannya sangat populis. Tapi benarkah demikian di dunia rill.

Sekedar berkisah saja, walaupun saya juga baru mulai bersahabat dengan barang ini dua minggu terakhir. Rupanya ia bisa menjadi sahabat setia bagi kebanyakan orang. Apalagi saat sepi menghampiri.

Beberapa kisah saya pungut dari cerita lepas bersama sahabat pencinta rokok. Petani kecil yang hidupnya sehari di sawah, menganggap rokok sebagai penyemangat.

Tanpanya, mereka tidak bisa menjalankan kegiatan mereka setiap hari. Hidup terasa hampa dan tak bersemangat lagi. Pokoknya rokok adalah segalanya.

Sementara itu hal yang sama kita temukan dalam diri seorang pelukis. Ia memandang rokok sebagai sumber inspirasi.

Karya-karya terbaiknya selama ini muncul setelah meghabiskan sebatang rokok. Ia mendapat kekuatan untuk mewujudkan ide yang ada dalam kepala ke dalam sebuah benda atau gambar.

Rasanya tak bisa berbuat apa-apa tanpa rokok.

Ada beberapa sahabat saya yang melihat rokok itu sebagai bagian dari gaya hidup. Tanpanya, mereka menjadi kurang percaya diri di hadapan banyak orang.

“Apalagi ketika bertemu cewek pertama kali.” katanya.

“Rokok bisa menjadi sahabat yang baik. Ia menjadi sumber kekuatan,” lanjutnya.

Beberapa sharing tentang rokok ini menempatkan rokok sebagai hal yang sangat dibutuhkan bagi kebanyakan orang-orang kecil.

Mereka tidak bisa mengakses tempat yang sedikt keren untuk mencari kebahagiaan. Sebatang rokok Filter bisa menjadi kekuatan bagi mereka untuk menyambung hidup dan sekedar melepas penat.

Jika rokok menjadi barang mewah (luxuri), bagaimanakah kaum kecil bisa mengakses kebahagiaan. Ini bisa menjadi sebuah larangan, orang kecil tidak boleh berbahagia dan berinspirasi dalam hidup.

Jika barang-barang lain boleh saja naik, jangan mencamplok kebagiaan kaum kecil yang mereka nikmati selama ini. Tak ada tempat yang membuat mereka bahagia. Rokok menjadi satu-satunya sumber inspirasi.

Dengan menempatkan rokok  sebagai barang mewah, kaum kecil seakan-akan berusaha dengan kemampuan mereka miliki untuk mendapatkanya. Ini tentu membawa derita bagi kaum-kaum kecil.

Sebab, mereka menempatkan rokok sebagai kebutuhan. Usaha dengan berbagai carapun dihalalkan demi mencapai kebutuhannya dalam hidup.

Kebijakan kenaikan rokok bisa menambah angka kemiskinan. Sementara itu, pemerintah belum sepenuhnya membawa masyarakat Indonesia pada ruang kesejahteraan dan kemakmuran.

Kebijakan pemerintah yang menaikan harga rokok pada tataran praktis menumpukkan kekayaan pada sekelompok pemodal besar yang bergerak pada perusahaan rokok.

Harga yang tinggi bisa degan mudah mendongkrak usaha para pengusaha di bidang rokok. Pendapatan semakin meningkat dengan pengeluaran yang semakin kecil.

Masyarakat kecil pasti membelinya, apalagi jika sudah menjadikan rokok sebagai kebutuhan. Ia akan berusaha mendapatkannya.

Kembali lagi pada pertanyaan di atas,  siapa yang diuntungkan dari harga rokok yang naik? Jawaban sama, pengusaha dan elite-elite politik bangsa.

Rakyat kecil? Mereka terus berada dalam pusaran kemiskinan dan kemelaratan. **