Polisi Diminta Tangkap Pelaku Penyebaran Video Sukmawati

Jakarta, Kastra.co – Forum Advokat Pembela Pancasila (FAPP), sangat menyayangkan sikap beberapa pihak yang secara sengaja dan tanpa hak mencoba menyebarkan video rekaman diskusi kebangsaan tentang pandangan Ibu Sukmawati.

Menurut Petrus Selestinus, Anggota FAPP sekaligus Kuasa Hukum Sukmawati, video yang beredar itu sudah diedit atau dipotong-potong sehingga menjadi informasi yang “tidak mengandung kebenaran”.

Hal itu, kata dia, bertujuan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan sara, sebagai perbuatan yang dilarang oleh pasa 28 ayat (2) jo. pasal 45A ayat (2) UU ITE. 

“Beredarnya rekaman video yang sudah tidak utuh atau sudah dipotong-potong yang sengaja disetting dalam beberapa versi tentang isi pembicaraan atau pandangan Ibu Sukmawati dalam diskusi Kebangsaan dengan tema : BANGKITKAN NASIONALISME, BERSAMA KITA TANGKAL RADIKALISME DAN BERANTAS TERORISME, yang diselenggarakan oleh Divisi Humas Polri, sangat disesalkan, karena penyebaran video itu jelas sebagai tindak pidana, karenanya Polri wajib mencari siapa otak dan pelaku yang menyebarkannya,” kata Petrus kepada Wartawan.

Petrus meminta Divisi Humas Polri selaku Penyelenggara Diskusi, sebaiknya mengklarifikasi video itu.

“Bahwa rekaman video yang beredar ke publik, telah diedit menjadi tidak utuh dan berbeda dari narasi asli Ibu Sukmawati, dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab, diduga kuat untuk tujuan mengadu domba,” ujarnya.

Klarifikasi ini, lanjut Petrus, sangat penting, agar menjadi jelas dan terang bahwa tidak ada satupun narasi dalam isi pembicaraan Sukmawati berisi pernyataan yang kontennya menista agama, satu dan lain guna mencegah upaya memecah belah umat.

“Meskipun belum ada pihak yang melapor tentang dugaan tindak pidana “dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian di kalangan masyarakat tertentu berdasarkan SARA”, terhadap oknum yang dengan cara, mengedit rekaman video pembicaraan Sukmawati menjadi tidak utuh, namun Pihak Polri sebaiknya segera mencari siapa otak dan pelaku penyebaran informasi video yang sudah dipotong-potong dengan tujuan untuk menimbulkan perpecahan berdasarkan SARA,” tegas dia.

FAPP sangat menyayangkan tindakan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang telah memotong atau mengedit rekaman video pembicaraan Ibu Sukmawati dalam Diskusi Kebangsaan Membangkitkan Nasionalisme untuk Tangkal Radikaliame dan Terorisme, menjadi tidak utuh.

Editan rekaman itu kemudian disebarkan ke publik dengan maksud agar siapapun yang mendengarkan video itu akan berpendapat bahwa telah terjadi tindak pidana penistaan agama, padahal faktanya tidak demikian.

“FAPP mendesak Polri untuk segera menangkap oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang menyebarkan video rekaman yang tidak utuh dimaksud, karena tujuan pelaku mengedit rekaman itu, jelas untuk menimbulkan keresahan, kebencian di kalangan masyarakar bahkan perpecahan berdasarkan SARA, padahal di dalam forum terhormat itu  Ibu Sukmawati sebagai pembicara tidak mengeluarkan pernyataan yang berkonten menista agama manapun berdasarkan SARA,” pungkas advokat senior ini.

Dalam potongan video tersebut, Sukmawati Soekarnoputri tampak membandingkan Nabi Muhammad SAW dan presiden pertama Ir Soekarno.

Video yang diunggah pada Jumat (15/11/2019) oleh akun Twitter @intanRatuaja12, hingga saat ini telah dilihat sebanyak 293 kali.

Dalam video tersebut, Sukmawati Soekarnoputri tampak mempertanyakan siapa yang berjuang di abad 20 bagi kemerdekaan Indonesia.

Sukmawati melemparkan pertanyaan, Nabi Muhammad atau Soekarno.

Sebelumnya, dalam video Sukmawati juga tampak mempertanyakan mana yang lebih bagus antara Al Quran dan Pancasila.


Putri dari proklamator tersebut kemudian meminta audiens atau mahasiswa yang hadir untuk memberikan jawaban atas pertanyaannya.

“Sekarang saya mau tanya nih semua. Yang berjuang di abad 20 itu Nabi Yang Mulia Muhammad atau Ir. Soekarno utuk kemerdekaan?,” tanya Sukmawati. (CBN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here