Demokrasi dalam Cengkraman Media

Penulis: Arnol Jemadu, S.Fil.
(Aktifis Sosial yang tinggal di Jakarta)


Satu hal yang tidak bisa dibantahkan, demokrasi tak bisa dipisahkan dengan kata. Kata-kata mempuyai peran penting dalam sebuah sistem demokrasi. Kata-kata itu seperti suplemen yang menghidupkan sebuah demokrasi. Setiap orang bebas berkata-kata dalam sebuah wadah demokrasi tanpa ada yang membatasi. Dalam hal ini retorika punya andil yang besar dalam sebuah negara demokrasi.


Setiap orang dalam sebuah negara demokrasi berusaha meramu kata menjadi lebih baik. Kata-kata diolah sedemikian untuk bisa disampaikan dalam sebuah ruang publik. Inilah sebuah perbedaan dengan negara yang menganut paham fasis. Negara sebagai pemegang dogma dan rakayat hanya bisa menjalankan perintah dari negara, tanpa ada sedikitpun kritik terhadap perintah negara. Sebab, dalam paham fasis, negara adalah pemilik kebenaran.


Kata-kata dalam pusaran demokrasi bisa menjadi ramuan yang bisa menarik orang. Kata-kata bisa menjadi media persuasi bagi para politisi untuk menarik simpati rakyat. Politisi yang pandai meramu sebuah kalaimat yang menarik di atas panggung publik, bisa menjadi bursa dalam kontestasi PEMILU. Itulah pengaruh kata dalam sebuah pangung politik demokrasi.


Namun pada sisi yang lain, kata-kata dalam sebuah negara demokrasi bisa saja menjadi momok yang menakutkan. Ia bisa saja melahirkan hal-hala yang bersifat destruktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bisa jadi, retorika yang salah kaprah menghancurkan seseseorang dalam pusaran demokrasi.

Apalagi para politisi, ia bisa saja menjadi bumerang bagai dirinya sendiri, jika salah memoles kata dalam ruang publik. Jika tidak pandai menari kata dan memikat masa, orang pasti dengan mudah mundur.


Dalam masyarakat Yunani, basis paham politik, retoris yang selalu berbicara di panggug politik selalu saja berasala dari kaum Filosofis. Mereka memakai panggung untuk mengajarkan pengetahuan kepada masyarakat. Kaum Filofis berusaha mencerahkan sebuah ruang publik Athena dengan pengetahun kebijaksanaan. Bahasa betul-betul dipoles untuk memberikan pencerahan bagi masyarakat Athen yang haus akan pengetahun.


Peran kaum Filosofis dalam dunia Athen turut membangun peradaban Athena menjadi lebih baik. Orang mulai menghidupi nilai-nilai kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari. Namun situasi Athena menjadi chaos, saat kaum sofis berusaha menjadikan pengetahaun sebagai komoditi.

Pagungg ruang publik dimanfaatkan untuk meraup keuntungan dari kaum sofis. Pengetahuan betul-betul dijadikan sebagai aset untuk meraup keuntungan semata dari masyarakat.


Kata dalam Produk Media Sosial


Demokrasi belakangan ini menjadi ramai dengan hadirnya media sosial. Ia mempu menghipnotis anak bangsa. Media sosial menjadi sebuah wadah, tempat semua orang bertemu dan membagikan wacana dalam negara demokrasi seperti Indonesia.

Dalamnya orang bisa berargumen tentang sebuah polemik bangsa. Akses untuk berpendapat di dalamnya tidak mengenal batas usia dan melampui ruang dan waktu. Itulah hal postif media yang memberi kebebasan membangun wacana dan memperdebatkan wacana dalam ruang publik.


Penggalan kata dalam dunia media sosial kerap melahirkan sebauh opini dalam masyarakat, bisa saja mendukung sebuah kekuasaan dan bisa juga menolak setiap kebijakan yang ada. Media masa yang menjamur dalam demokrasi kerap menjadi intrumen politik dari para politisi. Ia menjadi sarana ampuh dalam menggapai kekuasaan.

The Oxword internet Institute melihat peran media dalam dunia demokrasi sangat besar pengaruhnya. Hal ini mereka analisis dari data media sosaial dan pengaruhnya dalam demokrasi Amerika pada saat pemilihan presiden Ameriak pada tahun2016. Temuan menegasakan bahwa peran media sosial sangat berpengaruh terhadap pemilihan terhadap pasangan calon.


Kembali ke Indonesia. Pengaruh media dalam panggung demokrasi Indonesia sangat kuat. Dalam beberapa persoalan bangsa, media sosial memiliki pengaruh besar. Namun demikian, unsur positif dari medai sosial kerap dibajak oleh elit politik yang punya kepentingan. Panggung yang baik untuk mencari masa atau mempopulerkan nama kerap menggunakan media sosial.

Sebab, masa yang ada di dalamnya melampaui ruang dan waktu serta melampaui batas usia. Menjamur media sosial kerap memproduk berita bohong (hoax)untuk kempentingan elit-elit tertentu. Demokrai berada pada tangan pengguna media sosial dengan kepentingan masing-masing.

Masyarakat digitalpun berada pusaran like, komen dan share tanpa tanpa memeriksa isi dari setia penggalan kalimat dalam media sosial. Masyakat digital dengan pengetahuan yang pas-pasan kerap dengan mudah membagikan setiap postingan yang tanpa berusaha untuk membuat filterisasi terhadap penggalan kalimat dalam media sosial.


Demokrasi tanpa media juga tidak mungkin dalam dunia sekarang. Tapi satu hal yang perlu dalam dunia sekarang adalah proses filterisasi terhadap setia berita dalam media sosial. Hal ini membutuhkan budaya baca yang tinggi agar bisa dengan mudah mengecek inforamsi yang ada dalam media sosial. Jika tidak, demokrasi akan terus berbalut gelombang hox yang digunakan elit-elit tertentu dan kepentingan tertentu pula.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here