Agupena; Siapa yang Berliterasi?

Penulis: Yurgo Purab
(Mahasiswa Pasca Sarjana STFK Ledalero; Pendiri Pondok Baca Sastra Daun Lontar di Ile Ape-Lembata.)

“Gempa literasi” menjadi semacam seni panggung nasional yang sedang gencar-gencarnya dipromosikan di seantero tanah air. Kabupaten Flores Timur dan Lembata, NTT pun tidak dapat melepaskan diri dari “gempa literasi” ini.

Pasang Surut Kabupaten Literasi

Ketika Kabupaten Lembata mencanangkan Lembata sebagai Kabupaten Literasi dengan mendatangkan Najwa Shihab, seorang presenter kenamaan yang selalu tampil cekat, cerdas dan menggelitik, banyak orang berpikir bahwa ini adalah geliat awal yang sangat baik bagi perkembangan literasi di bumi Lembata.

Namun kehadiran Najwa, pengasuh program Mata Najwa di salah stasiun TV swasta tersebut, tak banyak memberi dampak bagi perkembangan literasi di Lembata. Pasalnya, orang lebih fokus melihat sosok Najwa sebagai presenter dan artis cantik semata ketimbang melihat misi di balik kehadirannya.


Gambaran literasi bagi publik masih amat jauh. Bahkan publik mengabaikan hal-hal yang sedang tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat itu sendiri. Sebenarnya geliat literasi sudah berkembang, bahkan sebelum pemerintah mendeklarasikan Lembata sebagai Kabupaten Literasi.


Saya ambil contoh Komunitas Taman Daun yang diinisiasi oleh Bapak Goris Ubas Batafor. Komunitas ini sudah mulai didirikan pada 23 April 1987. Komunitas ini bekerja secara swadaya dalam mendatangkan buku-buku dan kebutuhan lain anak-anak untuk membaca.

Geliat Literasi dalam Wadah Agupena

Melihat literasi Lembata yang tampak suam-suam kuku, Kabupaten Flores Timur pun mulai bergulat dengan literasi. Kabupaten Flores Timur merupakan salah satu kabupaten yang juga sedang giat-giatnya mempromosikan kepedulian terhadap literasi di tingkat lokal. Salah satu kepedulian ini ditunjukkan oleh Asiosiasi Guru Penulis Nasional (Agupena) Flores Timur.

Asosiasi ini merupakan kumpulan guru yang menaruh minat terhadap gerakan literasi sekolah dasar hingga tingkat menengah. Beberapa kegiatan Agupena yang sudah dilakukan dan sedang digalakkan demi peningkatan budaya baca dan tulis di kalangan pelajar adalah pelatihan menulis puisi, membaca puisi dan lain-lainnya.

Inisiatif sekelompok guru dari kampung tersebut dapat membawa efek positif yang tentu menggairahkan kreativitas para pelajar untuk membagi pengalamannya lewat bahasa tulisan.


Saya pernah sekali bertatap muka dengan Ketua Agupena, Maksimus Masan Kian dan anggotanya, Pion Ratulloly dan juga beberapa guru yang sedang menjalankan kegiatan literasi di MTS Witihama, Flores Timur, NTT. Waktu itu saya berada di Witihama sedang menjalankan kegiatan pastoral. Melalui media Facebook, saya diminta oleh Pion Ratulloly untuk memberikan sedikit masukan tentang proses kreatif saya dalam menulis.

Saya menghargai kesempatan tersebut dengan berbagi cerita mengenai proses kreatif saya dalam menulis. Saya rasa ini merupakan sebuah inisiatif yang baik dari para guru. Paling tidak, saya belajar arti sebuah pengorbanan dan tanggung jawab dari para guru. Bagaimana kepedulian mereka terhadap dunia pendidikan zaman ini, terutama dalam bidang literasi.


Berdasarkan pengalaman di atas, saya ingat Teologi Pembebasan Gustavo Guttierez atau Filsafat Pendidikan Paolo Freire, dengan gagasannya yang terkenal yakni pendidikan sebagai praxis Pembebasan.


Gagasan demikian juga dapat kita temukan di dalam idealisme Khalil Gibran, terutama dalam bukunya Sang Nabi. Bagi saya pendidikan harus mampu membebaskan orang dari buta huruf serta mengolah aspek rasa manusia, moralitas yang baik, juga pengungkapkan seni melalui bahasa, seperti pantun, gurindam, puisi, cerpen dan juga opini.


Seorang guru yang baik adalah seorang yang mampu membangunkan kreativitas para siswa dengan menjadikan ruang lingkup belajar sebagai taman yang mengasyikan serta merangsang imajinasi mereka.

Di situ mereka lebih kreatif dan enjoy dalam menulis karya-karya sastra yang bermartabat dan benar demi pengembangan jati diri dan peradaban dunia pendidikan ke depan. Dan tentu hal itu bukan hanya menjadi tugas Agupena tetapi juga pemerintah dan masyarakat.

Berdasarkan catatan sejarah, literasi di Flores Timur sebenarnya sudah ada sejak pertama kali bangsa Portugis menginjakkan kaki di Flores Timur pada abad ke-16 M. Bukti-bukti literasi itu tidak hany dapat kita temukan di dalam dunia aksara dan membaca tetapi juga dalam bentuk budaya, ekonomi, politik dan juga benda-benda peninggalan sejarah yang masih tersimpan rapi hingga saat ini dari sana.


Kehadiran para Misionaris ke wilayah Flores Timur juga membawa perubahan peradaban manusia yang lebih baik dalam hal tulis-menulis. Budaya literasi itu dapat kita contohka di Seminari Hokeng yang sudah berumur tua tetapi masih mempertahankan majalah kuncup yang lahir dan berkembang dari tangan para siswa puluhan tahun hingga generasi siswa abad ini.


Artinya literasi di Flores Timur sudah ada. Tapi sulit untuk mengukur kadar kehadirannya dan keberadaanya di bumi Flores Timur. Bukan tidak mungkin tapi kurangnya orang yang menaruh minat pada dunia semacam ini.


Saya memberi apresiasi kepada Maksi Kian, Pion Ratuloly, Amber Kabelen, Ibu Chelmy Koten dan juga anggota Agupena lainnya, yang telah berjuang maksimal dalam menularkan virus literasi bagi para siswa. Pertanyaannya adalah sejauh mana kegiatan literasi di sekolah-sekolah, yang diadakan oleh Agupena membawa efek dan flek dalam paru-paru pendidikan.


Apakah literasi hanya sebatas memberi penyadaran akan pentingnya menulis? Atau hanya bergerak dari pelatihan literasi dan tidak ada tindak lanjut untuk proses pendampingan dalam jangka waktu yang lama?


Hemat saya, literasi tidak akan berkembang jika tidak konsistennya Agupena untuk mengadakan pendampingan dalam jangka waktu yang panjang. Yang kedua, siapa yang berliterasi? Para guru atau siswa saja?

Hemat saya ada tindakan dialogis yang saling menguntungkan dari kedua bela pihak. Hal demikian harus dilakukan agar literasi tidak mati-hidup atau pasang-surut.
Di satu sisi menguntungkan para guru yang bergerak dan di sisi lain menguntungkan para siswa yang terlibat. Mengapa? Proses literasi adalah proses belajar bersama, yang mana orang belajar mengaktualisasikan diri, berorganisasi dan mengembangkan idealisme berpikir cerdas dan terampil dalam memilin bahasa yang taktis dan tepat dalam sebuah karya bersama.


Seorang guru harus banyak membaca dan menulis. Dengan membaca dan menulis dia tidak hanya berdiri tanpa pegangan tapi selalu memiliki sesuatu yang mau dia beri walaupun kadang dia merasa porsinya kurang memuaskan. Seorang guru harus terlibat dalam hal-hal yang menggiatkan inspirasi anak-anak dan melibatkan diri di dalam proses belajar mereka. Seorang guru tidak hanya mentransfer ilmu tetapi menerima ilmu dari proses belajar dan dialog dengan muridnya.


Seorang guru harus memiliki hati yang terbuka menerima kritik dan saran. Seorang guru yang baik harus juga memiliki moral yang patut dicontohi dan memiliki iman yang kokoh. Seorang guru tidak hanya berkutat pada dunia menulis tapi juga dunia kreativitas. Ia terlibat dan melibatkan diri dalam proses berliterasi dan berdialog.


Pentingkah Literasi Bagi Generasi Sekarang?


Berhadapan dengan kemajuan teknologi sebenarnya literasi harus tumbuh dari bawah. Artinya tumbuh dari keseharian hidup masyarakat. Dengan tumbuhnya literasi dari bawah maka literasi tidak hanya menjadi milik sekelompok orang. Maka hampir dapat dipastikan, literasi dapat menjawabi kebutuhan Sumber Daya Manusia yang semakin cerdas seiring dengan kemajuan teknologi yang semakin tinggi.


Oleh karena itu, literasi tak cukup digembor-gemborkan tetapi lebih kepada aksi–praktis yang mesti menjadi geliat perubahan peradaban manusia yang lebih terampil, jeli serta memiliki kepekaan terhadap kemanusiaan. Inilah yang mesti menjadi harapan sekaligus angin segar perubahan manusia yang tak hanya cerdas secara logika tetapi juga hati nurani yang mumpuni, yang mampu bersaing dalam roda pemerintahan, budaya dan juga keagamaan.


Dengan literasi orang memandang dunia dari jendela buku serta menilik soal-soal praktis dari literatur yang ada dengan elaborasi pemahaman serta pemecahan yang benar-benar mendarat pada situasi masyarakat. Inilah harapannya. Artinya, membaca dapat mengubah pola pikir, pola tindak seseorang agar berlaku lebih terampil dan hati-hati memandang manusia dan dunia.


Jika semua masyarakat sanggup menyediakan waktu untuk membaca maka terciptalah masyarakat yang kritis, terampil dan mampu berdaya saing. Inilah harapan bahwa setidaknya literasi dapat membawa suatu iklim ilmiah yang mampu menetralisir segala pemikiran sempit yang bergerak dalam ranah hidup bersama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here