Gereja China Diperintahkan Mengganti 10 Perintah Allah dengan Kata-Kata Presiden Xi Jinping

KASTRA.CO, Beijing – Sebuah perintah dalam rangka doktrinisasi Gereja di China baru saja dikeluarkan pemerintah. Dilansir dari Okezone, Gereja-Gereja di China telah diperintahkan untuk mengganti Sepuluh Perintah Allah dan menggantinya dengan kutipan Presiden Xi Jinping.

Para pemimpin gereja Tiga-Diri (Three-Self) yang didukung negara telah diancam akan ditutup jika tidak mematuhi perintah pemerintah.

Pajangan nilai-nilai Kristiani diganti dengan ideologi partai Komunis, seperti, “Berjaga-jaga terhadap penyusupan ideologi barat, dan secara sadar melawan pengaruh pemikiran ekstremis.”

Pada saat yang sama, Partai Komunis telah meluncurkan tindakan keras terhadap gereja rumah yang berada di luar kendali negara.

Di beberapa wilayah negara itu, Sepuluh Perintah juga digantikan oleh potret Mao Zedong (Pendiri RRC) dan Xi Jinping.

Melansir Daily Mail, Selasa (24/9/2019) langkah ini dilaporkan oleh Bitter Winter, sebuah majalah yang mendokumentasikan kebebasan beragama dan hak asasi manusia di China.

Sumber anonim mengatakan kepada majalah itu bahwa Partai Komunis berusaha untuk menjadi sosok seperti Tuhan.

“Langkah pertama pemerintah adalah melarang bait agama,” kata sumber tersebut.

Kemudian negara mulai menerapkan empat persyaratan dengan memerintahkan bendera nasional dan nilai-nilai sosialis inti untuk ditempatkan di gereja-gereja.

“Kamera pengintai juga dipasang untuk memantau orang dan kegiatan keagamaan. Langkah terakhir adalah mengganti Sepuluh Perintah dengan pidato Xi Jinping,” tulis majalah tersebut.

Jinping bersumpah pada 2013 untuk menepikan agama di China agar sejalan dengan ideologi komunis negara itu.

Dalam laporannya awal tahun ini, Komisi Kebebasan Beragama Internasional Amerika Serikat memperingatkan bahwa kampanye ini adalah upaya tidak hanya untuk mengurangi dan menghapus praktik agama yang independen, tetapi juga warisan budaya dan bahasa dari komunitas agama dan etnis.

Seperti halnya orang Kristen, laporan itu mengatakan pemerintah telah menganiaya umat Buddha Tibet dan Muslim Uighur.

Diperkirakan 800.000 Muslim telah ditangkap dan dilempar ke kamp-kamp konsentrasi sementara partai telah mengirim orang-orang untuk memata-matai komunitas lokal.

laporan itu menyebutkan teknologi pengawasan canggih telah digunakan untuk menekan komunitas Buddha.(Sj/cbn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here