Talkshow 50 Tahun STFK Ledalero di Jakarta: Filsafat Harus Turun ke Publik

KASTRA.CO, Jakarta-Pada hari Sabtu (21/9/2019) Ikatan Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero se-Jabodetabek merayakan Pesta Emas STFK Ledalero melalui talkshow bertema “Sumbangan Filsafat dan Teologi bagi Indonesia Unggul”.

Kegiatan berlangsung pada pukul 09.30-13.00 WIB bertempat di Toko Buku Gramedia, Matraman, Jakarta Timur.

Peserta yang hadir tidak hanya alumni melainkan juga peserta lain yang punya perhatian terhadap filsafat dan teologi di tanah air, khususnya di STFK Ledalero, Kab. Sikka, NTT.

Tiga pembicara yang dengan latar belakang berbeda menjadi pemateri. Pembicara pertama, Dr. Ignas Kleden, M.A., sosiolog yang merupakan alumnus STFK Ledalero sebelum menyelesaikan master filsafat serta S3 sosiologinya di Jerman.

Dia membawakan materi tentang sifat keilmiahan filsafat yang dia angkat dari buku “Menukik Lebih Dalam”.

Dia menjelaskan bahwa filsafat itu perlu menjadi prasarana bagi ilmu lain. Filsafat perlu diterjemahkan dalam kebijaksanaan untuk memahami ilmu lainnya.

Para filsuf perlu menggunakan bahasa publik dalam menyampaikan gagasannya sehingga dapat dimengerti oleh masyarakat umum.

Pembicara kedua, Karlina Supelli berusaha melihat filsafat dari sudut pandang ilmu lainnya.

Sebagai seorang astronom yang kemudian belajar dan menjadi dosen filsafat di STF Driyarkara, Karlina Supelli melihat filsafat sebagai radar.

Filsafat sebagai radar mampu mendeteksi berbagai masalah. Filsafat pun, dengan cara dan langkah berpikirnya, mampu menyelesaikan persoalan yang ada di bidang ilmu lain, lanjut Doktor Filsafat tamatan Universitas Indonesia ini.

Terakhir, hadir juga politisi muda NTT, Yohanis Fransiskus Lema, S.IP. M.Si atau lebih dikenal sebagai Ansy Lema. Dia menyayangkan kehancuran berpikir dan teologi kematian yang menakutkan berkembang saat ini di Indonesia.

Selain itu, dia menyarankan supaya alumni STFK Ledalero dan semua orang yang telah belajar filsafat masuk dalam bidang politik karena dapat memengaruhi kebijakan.

“Karena itu kemurnian ruang publik ini harus diselamatkam oleh kewarasan alumni Ledalero,” kata anggota DPR RI itu.

“Saya salah satu orang yang percaya bahwa perubahan itu digerakkan dari kekuasaan, yang memegang kendali. Dan menurut saya alumni Ledalero harus masuk dalam kekuasaan untuk bisa mengatur jaraknya kekuasaan, membuat regulasi di situ.” lanjutnya.

Salah satu audiens dalam sesi tanya jawab merekomendasikan kepada Ansy Lema agar politik seharusnya lebih terbuka terhadap filsafat.

Politik perlu mengakomodasi filsafat agar kebenaran dan kebijaksanaan yang menjadi titik tumpu ilmu filsafat berkembang juga di kehidupan politik saat ini.(Sj/cbn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here