Penyelundupan Komodo: Antibiotik & Sistem Senjata

Akhir Maret 2019, pers dunia menyorot penyelundupan dan perdagangan sekitar 40 ekor hewan paling langka—sekitar Rp 500 juta per ekor–di Bumi yakni Komodo asal Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (Reuters, 27/3/2019).  Berita ini tenggelam oleh keriuhan jelang Pemilu 17 April 2019 di Negara RI.

Lagi pula, Pemerintah RI hanya melihat dan menjadikan Komodo dan lingkungannya sebagai obyek wisata pada kawasan Taman Nasional Komodo (TNK). Bahkan beberapa waktu silam, Pemerintah mengizinkan pembangunan resort dan lain-lain seluas 22,1 ha di Pulau Rinca (PT Segara Komodo Lestari) dan 426,07 ha di Pulau Padar dan Pulau Komodo (PT Komodo Wildlife Ecotourism) (Yohanes Seo/Tempo.com, 7/8/2018). Sedangkan DPRD Kabupaten Manggarai Barat menolak pembangunan hotel, villa, restaurant atau rest area dan fasilitas lainnya di dalam kawasan TNK Komodo khususnya Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar (Keputusan No.170/DPRD/125/VIII/2018 tertanggal 21 Agustus 2018).

Tidak demikian halnya dengan  badan khusus Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pentagon (Department of Defense/ DoD), Defense Threat Reduction Agency (DTRA) dan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), badan PBB di Paris, Perancis. Misalnya, sejak akhir abad 20, DTRA mendanai riset darah Komodo (American Chemical Society, 2017). Hasilnya, antara lain, para ahli AS menemukan zat-zat antibiotik pada darah Komodo (Donald G. McNeil Jr./ The New York Time, 17/4/2017).

Komodo yang hidup hanya pada lima pulau kecil di Negara RI awal abad 21, memiliki air liur yang mengandung sekitar 57 spesies bakteri, yang diyakini dapat mematikan mangsanya. Namun, Komodo resisten terhadap bakteri-bakteri ini, dan serum Komodo  terbukti memiliki aktivitas antibakteri. Zat yang dikenal sebagai peptida antimikroba kationik (cationic antimicrobial peptides/CAMPs) diproduksi oleh hampir semua makhluk hidup dan merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh bawaan (Barney M. Bishop et al, 6/2/2017).

Kini tim ahli AS juga membuat simulasi sistem interaksi Komodo dengan lingkungannya di penangkaran-penangkaran Komodo (Joan Koka/Argonne National Laboratory, 28/11/2016). Targetnya ialah konservasi Komodo melalui desain habitat dan ekosistem Komodo mirip ekosistem asal-aslinya di Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan pulau-pulai lain di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tidak sulit bagi para ahli AS, seperti halnya ahli negara-negara lain, meriset Komodo karena kebijakan Pemerintah RI mengizinkan Komodo dibawa keluar dari zona kedaulatan Negara RI (Lutfy Mairizal Putra, 28/9/2017).  Sehingga kebun binatang pada sejumlah negara telah memiliki spesies Komodo. 

Komodo adalah misteri alam dan sains dunia sampai hari ini. Bahkan misteri alam dan sains ini dapat menggugurkan teori seleksi alam Charles Darwin asal Inggris akhir abad 19. Karena, sejak penemuan fosil tertua Varanus komodoensis dari era Pliosen akhir (sekitar 3 juta tahun silam) di daratan Australia, terungkap bahwa ukuan fisik Varanus komodoensis era Pliosen itu sama dengan ukuran Komodo (Varanus komodoensis) di Pulau Komodo, Rinca, Padar, dan lain-lain awal abad 21 (Hocknull, SA, et al., 2009).

Tahun 1991, UNESCO menetapkan Taman Nasional Komodo (TNK) seluas 219.322 sebagai World Heritage Site dan Biosphere Reserve (Johannes Subijanto, 2002); Jim Singleton et al, 2002). Maka kini tiba saatnya, Pemerintah RI mengubah kebijakannya terhadap Komodo melalui program konservasi Komodo dan lingkungannya berbasis kearifan lokal Rakyat di NTT dan program riset kestabilan ekosistem global, obat, dan lain-lain di sekitar TNK.

Karena menurut UNESCO, pulau-pulau di kawasan TNK dihuni oleh sekitar 5.700 Komodo dragons, yang menarik minat dan upaya banyak ahli dari seluruh dunia untuk mempelajari evolusi kehidupan di bumi. Secara ekologis, menurut UNESCO, yakni TNK terletak di jantung kepulauan Negara RI dan persimpangan dua lempeng benua (Australia dan Asia) sebagai “shatter belt” (sabuk pembatas) garis Wallace (Wallacea Biogeographical Region) antara ekosistem berkarakter zona Australia dan zona Asia (UNESCO, 1992). 

Penulis: Komarudin Watubun

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here