Dr. Mantovanny : Bunuh Diri di Manggarai adalah Wabah Senyap

Kastra.co, Ruteng – Pengamat masalah sosial dari Universitas Katolik  Indonesia (UKI) St. Paulus Ruteng, Dr. Mantovanny Tapung menilai, meningkatnya kasus bunuh diri yang terjadi di Manggarai dan Manggarai Timur (Matim) adalah wabah senyap (silent epudemic) dan merupakan akumulasi bahkan eskalasi dari mata rantai silang sengkarutnya persoalan yang melanda masyarakat di dua kabupaten tersebut.

Menurut Mantovanny, kasus bunuh diri yang terjadi di Manggarai tak lazim sebagai sebuah gejala di negara berkembang tetapi sudah menjadi semacam wabah senyap.

“Bunuh diri seperti sudah menjadi prevalensi yang sangat akut dalam masyarakat Manggarai Raya, yang tentu sangat mencemaskan semua pihak,” ungkap Mantovanny, saat dihubungi Kastra.co pada Selasa (16/7/2019).

Mantovanny mengatakan, sebagai wabah senyap, perilaku menyimpang ini bisa merupakan akumulasi atau bahkan eskalasi dari mata rantai silang sengkarutnya persoalan yang melanda masyarakat di Manggarai dan Manggarai Timur.

“Sebagai masyarakat yang sedang bertransisi menuju peradaban modern, persoalan ekonomi atau kemiskinan, moralitas, gaya hidup, depresi dan rendahnya daya pikir kritis dalam bermedia sosial menjadi simpul-simpul pemicu terkonstruksinya niat dan tindakan bunuh diri,” ujar penulis buku ‘Narasi Bangsa yang Tercecer’ itu.

Dia mengingatkan, jika tidak ada perlakuan atau intervensi terhadap prevalensi ini, maka pada taraf yang fatalistik, dengan bantuan media sosial atau media mainstream, para pihak yang terpapar trauma bunuh diri baik keluarga, teman dekat atau masyarakat lain bisa berpotensi pelaku bunuh diri berikutnya.

“Terjadi circle pattern (pola lingkar) yang terbentuk bawah sadar antara pelaku dengan pihak yang terpapar,” urainya.

Sementara itu, Dr. Yuvens Rugi, Pr., akademisi pada Sekolah Tinggi Ilmu Pastoral (STIPAS) St. Cyirilus Ruteng mensinyalir, kasus bunuh diri yang sebagian besar dilakukan remaja dan dewasa terjadi karena tidak kuat jika ada persoalan yang dihadapi.

“Sepintas anak-anak kita tidak kuat menghadapi persoalan. Ditambah lagi, guru di sekolah rupanya belum cukup melatih anak-anak untuk melakukan manjemen konfkik,” ujar Dr. Yuvens Rugi, Pr.

Romo Yuvens Rugi juga mengharapkan semua elemen bahu-membahu mencerna dan menganilisis masalah bunuh diri yang terjadi di Manggarai dan Manggarai Timur.

Berdasarkan data yang dirilis Yayasan Maria Moe Peduli (YMP) Ruteng, jumlah kasus bunuh diri di dua kab tersebut sudah mencapai 13 orang sejak tahun 2018 sampai Juli 2019.

Kejadian terakhir terjadi di Borong pada Minggu (14/7/2019) sore, terpaut seminggu dengan yang terjadi di Langke Rembong. (LAS/CBN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here