MENANTI JANJI SANG PRESIDEN

Oleh : Engel Christ Gentar, S.S

Pemilihan presiden dan wakil presiden periode 2019 – 2024 baru saja selesai kita laksanakan. Dari data dan laporan yang dikeluarkan KPU pusat, Selasa, 21 Mei 2019, sudah bisa dipastikan bahwa pasangan Jokowi – Maaruf Amin adalah pemenangnya. Pasangan ini meraih suara 55,50%, melampaui perolehan suara Prabowo – Sandi yang hanya memperoleh 45,50% suara. Jokowi – Maaruf Amin dianggap lebih layak oleh mayoritas masyarakat Indonesia untuk memimpin bangsa ini selama lima tahun ke depan.

Pertanyaan bagi kita adalah apakah mereka mampu memimpin rakyat dan bangsa Indonesia yang sedemikian besar? Apakah janji – janji dan program – program yang mereka usung kelak terwujud secara nyata dan betul – betul – betul berpihak pada rakyat?

Kedua pertanyaan ini sangat penting untuk kita cermati bersama, mengingat bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang plural. Banyak persoalan bangsa yang hingga saat ini belum terselesaikan dengan baik. Sebut saja misalnya masalah seputar kemiskinan, pengangguran, pendidikan, kesehatan, hukum, dan hak asasi manusia. Kalau tidak disikapi dengan baik dan bijaksana, maka kekacauan akan selalu terbayang dihadapan mata kita, akan muncul persoalan – persoalan baru yang justeru semakin memperburuk kondisi kehidupan bangsa. Persoalan demi persoalan sangat menganggu kenyamanan dan keharmonisan kehidupan kita sebagai warga negara.

Namun, bila kita melihat track record kepemimpinan Jokowi selama kurang lebih empat tahun terakhir ini, tak dapat disangkal bahwa disatu sisi banyak kebijakan, keputusan dan perubahan yang signifikan yang terjadi di negeri ini selama beliau memimpin, tetapi disisi lain banyak pula kebijakan dan keputusan – keputusannya yang tidak sesuai dengan harapan dan cita – cita luhur bangsa. Lihat saja beberapa persoalan serius beberapa tahun belakangan ini, seperti masalah seputar lapangan pekerjaan, pelanggaran HAM, harga sembako yang semakin tak menentu, masalah seputar kesejahteraan rakyat, dll. Pro kontra seputar kebijakan dan keputusan pemerintah dianggap oleh sebagian masyarakat Indonesia sebagai sebuah keputusan yang tidak adil dan bijaksana, keputusan yang tidak berpihak pada rakyat secara keseluruhan. Bahkan ada sebahgian masyarakat yang menilai keputusan dan kebijakan yang diambil syarat dengan muatan politik.

Kondisi kehidupan bangsa yang demikian tentu sangat tidak diharapkan oleh rakyat Indonesia, yang nota bene sangat merindukan kehadiran seorang pemimpin sejati, pemimpin yang dapat membawa perubahan dan pencerahan bagi rakyatnya. Kalau persoalan ini tidak disadari sungguh – sungguh oleh pemimpin kita, maka sia – sialah usaha dan perjuangan rakyat yang telah menaruh kepercayaan kepada mereka selama ini; janji tetaplah janji, kemiskinan dan kemelaratan pasti tak akan pernah hilang dari peziarahan bangsa kita ke depan. Hal ini tentu berakibat fatal bagi kelangsungan kehidupan bersama kita sebagai warga negara, karena pelbagai problem yang disebutkan diatas merupakan problem serius yang membutuhkan jawaban dan tanggapan serius pemerintah. Dalam hal ini, Jokowi yang adalah pemimpin negara sekaligus pelaku pengambil setiap keputusan mempunyai tugas dan tanggung jawab yang besar dalam mengatasi pelbagai problem yang dihadapi oleh anak – anak bangsa di negeri ini, selama ini.

Kini, sosok Jokowi (bersama Maaruf Amin) terpilih kembali untuk memimpin bangsa ini. Apa yang terjadi dikemudian hari setelah mereka dilantik secara resmi sebagai presiden dan wakil presiden di republik ini, kita tidak tahu. Apakah visi – misi, program – program, dan janji – janji yang mereka usung, kelak terwujud secara nyata atau tidak, kita tunggu saja realisasinya. Paling tidak selama mereka memimpin dan menduduki kursi nomor satu di negeri ini selama lima tahun ke depan.

Seandainya apa yang telah mereka janjikan selama masa kampanye tidak mereka penuhi, bisa dibayangkan betapa kecewanya rakyat yang telah memilih mereka, dan betapa pula tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kinerja mereka akan runtuh dengan sendirinya. Akibat lebih lanjut tentu problem yang selama ini senantiasa menghantui hati dan pikiran masyarakat Indonesia bukannya semakin baik tetapi justeru semakin buruk. Semuanya ini akan menjadi bagian dari peziarahan bangsa kita, dan justeru dalam konteks inilah tantangannya, tantangan terbesar bagi pemimpin kita ke depan.

Sebagai tindak lanjutnya, sebuah langkah kongret kearah yang baik dari sang presiden terpilih tentu menjadi harapan dan dambaan masyarakat kita secara keseluruhan. Dalam hal ini, rakyat kita tidak lagi membutuhkan kata – kata manis dan janji – janji indah yang pernah mereka ucapkan sebelum pemilihan umum berlangsung, tetapi lebih pada soal praksis dari bentuk keberpihakan mereka kepada rakyat. Bukan menindas rakyat atau ada motivasi lain dibalik usaha dan perjuangan mereka selama ini. Bukan.

Sebagai warga negara, kita hanya berharap agar mereka betul – betul komitmen dengan kata hati mereka sendiri, komitmen dengan program – program dan janji – janji yang telah mereka sosialisasikan kepada masyarakat luas. Jangan sampai kesempatan jelang pemilu yang diadakan lima tahun sekali hanya dipakai sebagai ajang dan peluang ”menjual ide”, sebagai ajang mencari popularitas diri dan kekuasaan semu, tanpa memperhatikan kepentingan rakyat.

Kalau ini yang terjadi, maka ajang pemilu adalah ajang pembohongan publik. Artinya, selama rakyat kita masih terkungkung dalam kebodohan dan kemiskinan, kesempatan menjelang pemilu hanya dipakai oleh elite politik (capres, cawapres, dan tim suksesnya) sebagai sebuah peluang untuk mencari sensasi dan simpatik masa semata, tanpa memperhatikan dan mempedulikan kepentingan dan kebutuhan real masyarakat Indonesia. Menjadi pemimpin hanya dilihat sebagai sebuah kesempatan untuk mencari kedudukan, kekuasaan, bahkan keuntungan semata, baik material maupun non material.

Realitas seperti ini tentu sangat tidak relevan dengan kondisi kehidupan masyarakat kita yang carut – marut, penuh tantangan dan persoalan. Sebuah kondisi yang betul – betul tidak diharapkan oleh masyarakat kita. Sebagai seorang pemimpin yang dipilih secara langsung oleh rakyat, kita berharap agar pasangan Jokowi – Maaruf Amin juga tidak mempunyai pemikiran dan harapan demikian. Dalam perspektif ini, sebuah harapan akan adanya perubahan kearah positif tetaplah menjadi harapan dan dambaan seluruh rakyat di tanah air tercinta ini.

Sebagai warga negara, kita diajak untuk mendukung segala keputusan dan kebijakan yang nantinya akan diambil oleh pemimpin kita. Kebijakan dan keputusan yang kita dukung tentu yang membangun bangsa ini, yang bisa mensejahterakan kehidupan bersama, mewujudkan nilai – nilai kehidupan berbangsa dan bernegara yang adil, aman, damai, dan sejahtera bagi semua orang.

Penulis, alumni STFT Widya Sasana Malang, Guru di SMAK Pancasila Borong, Kab. Manggarai Timur, NTT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here