Bunuh Saja Kambing Hitam Itu, Jangan Dicari lagi

(Merenda Keresahan Hasil UN 2019)

Oleh, Gusty Rikarno, S.Fil*

Media Pendidikan Cakrawala NTT, di beberapa bulan lagi memasuki usia enam tahun. Dalam kurun waktu inilah, saya (kami) ada. Hadir sebagai jurnalis sekaligus formator dalam hal pendampingan menulis baik untuk guru maupun siswa-siswi. Sebagian besar kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur, kami datang. Mendengar langsung kisah perjuangan para guru di pelosok daerah yang sarana dan prasarana (sarpras) pendidikannya sangat terbatas. Kami hadir di tengah para guru yang berada di pinggir kota bahkan yang berada dalam kenyamanan fasilitas dan sarana pendidikan yang memadai di jantung kota. Sepanjang perjalanan ini, jika bicara persoalan pendidikan maka keluhan awal pasti akan dimulai dengan narasi gaji guru dan sarpras yang sangat kecil dan terbatas. Di sisa waktu yang sedikit, baru bicara tentang kreativitas, inovasi, kedisiplinan dan mental kerja.

Bicara persoalan pendidikan, sebaiknya jangan dimulai dengan titik persoalan. Itu berat. Seluruh energi dan imajinasi akan tersedot banyak di titik ini. Kita akan lelah sendiri untuk berpikir tentang kesulitan dan keluhan yang beragam dan bervariasi. Mungkin cara kita berpikir tentang persoalan pendidikan harus dimulai dari cara pandang kita (kepala sekolah dan guru) terhadap pendidikan itu sendiri. Bicara tentang pendidikan adalah persoalan kita. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata. Benar, pemerintah punya andil besar hampir seratus persen mengendalikan roda relasi dan kerja lembaga pendidikan tetapi kita adalah aktor utamanya.

Pada suatu pagi, di sekolah tempat kegiatan Bimtek penulisan karya ilmiah kami (tim Cakrawala NTT) bercerita santai bersama para kepala sekolah dan guru yang datang lebih awal. Yah, beginilah yang terjadi kalau ada sebuah “kegiatan lain” di luar Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Hari-hari itu akan menjadi spesial karena selain dikunjungi “orang baru” tetapi juga tentang suasana baru. Santai saja, sampai yang lain hadir semua baru mulai kegiatan. Di dekat tempat kami “ngobrol” ada sebuah papan Majalah Dinding (Mading) yang sudah lama tidak digunakan. Beberapa lembar kertas masih tertempel tetapi bukan tentang tulisan guru dan siswa, tetapi informasi dari sebuah kampus untuk penerimaan mahasiswa baru. Begitulah saya, sangat spontan dan tanpa beban bertanya. Kenapa papan Mading ini tidak “berfungsi” lagi. Sang Kepala sekolah melirik Wakasek kesiswaan dan wakasek kesiswaan “mencolek” guru Bahasa Indonesia di sampingnya. Begitulah yang terjadi sehingga kami merayakannya dalam senyum. Bapa kepala sekolah mulai bicara tentang belum adanya ruang perpustakaan, belum banyak buku referensi dan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) belum cair sampai di bulan ketiga ini. Bapak Wakasek kesiswaan mengeluh tentang mental anak yang susah diatur. Katanya, karakter anak sekarang sangat jauh berbeda dengan anak-anak dulu saat ia mulai mengajar. Begitulah seterusnya saat semua yang ada bercerita tentang banyak kekuarang di sekolah dan lemahnya perhatian pemerintah. Kami mulai kegiatan Bimtek menulis tetapi hati saya tetap berpikir tentang papan Mading itu. Ia (papan mading), akan tetap berdiri sepi dan lapuk bakal lapuk sendiri tanpa ada yang memanfaatkannya.

Banyak saya berjalan. Berefleksi dan berpikir keras tentang apa itu kreatifitas dan inovasi. Banyak penulis dan penyair tua berkisah tentang awal cerita bagaimana mereka memulai pekerjaan kreatifnya dari situasi serba susah. Ternyata menjadi hebat dan Professional bukan karena semuanya serba ada tetapi keadaan yang serba kurang dan terjepit. Mereka (penyair) menulis sebuah sajak karena lapar. Hasil tulisan mereka diharapkan dihargai dan mendapat sedikit uang. Mereka menulis bukan karena sedang mengisi waktu kosong dalam situasi kenyang dan rileks. Seorang penulis hebat, Kahlil Gibran memiliki kisah hidup masa kecil yang sangat memprihatinkan. Ia bersama keluarganya mengungsi dari Beirut, Timur Tengah dan hijrah ke Amerika karena situasi politik dan ekonomi yang sulit. Namun dalam situasi sepeti ini, ia mengerahkan seluruh ide dan imajinasinya untuk lebih produktif dan akhirnya dikenal dunia sebagai penyair hebat. Point-nya, kreatifitas dan inovasi tidak selalu menggadaikan keadaan serba ada. Papan Mading itu akan diisi banyak karya dari ragam bentuk tulisan, tanpa harus menunggu dana BOS cair atau dengan hadirnya gedung perpustakan berisi ribuan buku referensi.

Pada titik ini adalah lebih baik bunuh saja kambing hitam itu agar tidak perlu dicari lagi. Kalau ada hewan lain sebagai simbol melempar tanggung jawab, bunuh saja. Mari kita mulai dengan apa yang ada. Optimalkan seluruh potensi diri dan potensi lokal dan temukan metode yang tepat untuk menyelesaikan persoalan di sekolah atau pembelajaran dalam kelas. Tindakan seperti inilah disebut inovasi dan kreatifitas. Maaf saja. Saya pernah shering dengan seorang guru honor. Ia mengeluh tentang gaji yang sangat rendah dan ia kelihatan sangat kecewa dengan kepala sekolahnya. Ia kadang marah dengan dirinya sendiri dan akhirnya ia menghabiskan waktu produktifnya untuk mengeluh. Ia kaget saya usul untuk berhenti jadi guru. Raut wajahnya berubah, semacam ada ketakutan saya membongkar rahasianya kepada kepala sekolah. Di bawah empat mata saya bercerita tentang hidup manusia yang sangat singkat dan terbatas. Jika uang selalu menjadi target maka kita bakal bermental hamba sampai tua. Kita akan selalu merasa kurang dan habiskan waktu produktif kita untuk mengeluh dan berusaha “kambing hitam” yang memang tidak pernah ada.

Pertanyaan tersisa, apa itu kreatifitas dan bagaimana kreatifitas itu tercipta. Mohon bantuan “google” untuk menemukan definisi kreatifitas. Setelah dicari, pengertian kreatifitas itu sangat banyak. Kita tidak ingin menghabiskan waktu untuk menemukan defenisinya. Lagi pula itu tidak penting. Kreatif itu soal kamu berpikir dan bekerja melampaui yang standar. Begitu saja defensinya, itu sudah cukup. Kita butuh jawaban atas pertanyaan kedua yaitu bagaimana kreatifitas itu tercipta. Ini penting dan sangat substantif. Jika pertanyaan ini terjawab dengan sempurna maka kita bakal tahu apa itu inovasi.
Sebagai jurnalis dan penggiat literasi, menurut saya kreatifitas itu bakal tercipta saat kita banyak membaca. Bacalah sekian banyak buku dan status facebook yang bermutu. Baca saja. Tidak perlu tahu, temanya apa atau buku ini untuk kalangan mana. Jujur, setelah membaca kembali buku pelajaran di tingkat SMP baru saya sadar ternyata saya lebih pintar dari anak SMP, misalnya tentang tata surya atau nama latin dari beberapa tumbuhan. Dari referensi berbagai sumber bacaan maka perlahan kita “diarahkan” oleh alam untuk membaca konteks (zaman). Buku (teks) akhirnya menjadi pijakan untuk mengerti tentang konteks. Walau demikian, jangan sampai teks membuatmu kehilangan konteks. Bandingkan kisah para pemikir (penulis hebat) yang kebingungan bagaimana membangun relasi sosial yang baik. Literasi dasar yaitu baca-tulis adalah muasal dari sebuah kreatifitas. Kalau kamu ingin kreatif maka setialah pada jalan sepi literasi. Teruslah membaca saat banyak yang memilih untuk bercerita atau menonton. Bacalah, saat kamu kebingungan untuk mengisi waktu luangmu.

Mari kita kembali kepada persoalan dunia pendidikan kita. Mengapa hasil UN setiap tahunnya membuat kita resah hingga di tahun berikutnya? Jawaban sementara adalah budaya literasi di kalangan guru atau siswa-siswi NTT sangat lemah. Apakah dengan ini saya sedang “mencari kambing hitam? Tidak. Kita sudah sepakat untuk membunuh kambing hitam itu. Walau tidak harus berdiri di depan kelas bersama siswa/i tetapi profesi saya di Media Pendidikan Cakrawala NTT dengan sendirinya menegaskan saya sebagai bagian dari guru. Yuk … saatnya kita kembali ke dalam diri. Temukan strategi untuk meningkatkan pendidikan NTT mulai dari diri kita sendiri. Sekecil apa pun usaha itu. Jika saatnya waktu membaca lima belas menit di sekolah, matikan api rokokmu dan ambil buku. Baca. Anak-anak di sudut ruangan sana, melihatmu maka ia akan meniru. Lakukan sesuatu yang menurutmu baik. Jangan takut mengambil resiko jika itu untuk kebaikan banyak orang.

Kreatifitas itu adalah cara kita memandang sebuah persoalan. Jika kamu guru negeri, jangan mengambil jarak dengan pemerintah karena kamu adalah pemerintah itu sendiri. Tebus “dosa” pemerintah (Negara) dengan caramu yang kreatif. Kamu guru swasta atau honor, jangan merasa sebagai “orang lain” dari satu sistem (regulasi) yang ditetapkan pemerintah. Tetaplah disiplin dan jalankan tugasmu dengan setia. Jika semuanya terlaksana dengan baik, ambillah penamu dan mulailah menulis. Apa yang kamu tulis? Tulislah semua yang sudah kamu kerjakan. Sekali lagi, bukan soal besarnya pekerjaan yang kamu lakukan tetapi kesetiaanmu menjalankan pekerjaan itu. Memungut sampah di halaman sekolah dan dilakukan setiap hari maka itu adalah karakter. Bukan pencitraan.

Membangun pendidikan NTT, mulailah dari diri sendiri. Mulai dari cara kita berpikir dan merasa. Mulailah dari hobi-hobimu yang membangun. Jika kamu seorang guru Fisika dan pintar bermain bola voli, berdiskusilah dengan temanmu yang adalah guru olahraga tetapi tidak bisa bermain voli. Ajaklah dia untuk belajar bersama dan sama-sama belajar. Itulah cara kita membangun pendidikan. Bersinergi dan berkolaborasi. Bapa/ibu kepala sekolah, berhentilah bersikap menang sendiri dan merasa tahu semua hal. Kepemimpinan itu bukan soal jabatan tetapi tentang tanggung jawab dan contoh hidup yang layak ditiru. Akhirnya terima kasih untuk segala keresahan kita. Mari kita sepakat untuk membunuh “kambing hitam” itu dan jangan habiskan energimu untuk mencarinya. Mari maju bersama untuk hebat semua.

Salam Cakrawala, Salam Literasi.

*Agustinus Rikarno S.Fil adalah Foundator Media Pendidikan Cakrawala NTT sekaligus Direktur PT.Cahaya Cakrawala Nusantara, selain sebagai Jurnalis beliau juga adalah Formator dalam Pendampingan Menulis KTI, PTK,PTS dan Jurnal guru dalam Bimtek Literasi. Karya Buku seperti Feminisme Khalil Gibran, dan berbagai buku Guru, Cerpen dan Puisi. Saat ini tinggal di Kupang (I.S)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here