Pahlawan Demokrasi Zaman Milenial

Kabarnusantara.net – Demokrasi seperti suatu makanan yang semua rakyat kepingin menikmatinya. Jamuan hidangan demokrasi begitu memikat rakyat dan pemerintah kadang tidak tahu untuk menikmatinya.

Padahal demokrasi butuh suatu pengorbanan yang sangat serius. Pengorbanannya seperti kita mesti rela menyerahkan sebagaian hak kita ke pihak lain. Kita mesti memilih orang dan mempercayakan kuasa kita kepada pihak lain. Dan kita juga tidak tahu orang yang menerima kuasa itu mampu dan sadar akan hak kita yang telah ia terima.

Demokrasi perlu diformulasikan. Salah satu formulasi adalah memilih wakil rakyat, memilih bupati, gubernur atau presiden.
Namun, anehnya setelah mereka mendapat mandat dari rakyat mereka disebut penguasa. Penguasa itu menjadi orang yang mengusai rakyat? Atau penyelenggara management kesejahteraan rakyat. Tapi untuk hiperbolis mereka sering bilang mereka pelayan rakyat, tapi itu kata yang manis. Lebih seringnya penguasa menjadi sekelompok mahluk yang menghantui pemberi kuasa.

Pada periode pemilihan serentak- DPRD, DPR dan presiden- yang baru selesai, banyak penyelenggara pemilu meninggal. Mulai dari paswal, petugas TPS, petugas menghitung suara, merecord hasil suara dsb.

Hingga hari ini, yang meninggal sampai hari ini melampui 280 orang, belum termasuk yang sakit sekitar 1.600 orang. Jumlah sangat banyak untuk suatu pesta demokrasi.

Mirisnya, pemerintah melihat kematian itu hanya biasa saja. Menurut saya kematian itu adalah kematian bukan sia-sia. Kematian itu adalah kematian luar biasa untuk negara dan bangsa. Mereka mati demi mewujudkan dan mengkonkritkan cita cita demokrasi. Dalam catatan kita, manusia yang mengorbankan jiwanya untuk negara dan bangsa wajib mendapatkan apresiasi. Apresiasi yang tinggi karena tindakan mereka dalam rangka kelanjutan kehidupan bangsa dan negara. Mereka mengurbankan nyawa untuk kita.

Jadi selayaknya mereka yang kehilangan anggota keluarga perlu diberi penghargaan sebagai pahlawan demokrasi Indonesia. Untuk itu mereka wajib diberikan insentif yang layak sebagai tanda perhatian dari pemerintah.Yang sakit perlu diberi perawatan gratis yang dibiayai oleh KPU atau pemerintah.

Dengan demikian, pengorbanan mereka bahkan sampai kehilangan nyawa jadi pelajaran yang berharga buat seluruh rakyat bahwa DEMOKRASI ITU PUNYA MARTABAT YANG ISTIIMEWA bukan pesta perayaan kebodohan.

Oleh : Herman Hemmy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here