Mohammad S. Gawi : Mengelola Perbedaan

46

Kastra.co – Perbedaan adalah keniscayaan. Semesta yang terhampar (buana agung) dan manusia yang menyebar di atasnya (buana alit), memperlihatkan secara nyata akan perbedaan-perbedaan itu. Bergantinya siang dan malam, siklus musim panas dan dingin, adanya gelap dan terang, pria dan wanita, kaya dan miskin adalah bukti akan keniscayaan itu.

Untuk itu, perbedaan wajib diterima sebagai realitas alam. Kebutuhan manusia akan kesamaan, sebenarnya tidak untuk melawan hukum perbedaan. Kebutuhan itu, justru membuktikan bahwa perbedaan sesungguhnya datang langsung dari sang Pengatur Jagad. Dan, demi menciptakan tatanan dunia yang harmoni, perbedaan itu tidak untuk dipertentangkan tetapi dijadikan sebuah keindahan. Perbedaanlah yang membuat simphoni menjadi syahdu dan pelangi menjadi indah karena bersanding berbagai nada dan warna.

Aristoteles, dan filsafat Yunani paling termasyhur (383-322 SM) harus menjalani kontemplasi di tepi sungai hanya untuk memahami mengapa jagad raya ini disusun dengan perbedaan-perbedaan itu. Hasil olah pikir dan olah rasa selama kurang lebih 23hari, dia kemudian menghadirkan sebuah konsep yang namanya ‘keadilan’. Hingga kini menjadi salah satu objek kajian berbagai ilmu, termasuk ilmu hukum dan politik.

Seorang pemimpin akan dicintai rakyatnya jika berlaku adil, penegak hukum akan kokoh otoritasnya jika produk putusan dan tindakannya adil, rakyat tenang karena sumber-sumber kehidupan terdistribusi secara adil dan proporsional. Bahkan tumbuh-tumbuhan akan subur bila zat hara dan sinar mentari teraliri secara adil ke pucuk, daun dan ranting-rantingnya. Rumusannya: Perbedaan menuntut keadilan. Keadilan menghadirkan harmoni.

Ignas Kleden, sosiolog dan filsuf kelahiran Flores, NTT yang jenius itu menyodorkan sebuah konsep ekstrem ketika menyampaikan pidato kebudayaan di Gedung TIM tahun 2001 lalu. Kata dia, adanya upaya memaksakan kehendak agar menjadi sama adalah kekerasan terhadap perbedaan. Kleden membangun resensing itu dari prinsip yang sama yakni bahwa perbedaan adalah keniscayaan alam.

Dengan konsep pemikiran kedua filsuf berbeda zaman ini, kita mencoba memahami mengapa di bumi ini masih ada bahkan terus berlangsung konflik berbasis SARA, terutama konflik dengan latar agama. Jawabannya: karena masih banyak orang yang berusaha mencapai kesamaan dengan melawan hukum perbedaan.

Konflik SARA di Indonesia, parang Suni-Syiah di Timur Tengah, ketegangan di semenanjung Korea, dan bara konflik di perbatasan India-Pakistan, antara lain adalah contohnya. Mereka memaksanakan tafsir agama dan keunggulan ideogi masing-masing untuk diterima secara bersama. Bagi Indonesia, gesekan itulah, yang oleh Sosiolog Nasikun disebut sebagai racun dalam membangun bangsa pluralis.

Oleh karena itu, membangun bangsa yang pluralis, mesti dengan menjadikan konstruksi sosiologi dan psikologi masyarakat sebagai input. Sebab kehancuran suatu bangsa tidak karena runtuhnya bangunan bertingkat, ambruknya jembatan dan jalan tol, serta rusaknya irigasi.

Ambruknya Rusia, pecahnya Korea dan India serta teracak-acaknya Timur Tengah adalah bukti bahwa perbedaan agama dan ideologi terbukti menghancurkan tatanan negara. Mereka tidak sadar bahwa memang perbedaan itu adalah keniscayaan dan mengingkarinya adalah melawan hukum. Dan, untuk merawat kebersamaan dan memulihkan ketegangan akibat perbedaan, membutuhkan analisis psikososial yang cermat dan profesional. Pemerintahan Jokowi mesti membutuhkan pakar sosiologi dan ahli psikologi massa yang mumpuni untuk mengelola negeri pluralis seperti Indonesia.

Dengan begitu, hetrogenitas yang kita miliki bagai shimponi dan bentang pelangi yang memantulkan karena bersandingnya berbagai nada dan warna. (CBN)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here