Mendudukkan Perempuan dalam Kasus Rensi Ambang

2503
Suci Maria/ Universitas Atma Jaya Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: Suci Maria

Mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Beberapa hari terakhir di dunia media sosial, khususnya kalangan masyarakat Manggarai NTT, sedang hangat membahas konflik yang terjadi antara penyanyi lokal Manggarai, Rensy Ambang (RA) dengan Melkior Marseden Sehamu (Eki).

Singkat cerita, peristiwa persekusi yang dialami Eky bermula dari ajakan selingkuh yang ditawarkan Eki kepada istri (RA) dalam percakapan lewat Messengger Facebook, yang juga merupakan media pertemun mereka. Merasa dilecehkan, Istri RA melaporkan perbuatan Eky pada suaminya, dan menjadi alasan dari tindak kekerasan RA pada Eky. Kejadian tersebut diabadikan RA melalui video rekaman, serta disiarkan langsung di Facebook melalui akun Chantika Alva Ambang. Sontak, kejadian tersebut menjadi ramai dibicarakan publik.

Mendudukan permasalahan ini tentunya tidak terlepas dari 3 aktor penting, yakni RA, Istri RA, dan Eky. Dalam menyoroti peran RA, penulis menyesalkan pilihan tindakan  RA yang melakukan kekerasan dan main hakim sendiri sebagai bentuk pembinaan pada Eky. Juga semakin disesalkan ketika RA membiarkan anaknya untuk melakukan hal serupa kepada Eki. Tetapi meskipun demikian, kita tidak dapat memungkiri perbuatan Eky yang secara sadar menggangu istri RA, adalah tindakan tak terpuji dan menjadi penyakit pada masyarakat.

Namun, terlepas dari banyak hal yang bisa kita kritik dari masalah ini, penulis mencoba menyoroti  satu poin yang selalu terngiang dalam benak ketika mengikuti kasus RA ini. Penulis memilih untuk membaca komentar dan status  warganet untuk melihat kecendrungan masyarakat sosial dalam keberpihakannya dalam kasus ini. Dari hasil pengamatan ini, ditemukan sebuah gejalah menarik yang timbul di masyarakat melalui ekspresinya di dunia maya tersebut.

Setiap orang memiliki hak untuk berpendapat, hak untuk bersuara, dan melalui masalah ini banyak orang yang tiba-tiba seakan memiliki hak atas saint syndrome. Sangat menarik, saint syndrome didefinisikan sebagai syndrome sok suci” dimana orang bebas memvonis dan mencibir siapapun yang terlibat dalam kasus. Terminologi ini secara tidak sengaja terlihat di Facebook. Tetapi kalau boleh ditambahkan, selain kebebasan untuk memberi komentar dan kritikan, sindrom ini berpotensi untuk mengerdilkan pikiran seseorang untuk melihat hal yang sama, mengikuti arus, tanpa melihat sisi lain dari sebuah kasus.

Dalam kasus ini, terdapat begitu banyak komentar dari masyarakat Manggarai sehingga penulis pun bingung, awalnya harus memberi komentar apa dan pada bagian yang mana. Semua hal telah dibahas warganet, baik gestur persekusi, analisis teks chating, viralnya #supayaLaos,  sampai pada pendekatan hukum yang komprehensif. Ini juga salah satu hal menarik, karena warganet mendadak menjadi pengamat hukum. Kita dapat merasakan bagaimana atmosfer negara hukum melalui komentar-komentar di Facebook.

Ada pesan menarik yang juga disampaikan warganet bahwa kita harus belajar untuk tidak gegabah dan membiarkan emosi kemarahan, kekecewaan, atau kebencian menguasai kita; tetapi sebaliknya, kita harus dapat mengendalikan diri dan keadaan. Kita juga diajak  untuk belajar bijak dalam menggunakan media sosial. Terlepas dari status kita adalah penyanyi atau siapapun, kekerasan jelas merupakan hal yang tidak benar.

Penghargaan terhadap perempuan

Dari berbagai sudut pandang warganet yang ada, mari kita mencoba untuk mengulas  dan menyoroti kasus ini dalam perspektif perempuan. Ada dua tipikal perempuan dalam berkomentar pada kasus RA, yakni perempuan yang hidup ditengah budaya Patriarkal dan menaruh simpati pada sesama kaumnya yakni istri RA, dan perempuan yang dengan gagah perkasa menuliskan komentar menyalahkan dan atau meyetujui menyalahkan istri RA.

Ada begitu banyak komentar yang melimpahkan kesalahan pada istri RA. Mulai dari pendapat bahwa “intinya ketika perempuan tidak merespon, tidak akan ada lanjutan percakapan”, atau “istri RA terkesan mengumpan laki-laki yang notabene diibaratkan dalam komentar tersebut sebagai binatang kucing atau anjing yang kalau mencium bau amis apalagi lihat tulang pasti mau”. lalu sampai dengan saran “ya kalau sudah bersuami, jangan saja pakai sosmed, jangan menerima permitaan pertemanan laki-laki”.

Tidak sedikit komentar seperti itu justru datang dari kaum perempuan, dan perempuan- perempuan lainnya dengan semangat memberikan komentar: setuju ! Betapa banyak orang tidak menyadari dan bahkan mendukung berbagai hal yang berpotensi, mengekang kaum perempuan dan membenarkan pelecehan sebagai kesalahan perempuan. Menanggapi keadaan ini, ada beberapa catatan penting yang perlu diperhatikan.

Pertama, justifikasi kesalahan pada perempuan. Penulis cukup terusik pada bagian “perempuan mengumpan laki-laki”. Bagaimana bisa dikatakan “perempuan mengumpan” ? Mengumpan atau tidaknya, tentu kontrol juga ada pada kaum adam yang merasa “di-umpan”. Kita pun perlu mendudukan definisi “umpan” ini secara obyektif. Ketika umpan balik dilakukan dalam sebuah proses komunikasi, hal tersebut tentunya wajar dilakukan, apalagi untuk tujuan kejelasan inti komunikasi, memperjelas maksud. Tetapi apabila “umpan” yang dimaksud dalam hal yang mengarah pada upaya untuk memberi ruang untuk dilecehkan, hal tersebut perlu dikonfirmasi lebih lanjut. Karena komunikasi bukan hal sederhana dan mudah diasumsikan.

Kedua, sangat disayangkan dengan adanya komentar yang mengidentikan pria sebagai hewan yang mengejar tulang. Hal ini merupakan pemikiran primitif yang menyedihkan. Laki-laki dan perempuan sama-sama punya derajat dan martabat yang sama sebagai manusia. Cara pandang seperti ini perlu dihentikan. Jika pandangan ini terus dikonstruksikan, maka akan semakin sulit bagi masyarakat untuk menyadari kesetaraan gender, dan perempuan akan kembali menjadi korban

Ketiga, komentar agar “tidak perlu berteman dengan laki-laki di Sosial Media apabila berstatus telah bersuami” menunjukan masih adanya pandangan primitif dalam diskursus “bijak menggunakan media”. Hal ini seakan ingin mengkonfirmasi bahwa perempuan berada dalam posisi yang lebih rendah dari pria, termasuk kebebasan berekspresi dan bersosial media. Setiap orang berhak untuk menjalin relasi pertemanan dengan siapapun, terlepas dari status sudah menikah atau belum. Kalimat itu menjadi tidak adil karena bertendensi bahwa: perempuan tidak boleh, cuma pria yang boleh. Yang perlu dihindari dari relasi perempuan adalah pelecehan, bukan relasi pergaulan.

Lebih dari point- point diatas, kita tidak dapat menafikan bahwa secara jelas ada indikasi pelecehan seksual dan gender yang terkandung dalam masalah antara RA dan Eki. Hal ini tentunya harus menjadi nilai penting yang juga perlu diangkat. Publik harus jelih melihat, karena pelecehan itu dilakukan oleh lelaki beristri terhadap seorang ibu. Bayangkan apabila hal tersebut menimpah ibu kandung kita, tidak ada yang dapat menjamin reaksi kita akan lebih dari sekedar #supayalaos.

Salah satu kekerdilan berpikir dalam memahami hakikat pelecehan itu adalah saat perempuan maupun laki-laki tidak memahami apa itu pelecehan, baik secara gender maupun seksual. Pelecehan tidak hanya hanya terdefinisi kepada sentuhan fisik. Siulan, tatapan mata yang diikuti juluran lidah, dan segala hal yang berpotensi merendahkan martabat perempuan itu adalah pelecehan seksual, termasuk memandang rendah perempuan untuk diajak selingkuh, bernada candaan sekalipun.

Penulis berharap bahwa semua masyarakat Manggarai dan juga wilayah lainnya, baik laki-laki dan perempuan, untuk mengenal mengenal bentuk pelecehan seksual dan pelecehan gender dengan pandangan yang lebih luas dan komprehensif. Kita tidak akan pernah menyadari nilai penting sebuah peristiwa apabila pemaknaan peristiwa dilakukan dengan hinaan, keluhan, kritik, dan saran yang bernuansa mbecik (sindir). Lebih dari itu, pengalaman ini harus menjadi refleksi akan pentingnya penghargaan martabat terhadap perempuan.

Mari kita menyerahkan kasus ini berdasarkan adab Negara hukum untuk diproses sebagaimana mestinya. Tetapi kita pun harus harus merefleksikan bahwa banyak diantara kita yang telah melakukan tindak kekerasan, maupun pelecehan yang serupa. RA adalah pelaku kekerasan fisik, dan saat ini dia adalah korban kekerasan psikis dari setiap bullying kita.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here