Dukun Spesialis Pemilu

112

Kastra.co – Momen Pemilu (Pemilihan Umum) selalu diwarnai beragam kisah dan cerita menarik. Segala sesuatu yang berkaitan dengan hajatan penting ini, tidak pernah luput dari pengamatan dan pemberitaan. Mulai dari urusan koalisi partai, adu strategi pemenangan, adu visi misi, hingga urusan mendatangkan artis-artis top ke atas panggung kampanye. Semua mendadak menjadi bahan pemberitaan. Pemilu selalu penuh intrik dan gengsi. Ada aroma ketat persaingan yang tersaji dalam banyak cara dan kesempatan. Dari semua cerita menarik penyelenggaraan Pemilu, kisah para dukun spesialis pemenangan pemilu boleh jadi cukup menarik perhatian.

Dalam konteks Indonesia dukun dan politik susah untuk dipisahkan. Kepercayaan yang begitu kuat pada hal-hal mistis magis mempengaruhi cara berpikir, sikap dan tindakan banyak orang tak terkecuali para politisi. Bukan hal baru bila kemenangan dan kekalahan dalam pertarungan politik sering dikaitkan dengan fenomena magis, semisal bantuan roh dan kekuatan tak kelihatan lainnya. Hal-hal tersebut dipercaya dapat mempengaruhi hati dan pilihan rakyat dalam pemilihan umum. Kenyataan itu mendorong para politisi rela menggelontorkan dana besar juga berkorban banyak bukan hanya demi memperoleh dukungan rakyat, tetapi juga  demi perlindungan dan bantuan kekuatan goib.

Dukun, orang pinter, paranormal, penasihat spiritual dan sejenisnya menjadi orang yang paling banyak dicari menjelang pemilu. Mereka dipercaya memiliki kemampuan tersendiri dengan macam latar belakang ilmu yang digeluti. Roh, jin, hantu hingga orang-orang suci dari agama-agama tertentu sering disebut-sebut telah memberikan mereka keuatan.

Kisah tentang kehebatan mereka bermacam-macam. Beberapa mengklaim mampu mengubah pilihan orang sebelum memilih. Beberapa merasa mampu mengubah isi perolehan kotak suara yang telah dicoblos sesuai  pesanan klien-klien mereka. Kekuatan mereka diyakini mampu menghantar seseorang menjadi gubernur, bupati, anggota parlemen, dan posisi-posisi hebat lainnya. Sayangnya kehebatan para dukun tidak mampu menghantar diri mereka sendiri menempati posisi-posisi penting dalam pemerintahan.

Masih banyak orang percaya pada hal-hal seperti ini, ditengah pesatnya laju perkembangan teknologi dengan aneka penemuannya. Padahal, berbagai buku, dan literatur lain tentang  metode-metode pendekatan politik telah dijabarkan sedemikian rupa agar dapat diterapkan dalam praktik berdemokrasi. Analisis-analisis dan ragam perhitungan politik dengan cermat  oleh para pakar dan pengamat politik.

Tragisnya para politisi yang mungkin kurang gemar membaca justru tetap bergantung pada kekuatan dukun. Sungguh potret calon pemimpin yang menyedihkan dan situasi politik yang memprihatinkan. Belum lagi membayangkan apa yang terjadi bila orang tersebut terpilih. Perencanaan pembangunan sebuah daerah akan berdasarkan ramalan dan perkiraan dukun, mengabaikan pikiran-pikiran cerdas para sarjana.

Profesi dukun boleh jadi ‘lahan basah’ meraup keuntungan. Cukup dengan kemampuan komunikasi yang baik, sedikit tipu muslihat, mangsa yang tepat dan momen yang baik, maka uang mengalir dengan sendirinya. Pemilihan umum menjadi momen yang tepat, dan para calon pejabat penuh ambisi adalah mangsa yang tepat. Mereka mudah untuk diyakinkan dan diperdaya dengan tawaran kemenangan dalam pemilu. Pada umumnya dukun mengambil bayaran untuk setiap ritual yang hendak dilaksanakan. Beberapa menerapkan tarif khusus untuk sekedar konsultasi meminta saran demi meraih kemenangan. Bayarannya tentu tidak sedikit dan murah. Uang jutaan rupiah dan berbagai syarat ‘ganjil’ harus dipenuhi klien agar keinginannya tercapai.

Menjelang Pemilu Legislatif 2019

2019 menjadi tahun politik yang banyak dinanti. Ratusan ribu orang Indonesia yang merasa diri kader terbaik bangsa akan saling berlomba berebut simpati rakyat demi menjadi wakil rakyat. Beberapa bulan lalu partai-partai politik telah mendaftarkan kader-kadernya untuk ikut dalam Pemilihan legislatif  2019 ke Komisi Pemilihan Umum. Mereka datang dari berbagai latar belakang, dengan kepentingan dan agendanya masing-masing.

Wajib disadari bahwa menjadi wakil rakyat di lembaga legislatif (DPR, DPD, DPRD) bukan perkara mudah. Mereka yang terpilih adalah representasi dari rakyat yang sudah sepatutnya berjuang untuk rakyat. Berjuang untuk rakyat berarti berani menyuarakan dan mengedepankan kepentingan rakyat, bukan suara dan kepentingan diri sendiri. Lucunya, sebagian besar calon legislatif kita kerap melupakan semangat dasar menjadi wakil rakyat setelah terpilih. Padahal jumlah anggaran negara yang dihabiskan untuk gaji, fasilitas, perjalanan dinas dan urusan ini itu para wakil rakyat sangatlah fantastis. Demi semua keistimewaan itu segala cara dilakukan, termasuk mencari dukun paling sakti di seantero negeri.

Banyak faktor yang kemudian memaksa seseorang terperangkap rayuan hal-hal mistis demi kemenangan dalam pemilu. Terdapat dua faktor yang paling berpengaruh; faktor kultural (budaya) dan faktor kurang percaya diri. Faktor kultural sangat sulit dihilangkan, sebab praktik-praktik tersebut hampir sepenuhnya diterima sebagai kebenaran dan telah menjadi hal yang lumrah dan justru dianggab biasa. Sebaliknya faktor kurang percaya diri lebih mudah untuk dihilangkan. Oleh karena itu Partai Politik, wajib mengambil peran dalam mencerdaskan anggota-anggotanya melalui pendidikan politik yang rasional. Pendidikan politik, tidak melulu terbatas pada konsep dan norma politik semata. Proses tersebut harus sampai pada pemahaman etika politik, pembentukan karakter dan mentalitas politisi yang memiliki kemampuan, berintegritas, berkompetensi dan berjuang untuk rakyat.

Rakyat tentu berharap banyak pada calon-calon wakil rakyat. Masih tersisa cukup waktu menjelang hari pemilihan. Semoga saja tidak ada lagi yang menghabiskan waktu, tenaga dan uangnya demi bantuan kekuatan penuh muslihat. Wajib hukumnya menyerahkan segala sesuatu pada penyelenggaraan Tuhan Yang Maha Esa. Biarkan Dia menentukan yang terbaik bagi hidup dan perjuangan kita.

Salam Kastra.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here