Ringkasan Orasi AHY: Muda Adalah Kekuatan

Kastra.co — Saya tadi dapat laporan dari panitia, telah hadir di sini lebih dari 1.200 orang, melebihi kapasitas gedung ini. Saya mengucapkan terima kasih atas antusiasme dan partisipasinya

Saya mohon maaf bagi rekan-rekan yang sudah mendaftar, tapi tidak dapat hadir krn keterbatasan tempat.

Saya juga ingin menyapa seluruh masyarakat di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua yang menyaksikan orasi ini di layar kaca.”

Selama setahun terakhir ini saya berkeliling Nusantara, bertemu ratusan ribu anak muda di ratusan kabupaten/kota yang saya kunjungi. Menyapa dan berdiskusi langsung tentang masalah, tantangan, harapan, mimpi serta cita-cita mereka.

Kepada mereka saya memaparkan berbagai tantangan dan peluang abad 21, di antaranya: Kompetisi makin keras akibat pertambahan penduduk dunia dan menipisnya sumber daya alam (energi, pangan, air).”

Kompetisi yang tidak bisa dikelola dengan baik, bisa berpotensi konflik, bahkan perang antar negara.

Kemajuan teknologi dan tren perubahan kehidupan manusia dalam rezim revolusi industri 4.0. Social media, big data, artificial intellegence dan robot yang super canggih, membuat dunia kita semakin modern, semakin cepat bergerak, dan seolah tanpa batas. Kalau tidak bisa mengikuti, kita bisa kalah.

Tren kemunculan banyaknya pemimpin muda dunia dan Indonesia. Ini bukti bahwa semakin banyak anak muda yang diyakini bisa membawa perubahan dan kemajuan.

Saya juga selalu menanamkan optimisme kepada generasi muda untuk mewujudkan Indonesia yang aman dan damai, adil dan sejahtera, maju dan mendunia.

Kita tentu bangga, jika bisa mempopulerkan atau “mengekspor” keunggulan khas bangsa kita ke berbagai penjuru dunia. bayangkan Rumah makan Padang di New York, London, Paris.

Apalagi jika Indonesia bisa tampil di final piala dunia. Bayangkan, betapa bangganya kita semua. Tetapi, kali ini saya tidak akan membahas hal itu lagi.

Ada satu fakta yang lebih mendesak dan perlu saya sampaikan.

Diperkirakan di tahun 2019, ada 100 juta penduduk Indonesia berusia 17-35 tahun. Hal ini mengandung dua potensi:

Pertama, dalam konteks pesta demokrasi, angka ini merefleksikan 52% total pemilih Pemilu 2019. Ke-2, dlm konteks pembangunan nasional, anak muda akan jadi pelaku utama, motor penggerak berbagai sektor, sesuai bidang dan keahliannya.

Artinya, anak muda akan sangat menentukan nasib dan masa depan bangsa kita 5 tahun mendatang dan selanjutnya.

Malam ini, saya berdiri di sini, untuk berbagi dan membangun kesadaran kita semua tentang pentingnya peran anak muda.

Muda adalah kekuatan. Ada sebagian orang mengatakan, saya terlalu muda untuk melakukan sesuatu.

Ya, saya memang muda.
So what?

Tapi banyak yang lupa, apa arti muda itu sendiri.

Apa itu muda? Menurut definisi PBB, muda itu adalah orang yang berusia 15-24 tahun. menurut ASEAN, muda itu orang yang berusia 15-35 tahun. Sedangkan di Indonesia, muda adalah mereka yg berusia 16-30 tahun.

Jadi, by definition itself, muda hampir selalu diidentikkan dengan usia. Dari definisi itu, saya yang insya Allah pada tanggal 10 Agustus nanti berusia 40 tahun, tentu merasa terhormat disebut sebagai anak muda.

Tentunya, muda tidak hanya merujuk kepada umur biologis. Banyak dari kita yang terus memiliki semangat muda, terlepas dari usia.

Kita sering mendengar “Age is just a number”. Muda, bukan hanya bersifat fisik semata.

Muda juga mengacu pada mindset, pola pikir, dan perspektif kita memandang sesuatu. Bagi orang-orang pesimis, muda selalu diidentikkan dengan kurang berpengalaman, kurang sabar, kurang teliti, serta kurang ini dan itu.

Bagi orang-orang optimis, muda adalah kekuatan. Mengapa? Muda adalah kekuatan, karena muda memiliki tiga hal utama. Pertama, fisik yang kuat; Anak muda memiliki energi dan stamina yang tinggi.”

Kedua, mentalitas yang kuat; Yakni keberanian untuk menghadapi tantangan, kegigihan, dan semangat pantang menyerah. Kalau sudah ada maunya, mereka tidak akan berhenti hingga cita-citanya tercapai, meski membutuhkan pengorbanan.”

Ketiga, kapasitas intelektual yang kuat; Karena rasa ingin tahu yg besar, ketiga hal itu akan menghadirkan kreativitas, produktivitas, karya-karya dan juga mengukir sejarah besar dalam perjalanan bangsa.

Di Akademi Militer, kami menyebutnya Trisakti Wiratama; keunggulan fisik, mental dan intelektual yang kuat. Sekarang pilihan ada pada teman-teman, masuk dalam golongan optimis atau pesimis?

Saya tanya: Apakah kita masuk yg pesimis atau optimis? Kalau pesimis, saya sudahi orasi ini. Tapi karena teman-teman menjawab optimis, saya lanjutkan kembali.

“Dengan pola pikir, “MUDA ADALAH KEKUATAN”, kita memiliki semangat dan optimisme menggapai mimpi anak muda.

Apa mimpi anak muda? Ketika kita hadir di muka bumi ini, doa orang yang menyaksikan kelahiran kita, sederhana: Semoga anak ini berguna dan berbakti kepada orang tua, agama, bangsa dan negara. Seiring waktu berjalan, doa dan harapan itu diucapkan terus oleh orang-orang di sekitar kita secara berulang-ulang. Merasuki alam bawah sadar kita, sehingga menjelma menjadi sebuah mimpi anak muda.

Saya sedikit ingin bercerita. Saat saya bertanya kepada salah satu mahasiswa Unes Semarang, Apa mimpinya?

Dia menjawab: ingin menjadi orang yang berguna dan berbakti kepada orang tua, agama, bangsa dan negara. Jawaban yang sama saya dapatkan dari mahasiswa di Jayapura, santriwati di Purworejo, pelajar di Pidie dan tempat lainnya.

Saya terkesan oleh semangat hidup dan daya juang mereka. Apa motivasi mereka? Apa yg mendorong mereka dalam hidup? Sebagian besar mengatakan, hendak berbakti kepada orang tua.

Saya lantas teringat kepada kisah Uwais Al Qorni, pemuda dari Yaman. Meski menderita penyakit, Uwais senantiasa mendahulukan dan melayani ibunya yang juga sakit.

Suatu saat ibunya berkata: “Anakku, sebelum tiba ajalku, semoga Allah mengabulkan keinginanmu utk melaksanakan haji”.

Tapi Uwais terlalu miskin untuk membeli unta dan perlengkapan yang biasa orang pakai untuk berhaji.Sementara ibunya lumpuh dan terlalu tua, tidak bisa berjalan kaki.

Apa yang ia lakukan?
Setelah berlatih selama 8 bulan menggendong lembu, Uwais menggendong ibunya, berjalan kaki melewati padang pasir yang tandus.

Siang dan malam selama berminggu-minggu. Bayangkan, jarak Yaman ke Mekkah lebih kurang 500 km, setara Jakarta ke Semarang.
Di depan Ka’bah, Uwais berdoa, “Ya Allah, ampuni semua dosa ibuku”.

Mendengar doa anaknya, sang ibu bertanya keheranan, “Uwais, kenapa engkau berdoa untukku. Doa apa yg kau inginkan dariku?”.

Uwais menjawab: “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari ibu yg akan membawaku ke surga”.
Nabi Muhammad SAW menjuluki Uwais sebagai penghuni langit.

Kepada sahabat beliau berkata: “Jika engkau mampu membuatnya meminta kepada Allah supaya engkau diampuni, mintalah padanya. Apapun yang diminta Uwais, akan dikabulkan Allah SWT.

Cerita Uwais tadi membangunkan kesadaran kita tentang pentingnya bakti anak kepada orang tua; loyalitas, komitmen, totalitas dan pengorbanan.

Dalam konteks kebangsaan, saya ingin bertanya kepada teman-teman: Siapa Ibu kandung kita? Bukan Ibu kandung saya, bukan ibu kandung anda, tapi siapa Ibu kandung kita?

Ibu kandung kita adalah IBU PERTIWI: INDONESIA. Teman-teman, kita dilahirkan dari rahim yg sama; Ibu Pertiwi Indonesia. Kita tumbuh besar di atas tanah yang sama, meminum air dan menghirup udara yang sama di bumi Ibu Pertiwi, Indonesia. Di atas tanah ini pula, tumpah dan darah para pahlawan kita memperjuangkan kemerdekaan yg sekarang kita nikmati.

Menjadi mimpi kita semua, berbakti kepada Ibu Pertiwi Indonesia sebagai ibadah untuk mendapatkan ridha Tuhan Yang Maha Kuasa.

Di negara maju, panggilan bakti Pemuda kepada negara juga pernah dikatakan John F. Kennedy: “jangan bertanya apa yang bisa kita dapatkan dari negara, tetapi tanyalah apa yang kita bisa berikan kepada negara”.

Teman-teman, di negara kita sendiri, Bung Karno pernah berkata:
Hai pemuda-pemudi, engkau bisa menyumbang apa untuk ibu pertiwi?
Engkau bisa menyumbang Melati, sumbangkan melati.
Engkau bisa menyumbang Kamboja, sumbangkan kamboja.
Sumbangkan segalamu kepada Ibu Pertiwi Indonesia.

Teman-teman, di negara kita sendiri bakti Pemuda kepada Negara tidak perlu diragukan lagi.

Pemuda selalu hadir dalam setiap babak penting sejarah perjalanan bangsa.

Pada tahun 1908, dokter Soetomo yang saat itu baru berusia 20 tahun bersama para pelajar STOVIA, mendeklarasikan gerakan Budi Utomo yang menjadi tonggak Kebangkitan Nasional.

Lalu pada tahun 1928, tokoh muda seperti Muhammad Yamin dan WR Supratman yang berusia 25 tahun, bersama para pemuda lainnya mendeklarasikan ‘Sumpah Pemuda’, yang menjadi cikal bakal terwujudnya Persatuan Indonesia.

Tahun 1945, sejarah mencatat gerakan kaum muda juga-lah yang berhasil mendesak dan meyakinkan Bung Karno-Bung Hatta untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Pasca kemerdekaan, tahun 1966, kaum muda juga menjadi motor utama untuk menyuarakan Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura) dalam rangka memulihkan kondisi negara saat itu.

Begitu pula tahun 1998, saat terjadi krisis multidimensional: ekonomi, politik dan keamanan, kaum muda bergerak memperjuangkan reformasi nasional.

Saat ini, kita hidup dalam alam reformasi yang diperjuangkan kaum muda 20 tahun lalu.

Dari fakta-fakta sejarah ini, mari kita lakukan sebuah refleksi.

Semua pemuda generasi pendahulu kita itu bergerak karena dituntun oleh jiwa, intuisi dan keyakinan mereka terhadap nilai-nilai kebenaran, keadilan, perjuangan, pengorbanan dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Mari bergerak tanpa harus menunggu ‘berpengalaman’ atau menunggu ‘diberi kesempatan’. Mereka berani merebut kesempatan untuk kita menentukan nasib dan masa depan bangsa Indonesia.

Keberanian inilah yang akan menuntun kita untuk mewujudkan cita-cita anak muda.
Apa cita-cita anak muda? Secara khusus, mungkin ada yang bercita-cita menyandang profesi tertentu.

Ada yang bercita-cita menjadi dokter, tentara, pengusaha, politisi dan lain-lain. Ada juga mungkin yang bercita-cita menjadi orang kaya atau dermawan.

Secara umum, saya menarik satu garis pasti: cita-cita anak muda di setiap generasi adalah menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan masa depan harus lebih baik dari masa sekarang.

Mari kita bertanya pada diri sendiri: Sudahkah kita semua lebih baik di hari ini dibandingkan kemarin?

Kita tidak boleh kalah dari generasi-generasi muda sebelumnya. Kaum muda adalah pemegang kunci perubahan bangsa.

Kita tidak boleh diam, terutama saat menghadapi ketidakadilan. Jangan diam. Jika orang-orang yang baik berdiam diri, maka hal-hal yang tidak baik, akan terus terjadi.

Yang baik di era Presiden Soekarno, wajib dihargai. Yang belum baik, diperbaiki di era Presiden Soharto. Yang baik di era Presiden Soeharto, wajib diapresiasi.

Yang belum baik, diperbaiki di era Presiden BJ Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Megawati. Yang baik di era Presiden BJ Habibie, Gus Dur dan Ibu Megawati, wajib dihormati.

Yang belum baik, diperbaiki di era Presiden SBY. Yang baik di era Presiden SBY, wajib dihargai. Yang belum baik, diperbaiki di era Presiden Jokowi.

Begitu pula di era Presiden Jokowi ini. Yang baik perlu kita apresiasi. Yang belum baik, MARI, saya ulangi, MARI sama-sama kita perbaiki.

Kita harus bersatu sebagai bangsa. Janganlah kita saling mengumpat! Janganlah kita saling menyalahkan! Janganlah kita saling menjatuhkan!”

Mari kita sama-sama memberikan yang terbaik bagi Ibu Pertiwi.

Saat ini POLITIK IDENTITAS pelan tapi pasti makin menguat. Ada kerentanan, ada kekhawatiran persatuan kita terkoyak-koyak oleh perbedaan identitas, entah itu suku atau agama.

Jangan biarkan Ibu Pertiwi menangis.
Jangan biarkan ini terjadi.
Mari bersatu.
Mari bersama-sama melangkah.

Apapun perbedaan yang kita miliki, kita punya mimpi dan cita-cita yang sama, yaitu: terwujudnya Indonesia yang aman dan damai, adil dan sejahtera, serta maju dan mendunia.

Kita semua satu.

Kerakyatan, Keumatan dan kebangsaan harus dibaca dalam satu nafas yang sama.

Inilah pesan yang paling utama malam ini:”

Mari kita jaga persatuan, dan baktikan diri kita sebagai generasi muda kepada bangsa dan negara, di semua medan pengabdian, sesuai dengan profesinya masing-masing.”

Jangan tunda-tunda apa yang bisa kita lakukan hari ini.
Jangan diam.
Ayo bertindak.
Lakukan sekarang!

Mari kita ingatkan kembali pesan Rasulullah SAW kepada kita semua, sebuah pesan yang bersifat universal:

Manfaatkanlah 5 perkara sebelum 5 perkara.

Pertama, Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu;
Kedua, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu;
Ketiga, Masa kayamu sebelum datang masa miskinmu;
Keempat, Masa luangmu sebelum masa sibukmu;
Kelima, Hidupmu sebelum datang matimu.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here