Transfersal Politik Pasca Pilkada

Penulis Merupakan Salah Satu Pendiri Komunitas Diskusi URDOXA di Jogjakarta.

Oleh: Ernesto Lalong Teredi

Pemilihan bukan untuk memilih yang baik dan buruk, tetapi intinya ada transfersal politik dari rakyat kepada pemimpin. Transfersal politic bukan memberikan kedaulatan secara total melainkan lebih pada; rakyat punya demand atau tuntutan yang harus di jaga melalui artikulasi kebijakan oleh pemimpin.

Dalil dasar dari pemilihan yakni, memastikan warga negara memiliki agenda secara kontinu untuk di dorong secara kolektif. Sehingga tugas pemimpin yang menang adalah memastikan agenda tersebut untuk tetap hidup, dan di jawab dalam beragam diskursus kebijakan oleh pemerintah. Inilah dasar dari pemilihan, bukan hanya soal memilih yang terbaik dari yang terburuk.

Kuatnya Diskursus Liberal

Lantas, apakah ada diskursus semacam itu dalam dinamika politik demokrasi electoral kita selama belakangan ini? Untuk menjawab pertanyaan diatas, sebaiknya kita mengupas tradisi berpikir dan berpolitik kita di Indonesia.

Pemilihan di Indonesia selalu dalam tradisi liberalisme. Misalkan lahirnya semantic semacam, politik itu butuh dana yang besar, hingga pada kurangnya pemimpin yang bermoral, dan berintegritas. Inilah bahasa dominan dalam ruang politik kita selama belakangan ini.

Bahasa-bahasa yang di keluarkan dari mulut, para pakar, para akademis, dan warga yang hampir tak berbeda.
Sebenarnya tak menjadi soal jika pembicaraan diatas sengaja di dengungkan dalam ruang public. Tetapi apakah politik bisa di selesaikan oleh diri yang bermoral dan berintegritas? Hemat penulis sangat tidak memungkinkan. Karena politik dasarnya adalah kolektivitas. Dalam kolektivitas selalu ada pembicaraan mengenai interest setiap orang secara terus menerus.

Demokrasi telah menetapkan dirinya untuk selalu di isi secara kontinu. Artinya pemilihan yang menjadi derivative dari demokrasi juga harus di isi dengan adanya agenda bersama. Namun kita terlanjur membicarakan demokrasi hanya sebatas membicarakan pemimpin. Dengan kata lain hanya actor dan actor yang ada dalam percakapan politik kita di Indonesia.

Sangat sulit menentukan pemimpin yang baik dengan semantic semacam, integritas, moralis, atau lainnya. Kita sengaja di giring untuk membicarakan politik selalu melampaui kondisi berpikir kita. Padahal politik dalam bahasanya Badiou adalah perjuangan. Dia tidak selesai dengan kehadiran kaum moralis, namun dia harus di perjuangkan dengan secara terus menerus, melalui negosiasi, movement dan lain-lain.

Kendati demikian, kita terlanjur untuk menentukan pemimpin dalam semantic di atas. Alhasil, saling hujat pra dan pasca demokrasi electoral, kian memuncrat dalam sendi kehidupan politik. Satu rekayasa demokrasi electoral yang buruk, yang sedang di pamerkan. Dan ini akan menubuh dalam kehidupan masyarakat kita. Inilah yang menjengkelkan dalam demokrasi electoral kita di Indonesia.

Pasca adanya pemilihan langsung terhadap pemimpin, kita berada pada satu zona untuk menentukan pemimpin saja. Bukan menentukan adanya agenda bersama yang harus di dorong ke pemimpin. Politik kita telah mengutamakan dan mengedepankan kepada pemimpin semata, tanpa mendorong agenda bersama dengan rumusan dasar kepentingan konstituen.

Sejarah Sebagai Penuntun

Namun, apakah persoalan ini hadir begitu saja? hemat penulis tak ada yang hadir begitu saja di bawah kolong langit ini. Artinya peristiwa hari ini tidak terlepas dari genealogis politik kita dalam perjalanan bangsa. Dengan kata lain, tak ada yang netral yang terjadi hari ini, semua itu tidak terlepas dari pembentukan historys, dan kekuasaan.

Kita sedikit memeliki secerca hidup dalam state of hope, misalnya ketika Soekarno memimpin. Ada banyak bahasa yang sangat menggugah, misalnya, revolusi belum selesai. Seakan ini menjadi kata subversiv untuk memprofokasi masyarakat agar supaya terus mengisi kemerdekaan dengan segala cara.

Namun pada saat Soeharto memimpin, negara ini telah di rekayasa sedemikian rupa untuk mengikuti cara berpikir negara. Politik moral, integritas telah mulai di bicarakan disana. Namun agenda soal kolektivitas mengalami kekosongan.

Bahasa politik kita sudah carut marut, misalnya pancasila final, dengan menghadirkan P4 dan sebagainya. Ini semacam panoptikon dalam pemikiran Foucault, yang mengawal masyarakat untuk berpikir mengikuti tradisi rezim sendiri.

Lalu 1998 dengan muncul reformasi. Ini merupakan moment menjatuhkan Soeharto, namun lagi-lagi Bahasa politik kita sengaja tidak di fokuskan ke satu titik. Setiap orang berbondong-bondong megikuti patron dengan satu isu. Hal ini sengaja di lakukan, sehingga setiap particular yang ada dalam masyarakat sengaja di benturkan.

Tak ada satu penanda sentral atau dalam bahsa Laclau nodal point untuk dijadikan roh perjuangan dalam bangsa ini. Inilah demokrasi electoral kita selama ini, yakni setiap orang sengaja di fokuskan dengan arah yang berbeda. Tanpa merumuskan kepentingan konstituen secara serius.
Demokrasi electoral bisa di lumat oleh pikiran yang kerdil dengan kuatnya egosentris yang ada.

Implikas dari sejarah ini seakan menuntun kita untuk berpolitik sampai hari ini. Tak ada mimpi mengenai agenda bersama. Kepentingan umum hanya menjadi bahasa untuk public, sementara di belakangnya semacam ada transaksi politik dalam kegelapan.

Pemilihan hanya menjadi rutinitas selama setiap periode. Setiap rezim berupaya untuk menunjukan data peningkatan selama memimpin. Public sebenarnya tak butuh tolok ukur kesuksesan selama memimpin. Karena itu hanya cara untuk menyampaikan arogansi rezim ke public.

Pemilihan telah menjadi tradisi dalam demokrasi kita untuk menghakimi kata “kami” dan “mereka”. Inilah tradisi demokrasi kita. Berpolitik berarti saling menjegal, karena tidak ada keterbukaan dalam merumuskan kepentingan bersama. Setiap kelompok berupaya untuk menunjukan yang terbaik, tanpa membuka diri.

Sejarah politik telah menghantarkan kita sampai tahap ini. Namun satu yang pasti, waktu dan zaman saja yang berubah, cara berpikir, masih ada dalam tradisi lama itu sendiri. Tak salah, jika demokrasi electoral membuat kita saling menyikut satu sama lain, membuktikan yang terbaik, lalu lupa agenda dasar. Karena sangking tingginya menceritakan kehebatan diri, namun lupa menyimpulkan perbedaan yang ada.

Strategi: Transfersal Politic

Strategi mengatasi persoalan ini memang tak mudah. Namun kita harus memiliki harapan untuk memiliki satu strategi khusus. Transfersal politic merupakan kosa kata yang berlandaskan cinta kasih, artinya memberi segalanya untuk umum. Dengan kata lain, perjuangan politik harus memberikan diri pada yang lain. Lantas bagaimana dalam demokrasi seperti ini?

Jujur saja, dibelahan daerah, masih ada suara-suara pinggiran yang sebenarnya suara ratapan, namun sering di abaikan public. Suara ini lahir dari orang-orang yang serius memberikan dirinya kepada yang lain, misalnya aktivis yang suka mengadvokasi masyarakat tertindas. Mereka telah mentransfer nilai politik kepada masyarakat untuk sama-sama menyuarakan kepentingannya.

Di sisi lain, penting untuk menggerakan masyarakat supaya merebut ruang demokrasi. Seperti bahasa Max Lane, yang utama dalam negara ini adalah, mengorganisir dan menggerakan masyarakat secara kontinu. Menggerakan berarti memberikan diri, mentransferkan nila politik. Namun dalam menggerakan ini maka rakyat harus merebut ruang untuk bernegosiasi dengan kekuasaan supaya merumuskan kepentingannya.

Kedaulatan ada pada rakyat, daulat tidak bisa diberikan kepada pemimpin atau kekuasaan, namun dia hanya sebatas transfer nilainya. Nilai ini berwujud dalam wajah, hak dan kewajiban. Rakyat telah menentukan haknya untuk memberikan diri mengikuti pemilihan. Tugas pemimpin adalah, menjawab pemberian diri rakyat dengan kebijakan. Inilah transfersal politik.

Penulis Adalah Mahasiswa Ilmu Pemerintahan STPMD “APMD”, Yogyakarta.

Nota Politik

Tulisan ini merupakan satu refleksi penulis mengenai demokrasi electoral kita. Namun soal bahasa transfersal politic ini, pertama kali saya mendengarkannya dari seorang abang, yang juga seorang akademisi. Kita sering membicarakan soal konsep transfersal politic ini, dengan basis pemikiran dari Yesus, yakni memberikan diri kepada yang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here