Launching SIG Kopi Arabika Manggarai, Momentum Kebangkitan Petani Kopi di Manggarai Raya

RUTENG, Kastra.co – Organisasi Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Kopi Arabika Flores Manggarai (MPIG-KAFM) melaksanakan launching Sertifikat Indikasi Geografis – Kopi Arabika Flores Manggarai (SIG-KAFM), Kamis (31/5/2018) di Ruteng.

Permohonan Perlindungan Indikasi Geografis kopi Arabika Flores Manggarai diajukan oleh masyarakat yang bergabung dalam Organisasi Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Kopi Arabika Flores Manggarai (MPIG-KAFM).

Di tingkat internasional, perlindungan sistem IG tertuang dalam norma Persetujuan Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs). Sementara di Indonesia, IG diatur dalam UU Merek No. 15 Tahun 2001 Pasal 56 ayat (1).

Perwakilan dari Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kemenkumham, Idris, menjelaskan bahwa Indikasi Geografis merupakan sertifikasi yang dilindungi hukum.

”Pada dasarnya IG adalah sebuah sertifikasi dilindungi undang-undang yang diberikan pada produk tertentu yang sesuai dengan lokasi geografis tertentu atau asal (seperti kota, wilayah, atau negara). IG mengakui produk dengan kualitas tertentu, dibuat sesuai dengan metode tradisional, atau menikmati reputasi tertentu dan atribut wilayah tertentu,” kata dia.

Produk-produk tersebut umumnya berupa produk tradisional yang dihasilkan masyarakat pedesaan dari generasi ke genarasi. Produk ini bahkan telah dikenal luas di pasar karena kualitasnya spesial.

“Contoh kasus terkait IG di Indonesia adalah Kopi Gayo Aceh. Merek ini seharusnya merujuk pada Kopi yang dihasilkan di Aceh dan dibudidayakan dengan cara atau metode tertentu. Namun karena belum ada aturan jelas beberapa waktu yang lalu di luar Negeri beredar kemasan Kopi Gayo begitu saja,” jelas Idris.

Ia menegaskan, hasil bumi Indonesia yang begitu melimpah dan beragam perlu untuk dilindungi. Terutama produk yang memiliki ciri khas karena faktor alam, lingkungan geografis, manusia, atau kombinasi dari berbagai faktor tersebut menunjukkan karakter daerah asal tempat produk dihasilkan.

”Saat ini ada 35 produk IG Indonesia yang didaftarkan ke DJKI. Diantaranya Kopi Arabika Kintamani Bali, Pala Tapaktuan Aceh, Pala Fakfak Papua, Garam Laut Amed Bali, Beras Adan Krayan, Kopi Arabika Flores Bajawa, Tenun Ikat Sikka, dan lainnya. Info produk bisa diakses di www.dgip.go.id dengan menu Indikasi Geografis,” imbuhnya.

Sertifikasi indikasi geografis bertujuan untuk meningkatkan daya saing produk pertanian. Yakni dengan menjual keunikan dari citra rasa produk pertanian yang dihasilkan suatu daerah dan tidak dimiliki daerah lain. Selain produk pertanian, hasil olahan produk pertanian, kerajinan tangan dan hasil tambang bisa didaftarkan sebagai indikasi geografis. Yang penting memiliki keunikan dan originalitas.

Pada tempat yang sama Bupati Manggarai, Deno Kamelus yang didampingi wakil Bupati Manggarai Barat, Ketua DPRD Manggarai Timur menyatakan kegembiraan sebab momentum ini adalah satu era baru yaitu era kebangkitan para petani kopi dalam wilayah Manggarai.

“Pemerintah dan rakyat Kabupaten Manggarai menyambut gembira launching SIG-KAFM membangkitkan kesadaran bersama tentang peran petani dalam roda pembangungan dan ini adalah era kebangkitan petani. Petani kopi dalam wilayah ini sudah sejak lama melalui berbagai kebijakan/kearifan lokal berkontribusi penting melahirkan kopi dengan citarasa khas. Menjadi semakin menarik karena kreatifitas dan inobasi mereka yang akirnya melahirkan SIG – KAFM,” katanya.

Lebih lanjut Bupati Deno berharap “dengan diterimanya SIG – KAFM maka insntasi terkait dapat melakukan pendampingan yang baik dan perhatian yang serius, sebab dengan ini tanah Manggarai semakin dikenal dan petaninya akan menerima dampak ekonomi yang positif.” (CBN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here